***
Galanio tidak berkutik, ketika Gilang memintanya untuk menyetujui surat perjanjian yang akan kakak kandung Sienna itu buat.
Enggan mencari masalah setelah sebelumnya dia membuat kekacauan besar, Galanio patuh sehingga dalam dua hari, surat perjanjian katanya akan selesai.
Tidak hanya surat perjanjian, Galanio juga sudah mengurus sewa unit apartemen di samping Sienna, karena meskipun akan tinggal bersama perempuan itu, dia tetap harus memiliki unit agar tidak membuat keluarganya curiga.
"Aku harus kasih tahu Sienna biar dia enggak penasaran," ucap Galanio, setelah hampir setengah jam lalu dia mendapat kabar tentang selesainya urusan sewa unit.
Meskipun semalam barusaja menikah, hari ini Galanio bekerja seperti biasa. Tentang kepindahannya mulai nanti malam, dia juga sudah berbicara dengan kedua orang tuanya. Tidak ada kecurigaan, Galanio mendapat izin dengan mudah sehingga nanti siang dia hanya tinggal membicarakan semuanya pada Syakilla.
"Halo," sapa Sienna, setelah panggilan terhubung.
Meskipun sudah resmi menjadi suami istri, hubungan Galanio dan perempuan itu masih sama seperti sebelumnya—bahkan di hari ini saja, Galanio dan Sienna belum berkomunikasi lewat apa pun.
"Kamu sedang sibuk?" tanya Galanio, yang tentunya cukup tahu pekerjaan Sienna.
Bukan dokter seperti Syakilla atau pekerja kantoran seperti dirinya, Sienna mendirikan usaha sendiri yaitu; toko bunga. Entah apa yang membuat perempuan itu membuka usaha di bidang tersebut, Galanio tidak tahu karena memang hubungan mereka tidak terlalu dekat.
"Enggak, kenapa?" tanya Sienna—membuat Galanio mengernyit.
Bukan karena pertanyaan yang perempuan itu lontarkan, respon tersebut dia tunjukan setelah menyadari suara berbeda istrinya itu.
"Kamu lagi nangis?"
"Nangis?" Sienna bertanya balik. "Enggak. Kata siapa aku nangis?"
"Suara kamu agak getar dan biasanya itu terjadi pas nangis," ucap Galanio. "Jujur saja. Meskipun siri, saya tetap suami kamu."
Tidak ada jawaban, yang Galanio dengar justru hening—membuat dia khawatir sekaligus penasaran.
"Sienna?"
"Aku merasa bersalah sama Syakilla, Gal," jawab Sienna, sambil terisak. "Sebelum kamu telepon aku, dia telepon buat nanyain kabar, karena aku katanya enggak ada chat dari kemarin."
"Terus?"
"Syakilla cerita soal kamu," ucap Sienna, masih disertai isakkan. "Katanya dia sama kamu udah baikan, dan dia senang. Enggak cuman itu, Syakilla juga bilang makasih ke aku karena udah mau jemput kamu di club. Aku ngerasa jahat banget, Gal. Aku bohongin Syakilla bahkan aku nikah sama pacarnya. Aku ngerasa jadi teman yang buruk."
Galanio tidak langsung memberi respon. Tidak hanya Sienna, dia pun merasa bersalah karena sudah mengkhianati Syakilla dengan menikahi perempuan yang tidak lain adalah sahabat kekasihnya itu.
Namun, Galanio tidak punya pilihan karena apa yang dia lakukan sudah sangat merugikan Sienna. Dari kecil, dirinya sudah dididik untuk bertanggungjawab pada setiap perbuatan yang dia lakukan, sehingga ketika tahu dirinya sudah meniduri bahkan merenggut kesucian Sienna, Galanio tidak berani lepas tangan.
"Syakilla satu-satunya sahabat yang aku punya, tapi di belakang dia, aku justru nusuk dia dari belakang," ucap Sienna lagi, setelah beberapa detik hening. "Jahat banget aku, Gal."
