DEVAN POV :
Teramat pagi aku menghubungi Sakura. Berharap perempuan itu baik-baik saja hari ini. Karena aku akan membawanya keluar. Kalaupun terjadi sesuatu aku siap melindunginya. Sungguh. Aku hanya ingin dia tersenyum lagi hari ini.
“Ra, kamu baik-baik saja kan hari ini?” tanyaku kepada Sakura diseberang sana.
“Ya Dev, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Ini sebuah keajaiban kau tahu. Cepatlah kemari.”
Setelah itu, aku menggenggam erat handphone-ku. Aku ingin terlihat kuat dihadapannya dan membuatnya yakin bahwa kematian seperti yang dibayangkan orang-orang bukanlah hal yang mengerikan. Tetapi faktanya, setiap hal yang dilakukannya selalu membuatku cemas.
Aku meraih tas gunung segera, juga beberapa karpet dan perlengkapan piknik lainnya.
Sebelum pergi ke rumah Sakura, aku menjemput Arabelle di rumahnya. Dia bisa menjadi perubah suasana yang baik nanti.
“Apa kamu sudah memberitahu Sakura untuk membawa jaket?” “Sudah. Ayo… berangkat. Aku sudah tidak sabar Dev.” “Benarkah?” gumamku dengan nada meledek.
Arabele mengetuk kepalaku membuatku tidak lagi berbicara setelah itu. Dia perempuan beringas.
“Aku bukan Sakura Dev.”
AUTHOR POV :
Sakura tersenyum ketika melihat sosok Arabelle melambaikan tangannya. Kepalanya betul-betul keluar dari kaca jendela mobil.
“Naiklah Ra, kamu sudah menyiapkan yang kukatakan bukan?” tanya Arabelle. “Sudah, seperti yang kamu katakan Arabelle. Jaket dan kaos kaki bukan?”
“Tunggu dulu? Kamu sudah tidak pakai kursi roda lagi Ra?” sahut Devan. Dia terlihat senang melihat apa yang terjadi pada Sakura. Tuhan seperti menolongnya hari ini.
“Oh iya, aku lupa memberitahumu Devan,” tambah Arabelle.
Tiba-tiba saja Arabelle menarik tangan Sakura masuk ke dalam mobil membuat perempuan itu pasrah. Devan dengan cepat langsung tancap gas, sambil tertawa kecil.
“Kita mau kemana?” tanya Sakura di tengah perjalanan.
Arabelle mengangkat kedua bahu. “Entahlah, coba tanya Pak supir.”
“Pak supir? Hahahaha… kamu kasar sekali. Panggil aku Guide. Aku akan membawa kalian berkeliling.”
“Guide? Where we go Sir?”
Devan menelan ludah, Arabelle tertawa melihat ekspresi pria itu dari kaca spion dalam mobil. Dia tahu kalau Devan tidak pintar bahasa Inggris.
“Tolonglah Ra, kamu harusnya mengerti,” bisik Arabelle kepada Sakura sambil tertawa kecil.
Sakura terdiam beberapa saat sebelum akhirnya sadar. “Kalau mau jadi guide harusnya kamu belajar bahasa Inggris Dev. Bagaimana kalau nanti kamu jadi artis bertaraf Internasional. Belajarlah, kalau kamu tidak bisa ikut kursus ada banyak kamus di luar sana atau belajar online.”
Devan memutar bola mata. “Iya.. iya..”
“Jangan iya, iya saja Dev. Berjanjilah demi masa depanmu.” “Iya… aku janji.”
Arabelle bertepuk tangan kecil. Anggapannya terhadap Devan sebelumnya salah, dia menganggap Devan sebagai sosok yang individualis, dingin, keras kepala dan tidak bersahabat. Tetapi, melihat apa yang Sakura lakukan. Membuat Arabelle percaya bahwa Sakura adalah perempuan yang luar biasa. Dia masih ingat ketika bu Tuti menyuruh Sakura untuk merubah sikap Devan. Dia tidak percaya Sakura berhasil membuat Devan berubah. Tetapi, lihatlah apa yang terjadi sekarang, Devan terlihat seperti anak kucing.
Mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju. Devan berbalik lalu tersenyum ketika perempuan di belakangnya yang dari tadi berisik persoalan olimpiade, makanan, anak basket, bu Siska dan lainnya kini tertidur lelap.
Sakura terbangun saat sadar mobil berhenti. Perempuan itu juga ikut membangunkan perempuan di sebelahnya.
“Tunggu dulu, tempat ini…” Sakura mengucek kedua matanya setelah turun dari mobil. “Ini tempat study tour kita Arabelle.”
“Ya, Devan yang punya ide membawa kita kesini.”
Sakura lalu mengamati pria yang dikatakan Arabelle. Dia saat ini sedang memasang tenda dan juga menghamparkan karpet di depannya.
