Bagian 4

962 Kata
*** "Gala." Mendapati sebuah nama di layar ponsel, seorang gadis yang sejak beberapa menit lalu menunggu di jok depan mobilnya, dengan segera membenarkan posisi duduk. Bukan Sienna, dia adalah Syakilla Aubrie Andaresta—perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang kini berstatus sebagai kekasih seorang Galanio. Mengenal sang kekasih sejak masa kuliah, Syakilla dan Galanio baru menjalani hubungan selama satu tahun. Bertemu di toko bunga milik sahabatnya, Sienna, Syakilla dan Galanio berpacaran layaknya muda-mudi pada umumnya, dan kemarin hubungan mereka kebetulan sedang mengalami problem karena sebuah kesalahpahaman. "Halo, Gal, gimana? Kamu udah di mana sekarang?" tanya Syakilla. Mobilnya bermasalah, beberapa waktu ke belakang Syakilla memang meminta pacarnya itu untuk menjemput di kampus tempatnya menuntut ilmu. Berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit, Syakilla sedang menempuh pendidikan spesialis sehingga hampir setiap hari—setelah bekerja, dirinya melanjutkan kegiatan dengan pergi berkuliah. "Sayang, aku mendadak diajak ketemu klien nih. Jadi kayanya enggak bisa jemput kamu. Enggak apa-apa, kan?" tanya Galanio—membuat raut wajah Syakilla seketika berubah. "Kalau kamu enggak keberatan, sopirku jemput kamu di sana. Kebetulan barusan udah aku minta beliau buat otw ke kampus." "Enggak bisa banget?" tanya Syakilla. "Kita baru damai tadi siang lho, Gal. Bisa-bisanya malam ini kamu udah bikin aku kesal lagi." "Aku minta maaf banget, Kill, ini mendadak," ucap Galanio. "Kalau enggak ditemuin, aku juga enggak enak. Please, jangan marah ya. Sebagai gantinya, besok aku bawain makan siang deh ke rumah sakit." Tidak memberi jawaban, Syakilla diam dengan raut wajah cemberut—membuat Galanio yang masih terhubung dengannya di telepon, kembali bicara. "Syakilla?" "Harusnya kamu enggak asal kirimin sopir kalau enggak bisa, biar aku pulang sama Sienna aja," ucap Syakilla. "Dia pasti mau kalau aku minta buat jemput." "Sienna?" "Iya," ucap Syakilla. "Jam segini dia pasti lagi siap-siap pulang dari toko bunganya. Jadi bisa tuh aku minta jemput." "Oh, udah sama sopir aja biar aman," ucap Galanio. "Sienna mungkin lagi sibuk. Lagipula kamu jangan terlalu apa-apa ke dia. Di depan kamu, Sienna mungkin fine-fine aja, tapi di belakang kan kita enggak tahu." "Sienna bukan orang kaya gitu kok," ucap Syakilla. "Aku kenal dia sejak zaman maba, dan aku tahu gimana sifat dan sikapnya." "Iya, sayang, tapi kan tetap aja kamu enggak boleh terlalu bergantung sama dia," ucap Galanio. "Bergantungnya cukup sama aku aja." "Ck, apa sih?" tanya Syakilla. "Aku sama Sienna tuh sahabat bagai kepompong. Kita udah tahu satu sama lain." "Kamu tuh kalau dikasih tahu." "Ya kamu nyebelin," ucap Syakilla. "Kamu ngomongnya kaya Sienna suka ngomongin aku di belakang. Padahal, aku yakin enggak gitu soalnya selain sama aku, dia enggak punya sahabat dekat lagi. Kamu enggak lupa, kan, cerita aku soal Sienna waktu kita pertama kenal?" "Iya, aku enggak lupa." "Ya udah kalau gitu jangan berpikiran macam-macam tentang Sienna," ucap Syakilla. "Aku enggak suka." "Oke, aku minta maaf," ucap Galanio. "Sekarang kamu tunggu di mobil, oke? Enggak lama lagi sopir aku datang. Nanti kalau bisa langsung