DEVAN POV :
Hari begitu cerah. Tetapi tidak dengan suasana hatiku. Hari ini aku sudah berjanji kepada papa bahwa aku akan mengikuti fanmeet lagi. Hanya hari ini, setelah itu besok dan seterusnya aku akan menghabiskan waktuku bersama Sakura. Sampai kami betul-betul bahagia. Waktu itu akan lama. Kuharap.
“Mari berangkat!” kata manajerku menyuruh bodyguard mengangkat barang ke mobil. “Apa akan ada banyak orang lagi?” tanyaku saat kami dalam perjalanan.
“Ya, lebih banyak dari kemarin.” Aku menghela napas pelan.
Mengapa mereka semua melakukan ini? Apakah semua penggemar hanya melihat wajah dari idola mereka. Bukankah lebih baik ketika mereka tahu bahwa keseharianku begitu sulit dan bertambah sulit saat mereka ada. Apa yang harus kulakukan? Memberitahu mereka semua bahwa aku hanya bersandiwara. Tetapi… mengingat kata Sakura kemarin semua orang telah menipu orang lain. Ah sudahlah, kalau terlalu banyak mengeluh aku bisa gila. Lagipun hanya sehari.
Saat aku turun dari mobil, semua orang terlihat berdesak-desakan. Mereka semua terlihat seperti menerima sembako dari rajanya. Ya, aku rajanya. Hanya seja aku dan raja berbeda, saat raja telah membagikan sembakonya semua orang akan pergi, pulang ke rumahnya. Sedang aku, akulah sembakonya. Jadi kesimpulannya aku bukan raja.
“Aku mencintaimuuu…” “Tolong Nikahi aku….”
“Maukah kamu jadi ayah dari anak-anakku?”
Teriakan itu membuat saraf-saraf di kepalaku tersumbat. But at the same time, aku juga harus tersenyum, melambaikan tangan dan berpura-pura seolah aku menginginkan keberadaan mereka. Ini mungkin akan jadi hari yang paling panjang dalam hidupku.
Setelah tiba, aku akhirnya duduk. Dihadapanku adalah meja ukuran dua meter. Sedang didepannya lagi ada sebuah kursi. Di kursi itulah penggemar akan duduk satu per satu. Waktu setiap orang hanyalah dua menit dikali dengan dua ratus lima puluh penggemar jadi aku menghabiskan duduk disini sekitar delapan jam bulatkan menjadi sepuluh jam dengan istirahat dan interval waktu antara penggemar satu dengan penggemar yang lain.
Penggemar pertama datang, dia membawa sebuah bando kelinci. Lalu aku tersenyum menyuruhnya menaruh bando itu di kepalaku. Itu yang pasti diinginkannya.
“Kakak suka kelinci kan?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Aku juga suka makan wortel kau tahu?”
“Ah manisnya…” perempuan dihadapanku lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Pipinya terlihat memerah.
Ketika waktunya habis dia akhirnya meninggalkan tempat bersamaan dengan aku yang merenggangkan seluruh badan.
Cahaya blitz kamera telah menyinariku membuatku merasa tak nyaman. Ditambah dengan suaranya yang khas. Masih ada seratus penggemar lagi. Aku mendengus kesal.
Komplikasi dari segala permasalahan ini adalah Sakura. Dia tidak bisa dihubungi dari tadi pagi dan itu membuatku khawatir. Apa dia terbaring di rumah karena sakit atau dia sedang sibuk belajar di sekolah karena sebentar lagi olimpiade?
Salah satu hal yang bisa kulakukan sekarang adalah menghubungi Arabelle atau Carolina. Namun kali ini Arabelle lah yang lebih beruntung karena dia mengangkat teleponnya lebih dulu.
"Ada apa Dev?' tanya perempuan di seberang sana.
"Aku ingin meminta tolong. Saat ini aku masih sibuk. Bisakah kamu membantu Sakura.
Dia tidak mengangkat teleponnya.
“Benarkah? Dia ada di perpustakaan sekarang. Aku akan pergi melihatnya.”
“Terimakasih Arabelle,” balasku berbisik. Lalu memberikan handphone-ku kepada manajer kembali saat melihat penggemar berikutnya sudah duduk tepat dihadapan.
“Apa rumor itu benar?" tanya perempuan dihadapanku.
"Ngg?" Mataku membulat sempurna. Meyakinkan bahwa pertanyaan yang kudengar saat ini tidaklah salah.
"Aku sangat menyukai kak Devan. Tetapi, buat apa kalau kak Devan menyukai orang lain."