"Kamu mau pun saya enggak jahat, Sienna, karena semuanya terjadi tanpa sengaja," ucap Galanio. "Ini takdir, dan kita enggak bisa menolak itu."
"Bisa, Gal," ucap Sienna. "Kita bisa menolak takdir itu, atau lebih tepatnya aku bisa menghindar."
"Maksud kamu?"
"Seperti yang pernah kamu bilang, aku seharusnya enggak ngeiyain pas Syakilla minta aku jemput kamu," ucap Sienna. "Aku harusnya nolak karena kalau waktu itu aku enggak nemuin kamu, semuanya enggak akan terjadi."
"Sienna, udahlah," ucap Galanio. "Enggak ada gunanya juga menyesali semua. Waktu enggak bisa diulang."
"Aku tahu, tap—"
"Cukup jangan hamil," ucap Galanio—sebelum Sienna menyelesaikan ucapannya. "Itu yang bisa kamu lakuin kalau memang kamu sayang sama Syakilla, karena kalau kamu enggak hamil, kita bisa pisah lalu aku pun bisa kembali ke Syakilla sepenuhnya."
Hening.
Selanjutnya itulah yang Galanio dengar, hingga tidak berselang lama sebuah tanya dilontarkan Sienna.
"Gimana caranya?" tanya Sienna. "Aku enggak tahu cara mencegah kehamilan."
"Coba kamu cari di internet," ucap Galanio. "Di sana biasanya ada cara-cara buat mencegah kehamilan."
"Oke, aku akan coba cari," ucap Sienna.
"Hm." Galanio bergumam pelan sebagai respon.
Hati kecilnya sedikit merasa bersalah karena sudah memberi saran tersebut pada Sienna. Namun, tidak munafik, Galanio tidak menginginkan kehamilan perempuan itu karena jika sampai hal tersebut terjadi, hubungannya dengan Syakilla akan kandas.
Tidak hanya itu, dia juga pasti akan menerima amarah dari Raffasya—sang ayah, karena sudah ketahuan menghamili seorang perempuan di luar nikah.
Ah, membayangkan itu semua, Galanio sudah pusing sendiri.
"Sebelum nanyain keadaan aku, kamu mau bicarain apa?" tanya Sienna. "Aku yakin kamu punya tujuan pas telepon aku."
"Aku cuman mau kasih tahu kalau aku udah sewa unit di sebelah kamu. Jadi nanti malam kita bisa tinggal bersama seperti apa yang Mas kamu mau," ucap Galanio. "Tapi baju-bajuku mungkin enggak akan semua di unit kamu, karena tentang aku yang pindah ke apartemen, Sienna bakalan dikasih tahu. Jadi kamu ngertilah apa yang harus aku lakuin."
"Iya, aku tahu," ucap Sienna. "Nanti pas jam makan siang, aku pulang dulu ke apartemen buat siapin kamar. Kamu suka seprai apa? Biar aku siapin."
"Sebelum aku jawab, kamu tahu kan kalau aku bakalan tidur di kamar tamu?" tanya Galanio.
"Iya, aku tahu. Makanya aku mau rapihin kamar karena kamarku udah rapi."
"Baguslah kalau kamu paham," ucap Galanio. "Setelah ini—sampai jam dua siang, jangan chat atau telepon aku karena aku mau samperin Syakilla ke rumah sakit. Aku enggak mau dia curiga."
"Iya, Gala," ucap Sienna.
"Kamu juga jangan sedih terus dan jangan lupa makan," ucap Galanio. "Ada apa-apa sama kamu, Mas Gilang pasti nyalahin aku."
"Iya."
Tidak ada obrolan panjang, Galanio menyudahi panggilan. Menyimpan ponsel kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dia menghela napas kasar.
"Sikapku ke Sienna enggak keterlaluan, kan?" tanya Galanio. "Dia sekarang istriku, tapi gimana pun juga cintaku cuman buat Syakilla. Jadi rasanya salah kalau aku terlalu baik sama dia."