Bukit yang saat ini mereka tempati adalah bukit dengan hamparan rumput hijau dengan pohon-pohon yang punya jarak cukup jauh antara pohon yang satu dengan pohon lainnya. Di depan bukit itu ada peternakan kambing dan juga perkebunan buah-buahan seperti stroberi, apel hijau, juga jeruk. Suhu di tempat itu bahkan bisa mencapai 10 derajat celcius. Cahaya matahari tertutup awan membuat cuacanya cukup sejuk.
“Sudah selesai, ayolah bantu aku mebuat sandwich,” ujar Devan setelah mendirikan tenda, menghamparkan tikar di depannya juga menaruh meja kecil juga alat pembakar. Di meja itu terdapat beberapa bahan makanan untuk membuat sandwich seperti roti tawar, selada, tomat, daging sapi, juga saus.
Sakura dan Arabelle yang sedari tadi berjalan-jalan di hamparan rumput akhirnya menghampiri Devan.
“Apa sudah bermainnya? Ayolah, membuat sandwich bukan urusan lelaki bukan? Jadi sekarang buatkan aku cepat, guide tampan ini sedang kelaparan sekarang. Kalau aku kekurangan tenaga aku tidak akan membawa kalian pulang dan kita semua akan mati kediginan di bukit ini.”
“Sudah selesai bicaranya? Apa susahnya mengatakan kamu ingin makan sandwich dan meminta kami membuatkannya untukmu. Dasar,” celetuh Arebelle. Sakura hanya tertawa kecil. Sakura bahagia melihat mereka berdua bertengkar.
“Dasar, aku hanya menggodanya.”
“Oh begitu ya… Kalau itu maumu mengapa kamu mengajakku? Baguslah, untung ada aku disini. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat yang tidak-tidak kepada Sakura. Never!”
“Ha, berbuat apa? aku sudah terbiasa menggoda Sakura.”
“Sudah… sudah… kalau kalian bertengkar terus kapan kita membuat sandwich-nya?
Tetapi, pak Guide bisakah kamu membantuku membakar daging sapinya?” tanya Sakura.
“Siap Tuan!” Devan lekas berdiri. “Seperti itu jika ingin meminta tolong ke orang lain.” Devan maenatap ke arah Arabelle. Arabelle yang saat ini sedang memotong tomat lalu menjulurkan pisaunya membuat Devan menelan ludah.
Devan menunggu sapinya matang. Dia kembali bebaring namun matanya tiba-tiba terbuka ketika mendengar sebuah buku berjatuhan di sebelahnya.
“Pelajari itu selagi ada waktu luang Dev. Kamu tahu sebentar malam bu Tuti akan menyeleksi kalian secara online.”
Tubuh Devan seketika lemas ketika melihat bertumpuk buku dihadapannya. “Aku akan coba membaca soal-soal dasarnya saja.”
“Tunggu dulu… Devan ikut olimpiade Kimia? yang benar saja.”
“Ya, bu Tuti punya harapan besar kepadanya tetapi lihatlah dia Arabelle.” “Sungguh, dia sama sekali tidak punya harapan Ra.”
“Tidak ada harapan. Ohoo…. Ingat Arabelle, kalau aku mau aku bisa mengalahkan Sakura.
Hanya saja mengejar nilai bukan tipeku.”
“Benarkah? Kalau begitu cobalah seleksi olimpiade ini. Kita lihat apa kamu lulus atau tidak,” tantang Arabelle sambil menyilangkan tangannya.
Devan yang merasa tak terima akhirnya menyetujui untuk ikut seleksi. “Aku bahkan bisa lolos tanpa belajar. Cih, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku dalam mata pelajaran Kimia. Kamu tahu alasan bu Tuti memintaku? Karena dia tahu aku pandai dan dia merasa rugi kalau aku tidak ikut. Camkan itu, siapa… Arabelle.”
“Baiklah, kita lihat saja.” Devan mematikan alat pembakar lalu memberikan beef-nya yang telah matang kepada Sakura. Setelah itu dia kembali berbaring sambil membaca buku olimpide yang Sakura berikan.
Sakura hanya bisa menahan tawanya melihat apa yang Arabelle lakukan kepada Devan. Mereka berdua tahu kalau Devan adalah orang yang akan termakan pancingan bila ditantang. Laki- laki itu tidak pernah menolak dan bahkan akan melakukan hal diluar dugaan.
“Sandwich-nya sudah jadi….” Sakura menyuguhkan sandwich kepada Devan membuat laki-laki itu menyingkirkan semua buku dihadapannya.
“Sudah kuduga, memakan sandwich di cuaca dingin seperti ini sangat cocok.” Devan makan dengan lahapnya diikuti dua orang perempuan yang kini merapikan barang-barang yang berantakan.
“Setelah ini kita akan pergi memberi makan kambing. Bagaimana Ra?”
“Tetapi aku tidak bisa berjalan Dev. Dan satu hal lagi, aku tidak ingin kamu menggendongku.”
Devan tersenyum lalu berjalan ke mobil, dia mengeluarkan sebuah kursi roda. “Naiklah, aku akan mendorongmu.”