Dia gila. Perempuan dihadapanku betul-betul gila. Kalau aku memang menyukai Sakura apa dia harus betul-betul bertanya kepadaku? Aku bahkan tidak mengenalnya, tetapi mengapa dia bertingkah seolah-olah dia penting dalam hidupku.
"Kami hanya teman."
"Teman? Tidak ada yang namanya teman kalau kak Devan sudah menggendongnya ke sekolah."
"DIAMLAH! Kamu terlalu banyak bicara kau tahu." Aku menatap perempuan dihadapanku tajam. Manajer dan bodygurd lain diam membeku beberasa saat sebelum akhirnya melerai kami berdua dan membawa perempuan dihadapanku keluar.
"Hahaha... Aku tidak percaya kamu mengkhianatiku. Kamu tahu berapa banyak uang yang kukeluarkan karenamu?"
Suara perempuan itu akhirnya tenggelam. Dalam hati aku menggerutu, siapa yang menyuruhnya mengeluarkan uang? Tetapi disi lain aku juga merasa bersalah. Terkadang aku tidak bisa mengendalikan emosiku.
AUTHOR POV :
Kaki Sakura sakit. Bahkan hanya untuk sekedar mengangkat tongkat demi selangkah jalan dia harus berpikir dua kali. Bagaimana caranya? Sedang semua mata tertuju padanya sekarang. Perempuan itu lalu meraih ponsel dari saku bajunya lalu mengirim pesan singkat kepada Arabelle.
Setelah menunggu lama, akhirnya perempuan itu datang juga. Dia mempercepat langkahnya ketika melihat Sakura.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku lebih awal Ra? Aku mencarimu di perpustakaan." gumam Arabelle lalu memapah Sakura kembali ke kelas.
"Kalau tahu begitu aku akan bilang tadi. Entah mengapa kakiku tiba-tiba mati rasa."
Arabelle berusaha tersenyum dan berbasa-basi kepada perempuan di sebelahnya. Tetapi, matanya saat ini berkaca-kaca. Dia sudah tahu apa yang terjadi kepada Sakura. Devan menceritakannya membuat dia akhirnya mengerti. Kalau saja dia tidak tahu mungkin dia akan menjauhi Sakura dan itu adalah hal buruk baginya bila dia tahu kebenaran setelah berbuat jahat.
"Kakimu mungkin terlalu lelah berpikir Ra. Makanya lain kali jangan membuat semua tubuhmu berpikir." Arabelle berusaha membuat gurauan seperti biasanya. Sandiwara belaka.
"Kamu pikir otakku di dengkul?" Celetuh Sakura menjadikan suasana tidak lagi canggung. Tetapi, Sakura menyadari tawa Arabelle terkesan terpaksa namun perempuan itu tidak ingin membahasnya. Dia hanya memikirkan tentang bagaimana dia bisa tiba di kelas dan merebahkan kepalanya yang terasa berdenyut juga. Hingga tiba-tiba saja kepalanya pening dan penglihatannya gelap. Dia pingsan.
*
Devan. Sosok yang Sakura lihat pertama kali ketika matanya terbuka. "A... Aku dimana Dev?" tanya perempuan itu parau.
"Di rumah sakit Ra. Kamu pingsan tadi," ujar Devan.
Sakura dengan sigap mendudukkan badannya. "Rumah sakit? Kalau begitu ayo kita pulang sekarang Dev. Mama mencariku lagi nanti." Sakura menurunkan kedua kakinya ke lantai namun dia merasakan ada yang tidak beres. Dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya membuatnya hampir saja terjatuh kalau Devan tidak menjulurkan tangannya.
Suasana hening. Arabelle di sudut ruangan hanya bisa menutupi wajahnya di balik tangannya itu air matanya betul-betul membasahi wajahnya. Dia tidak bisa melihat Sakura dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Kakiku kenapa Dev?"
Devan tersenyum. "Kamu terlalu kelelahan Ra. Lain kali aku akan bolos dari pemotretanku untukmu bagaimana?"
"TIDAK LUCU DEV! JAWAB AKU. KAKIKU KENAPA?"
Seketika hening. Ruangan diselimuti suasana menegangkan.
"Maafkan aku Dev, Arabelle. Aku tidak bisa mengontrol emosiku karena ini."
Arabelle menggeleng. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena masih terisak dalam tangisnya. "Tidak apa-apa Ra." Devan berusaha menghangatkan suasana. "Bagaimana kalau kita
melihat bintang di luar. Siapa tau itu bisa menenangkanmu." "Bintang? Bagaimana mungkin. Aku tidak bisa berjalan."
