"Saat kebohongan paling besar terbongkar, yang tersisa bukanlah kebenaran, tetapi luka bakar yang membuatmu tak lagi percaya pada wajah yang pernah tersenyum padamu."- Mahardika Matahari Saputra Mahardika dan Ghea tidak menghabiskan reuni mereka dengan keromantisan biasa. Setelah pelukan erat di lapangan Wonosobo, mereka langsung menuju safehouse yang disiapkan Aliando—sebuah vila sederhana dan terpencil di lereng Dieng, jauh di atas rumah dinas Kajari. Di sana, Aliando dan Fatma sudah menunggu. "Dika, kita tidak punya waktu," Ghea memulai, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan. "Putusan Praperadilan adalah besok pagi. Aku harus memenangkan ini untuk menjaga reputasi Papaku dan integritas Kejaksaan." Mahardika meletakkan tas ransel berisi file Bom Pramana di meja kayu. "Kita