Arabelle mengedipkan matanya kepada Sakura. “Lihatlah Ra, dia bukan gudie biasa.”
“Hahaha…. dia memfasilitasiku dengan kelas VIP. Aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa,” gumam Sakura.
“Dengan kasih sayang,” Devan berusaha memancing emosi Arabelle dan benar saja, perempuan itu langsung mengambil alih apa yang Devan lakukan. Arabelle yang kini mendorong Sakura.
“Dasar c***l!” gerutu Arabelle. “Hei…”
Mereka akhirnya berjalan menuju ke tempat peternakan kambing. Seorang pengembala yang cukup ramah memberi ijin kepada mereka untuk memberi makan hewan ternaknya. Setelah itu memberi makan kambing mereka menuju ke kebun buah-buahan. Hampir sama, pemilik kebun juga ramah, orang-orang di pedesaan memang lebih ramah ketimbang orang di perkotaan yang cenderung individualis.
Arabelle meraih dua buah stroberi dan memberikannya satu buah kepada Sakura. “Stroberinya manis Ra.” Sakura mengangguk, dia tidak bisa berkata apa-apa karena betul-betul menikmatinya.
“Hei… guide, pastikan Tuan putri ini berjalan dengan aman. Kamu harus menyingkirkan semua batu-batu dan ranting yang ada. Paham?”
Devan memutar bola mata. Namun laki-laki itu tetap melakukan apa yang Arabelle perintahkan. “Doronglah kursi rodanya Arabelle, kita akan memetik buah apel. Cepat, sebelum kelelawar mendahului kita.”
“Kalian ini terlihat seperti saudara…” gumam Sakura yang sedari tadi menahan tawanya. “Saudara? Aku cukup tampan untuk menjadi saudaranya…”
“Jadi aku jelek begitu? Tanya Sakura sekarang, tidak ada yang mengalahkan kecantikanku di sekolah kecuali Carolina.”
Tiba-tiba suasana menjadi hening setelah nama Carolina disebut. Sakura berpikir bahwa dia dan Devan sudah terlalu dekat hingga melupakan keberadaan Carolina. Sedang Devan, dia tahu kalau Carolina adalah tunangannya dan apa yang akan terjadi di masa depan setelah orang bertunangan adalah… menikah.
“Makanlah buah apel ini Tuan Putri,” Devan meraih sebuah apel lalu menggosok apel itu di bajunya dan memberikannya kepada Sakura.
“Tunggu dulu…. Jangan asal makan Ra, siapa tau apelnya ada racun. Sini, aku harus memastikannya bahwa guide ini tidak meracunimu. Kamu bisa jadi puri salju di kisah snow white.”
“Lihatlah…. lihatlah teman dekatmu ini Sakura. Bisa-bisanya dia suudzon kepadaku. Tidakkah kamu ingin menyampaikan bahwa aku adalah seorang pangeran tampan yang diidam- idamkan semua perempuan di muka bumi ini?”
Sakura menggeleng. “Teruslah memuji dirimu sendiri Dev.”
“Hahaha… rasakan itu,” ledek Arabelle lalu mendorong kursi roda Sakura.
Sebelum mereka pulang, mereka terlebih dahulu mengamati hamparan pohon hijau di tepi bukit. Sakura tersenyum sambil menghirup napas dalam-dalam. “Hari ini sungguh menyenangkan.”
Arabelle mengangguk. Matanya terlihat berkaca-kaca, air matanya bisa tumpah kapan saja. Bukan persoalan bukit yang begitu indah. Tetapi mengingat Sakura yang tidak lama lagi akan meninggalkannya.
Disisi lain, Devan merasa bangga karena telah membuat perempuan itu tersenyum lagi hari ini. Namun, hatinya juga turut terluka. Hanya dia dan Tuhan yang tahu bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki itu kepada Sakura.
*
Arabelle terisak di dalam mobil beberapa saat setelah Sakura turun dari mobil, kembali ke rumahnya. Devan hanya bisa diam membeku.
“Sudahlah, kamu sudah melakukan yang terbaik Arabelle.”
“Ka.. kalau saja kamu tidak memberitahuku tentang apa yang Sakura alami, mungkin aku masih berpikir yang tidak-tidak tentang kalian. Dan kalau itu betul-betul terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diriku seumur hidup.” Arabelle menyeka air matanya. “Apa Carolina sudah tahu tentang apa yang Sakura alami, kudengar kalian bertunangan?”
“Ya, Carolina lebih dulu tahu. Dia selalu berhasil menahan dirinya.”
“Aku sangat berterimakasih kepadamu Dev. Kamu tahu bagaimana membuat Sakura bahagia di saat-saat terakhirnya.” Air mata Arabelle lagi-lagi membasahi pipinya.
Devan punya rencana besok. Sebelum Sakura pergi, Devan ingin menyampaikan perasaan yang sebenarnya. Perasaan yang telah lama dipendam.