"Tenanglah." Devan menunjuk ke arah kursi roda. Sakura tersenyum.
Diatas kursi roda Sakura bisa merasakan indahnya langit malam. Jutaan bintang yang seolah menyambut, bulan yang seolah tersenyum kepadanya. Juga Devan, laki-laki itu berdiri tepat di belakang Sakura sambil memegang kursi roda membuat suasananya lebih berarti lagi.
"Bintang itu bersinar paling terang di langit Ra. Seperti dirimu," ujar Devan lalu menunjuk salah satu bintang di angkasa, bintang itu memang bersinar lebih terang disbanding bintang lainnya. "Bintang itu namanya bintang Sirius. Hanya saja umurnya cukup singkat," tambahnya. Hingga Devan merasa bersalah. Dia mengingatkan Sakura akan apa yang terjadi lagi.
Ini mungkin adalah saat yang tepat bagi mereka berdua mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, mereka lebih suka jika keadaan baik-baik saja, menganggap itu tidak terjadi, berharap waktu berjalan cukup lambat.
"Terima kasih Dev," kata Sakura spontan.
Hari-hari yang Sakura habiskan bersama Devan adalah hari-hari terbaik Sakura dalam hidupnya. Melihat langit siang di rooftop, langit senja di rumah pohon dan pantai. Serta terakhir, saat ini, melihat langit seolah merupakan penutupan dari segala hal-hal menyenangkan yang Sakura lakukan bersama Devan.
Air mata haru menjatuhi pipi perempuan itu. "Ini betul-betul indah."
Devan yang berada di belakangnya hanya bisa tersenyum kecil, laki-laki itu ikut terharu, namun kesedihan juga turut menghampirinya mengingat waktunya bersama Sakura betul-betul tinggal sebentar lagi. Ini bisa jadi malam yang terakhir, kapanpun ketika Tuhan berkehendak.
"Aku akan selalu ada bersamamu Ra. Selalu," ujar Devan membuat Sakura berbalik dan meraih tangan laki-laki dihadapannya.
"Ingat Dev, kamu harus terus melanjutkan hidup. Kupikir, Carolina sudah menunggumu terlalu lama. Terimakasih untuk segalanya Dev."
“Carolina? Perempuan itu akan selalu mengerti.” “Apa dia tahu sesuatu Dev?”
Tiba-tiba sosok Arabelle muncul, matanya terlihat sembab namun ada senyum yang terukir di wajahnya. “Aku membawakanmu jus stroberi Ra. Semoga kamu suka.”
“Arabelle…” panggil Sakura saat dia menerima jus stroberinya. “Ya?”
“Kamu selalu ada saat aku butuh. Kamu menjadi teman yang baik Arabelle. Kuharap kamu bisa menjadi psikolog terkenal seperti cita-citamu dulu. Kuharap, kamu selalu dalam perlindungan yang Maha Kuasa. Aku tidak tahu harus berkata apa selain… terimakasih.”
“Sudahlah Ra. Aku yang harusnya berterimakasih. Kamu sudah banyak membantuku. Kamu ingat, kalau saja kamu tidak memberiku kunci jawabanmu saat ulangan mungkin aku tidak akan naik kelas.”
“Kalau kamu tidak naik kelas bagaimana dengan dia?” Sakura menatap ke arah Devan.
“Aku? Hei… hei… kamu tidak tahu sebenarnya aku bisa menjadi peringkat satu kalau saja aku mau.”
Sakura memutar bola mata. Arabelle hanya tertawa kecil. Melihat tingkah mereka berdua membuatnya melupakan apa yang terjadi untuk sesaat.
“Tetapi lebih daripada itu, banyak pelajaran hidup yang kau berikan Ra,” tambah Arabelle.
Sakura tersenyum. “Kamu ingat saat liburan semester tahun lalu Arabelle? Entah mengapa aku ingin kesana lagi. Kita bisa memetik buah stroberi bersama, bermain di bukit teletubbies, juga memberi makan kambing.”
“Ya… kalau ada waktu kita bisa kesana lagi Ra.”
Sakura mengangguk lalu tersenyum kecut. Perempuan itu berpikir apa dia benar-benar akan punya waktu nanti.
Dibalik pembicaraan Sakura dan Arabelle, sebuah ide terlintas di pikiran Devan. Dia berharap Sakura bisa tersenyum lagi seperti malam ini. Shira tidak salah memberikan amanah kepada anaknya untuk membuat Sakura tersenyum. Karena semua yang dilakukannya selalu berhasil.
Besok, tanggal merah.