pulang. Habis kerja terus ngampus, kamu pasti capek." "Iya," jawab Syakilla. "Kamu juga jangan malam-malam pulangnya. Habis ketemu klien, langsung pulang. Jangan kelayaban." "Siap, Princess." Syakilla tersenyum miring. "Ck, Gombal." Selanjutnya sambungan telepon terputus. Tidak terlalu sebal, Syakilla menunggu dengan perasaan yang baik sementara di sana, Galanio berniat untuk kembali masuk. Tidak di ruang tengah, dia menghubungi Syakilla di balkon apartemen agar tidak didengar Sienna mau pun Gilang. "Kamu," panggil Galanio, sedikit tersentak setelah di ambang pintu dia mendapati Sienna. "Sejak kapan kamu di situ? Sengaja nguping ya?" "Enggak," ucap Sienna. "Aku ke sini karena diminta sama Mas Gilang. Dia mau pulang katanya. Jadi kamu disuruh masuk dulu buat ngobrol sebentar." "Ngobrolin apalagi?" tanya Galanio." "Aku enggak tahu," ucap Sienna. "Temuin aja dulu. Aku enggak akan biarin Mas gilang macam-macam kok, kamu tenang aja." Tidak menimpali, Galanio melangkah dengan niat; masuk ke dalam rumah. Tidak ada orang lain selain Gilang, di sofa ruang tengah hanya ada pria itu sehingga—diikuti Sienna, dia mengambil posisi di salah satu sofa. "Sienna bilang Mas mau bicara sama saya sebelum pulang. Apa yang mau Mas bicarakan?" tanya Galanio tanpa basa-basi. "Rencana kamu ke depannya," kata Gilang. "Sienna bilang kalau seandainya dia hamil, kamu mau meresmikan pernikahan kalian. Apa itu benar?" "Benar, Mas," ucap Galanio. "Kalau karena perbuatan saya kemarin malam, Sienna hamil. Saya akan menikahi dia secara resmi, tapi setelah bayinya lahir." "Oke." "Cuman kalau dalam sebulan pernikahan, Sienna enggak hamil, saya dan dia sepakat buat berpisah, Mas," ucap Galanio. "Saya enggak punya tanggungan kan kalau Sienna enggak hamil. Jadi—" "Keperawanan dia apa kabar?" tanya Gilang. "Kamu sudah ambil itu dan katanya kamu mau pisah kalau dia enggak hamil. Sienna bagaimana ke depannya? Di kondisi yang udah enggak gadis, menurut kamu apa ada yang mau sama Sienna." Galanio tidak menjawab, karena jujur dia bingung dengan kalimat apa yang harus dilontarkannya. "Itu biar jadi urusanku, Mas," ucap Sienna. "Aku kan punya titik salah. Jadi kalau seandainya aku enggak hamil, ya udah. Gala enggak ada kewajiban lagi buat tanggung jawab." "Kamu udah enggak gadis, Sienna, sementara buat dapat pasangan yang setara, kamu harus gadis," ucap Gilang. "Mas kaya gini karena mikirin kamu." "Iya, tap—" "Kalau begitu kondisinya, saya akan bantu Sienna untuk mendapatkan pasangan, Mas," ucap Galanio. "Dan saya janji, pasangan untuk Sienna adalah orang yang baik." "Bisa saya pegang janji kamu?" "Sangat bisa." Gilang tersenyum tipis. "Tapi sayangnya saya enggak sepercaya itu sama kamu." "Mas ...," panggil Sienna yang diabaikan oleh gilang. "Saya baru percaya kalau kamu bersedia menandatangani surat perjanjian yang akan saya buat," kata Gilang. "Di sana, saya akan memasukan beberapa poin, dan kamu harus tanda tangani. Kalau kamu melanggar, saya akan bawa kamu ke pengadilan. Bisa?" "Mas," panggil Sienna lagi. "Kamu diam dulu, Sienna, ini urusan Mas sama Gala," ucap Gilang. Menatap Galanio intens, dia bertanya, "Gimana, Gala? Kamu bisa enggak lakuin apa yang saya minta?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN