DAY 20

1877 Kata
DEVAN POV : Hari ini, aku duduk di rumah pohon, memandangi langit seperti rutinitasku biasanya. Tetapi, semenjak ada Sakura. Aku kini tidak hanya tinggal di rumah pohon. Ada banyak tempat yang bisa kukunjungi, tanpa kusadari. Sakura menghampiri pikiranku sesaat, perempuan itu membuatku cemas dan bahagia secara bersamaan. Aku bahagia menjadi temannya, tetapi cemas jika penyakitnya merenggut segala hal dalam dirinya dan dia pergi sebelum aku mengungkapkan perasaanku. Ya, aku menyukainya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Tetapi bagaimana mungkin. * AUTHOR POV : Di kelas, mata Devan tidak pernah beralih. Laki-laki itu terus memandangi Sakura yang sedari tadi menunjukkan gerak-gerik aneh. Hingga darah keluar dari hidungnya. Devan spontan menarik tangan Sakura keluar kelas. Semua perempuan dalam ruangan hanya bisa terpaku iri melihat apa yang Devan lakukan. Meskipun mereka tidak tahu apa yang Sakura alami. Devan nampaknya telah menghipnotis mereka semua hingga tidak bisa berpaling. “Kalau kamu sakit. Lebih baik tinggal di rumah Ra, istirahat,” sahut Devan sembari membersihkan Darah di hidung Sakura menggunakan kemeja seragam sekolahnya. Mereka berdua saat ini berada di UKS. “Kamu harus pergi Dev, pelajaran akan dimulai,” ujar Sakura parau. Kemeja yang Devan pegang kini berpindah ke tangan Sakura membuat pria itu melepasnya. “Tidak bisa Ra. Kalau ada apa-apa—“ “Aku akan menghubungimu Dev. Jangan khawatir. Nyalakan saja HP-mu saat di kelas.” Devan akhirnya pasrah, dia menghela napas pelan. “Baiklah, janji Ra, kalau terjadi apa- apa segera hubungi aku.” Sakura mengangguk membuat Devan menyeret kakinya keluar dari ruangan itu dengan berat hati. Dia sesekali berbalik meyakinkan dirinya bahwa Sakura betul-betul baik-baik saja sendirian. Namun, pada akhirnya saat pelajaran dimulai Devan tidak fokus. Dia menyesal telah meninggalkan Sakura sendirian di UKS kalau tahu dia juga tidak akan mengerti tentang sesuatu di papan yang hanya berisi gambar organ aneh yang tidak dimengertinya. “Ada apa Dev?” tanya bu Siska. Guru muda yang sedari tadi menatap Devan lekat akhirnya mampu mengutarakan isi pikirannya. “Apa kamu butuh bantuan ibu?” Devan menggeleng. “Bisa aku ke toilet sebentar Bu?” “Toilet? Ibu tidak percaya. Kamu ingin bolos lagi kan di mata pelajaran ibu?” Devan memutar bola mata. Baru kali ini ada guru yang tidak mengijinkannya untuk ijin keluar. “Ya, ibu tahu kan? Karena itu biarkan aku keluar. Apa susahnya mengisi alpa di absen.” Setelah itu, Devan meraih tasnya. Dia meninggalkan kelas membuat bu Siska tersenyum kecut. Dia merasa bersalah karena membuat Devan pergi begitu saja namun disisi lain dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia mencintai muridnya sendiri. “Ada lagi yang mau keluar?” Tiba-tiba saja Carolina megangkat tangannya membuat semua mata kini tertuju kepadanya. Dia mengambil tasnya. Saat tepat berada di depan bu Siska perempuan itu membisikkan sesuatu. “Aku sudah muak dengan ini Bu. Apa ibu tidak sadar bahwa pandangan ibu sepanjang waktu saat pelajaran dimulai adalah Devan? Aku tahu ibu sama sepeti mereka. Ibu juga menyukainya kan? Tetapi tolonglah jangan saat jam pelajaran dimulai.” Langkah Carolina menimbulkan kehebohan. Semua anak kini berlari ke tepi jendela menatap kedua temannya yang berjalan di koridor. Ini kali pertama mereka menyaksikan ada siswa yang berani melawan guru sampai sejauh ini. Disisi lain, Andi tidak seperti yang lainnya. Dia tetap duduk di tempat sambil menatap bangku Devan yang penuh coretan tangan. “Kamu tetap bodoh!” pekiknya lalu tersenyum. “DUDUK SEMUANYA!” Teriakan bu Siska membuat semua kelas seketika hening. Semua orang kembali ke bangkunya masing-masing kurang dari sepuluh detik. “Kita lanjutkan pelajaran hari ini yah anak-anak,” ujar bu Siska sambil berusaha melengkungkan garis bibirnya ke atas. “Dev… tunggu…” Teriakan Carolina membuat Devan menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ada apa?” “Bagaimana keadaan Sakura di UKS?” Devan diam sejenak, berusaha menyembuntikan ekspresinya yang kebingungan. Bagaimana Carolina bisa tahu Sakura ada di UKS. “Jangan heran begitu Dev. Aku melihatnya mimisan tadi. Syukurlah kamu membawamya keluar segera.” Devan mengangguk. “Ya, aku khawatir. Aku juga merasa kasihan dengan bu Siska. Kalau saja dia tidak—“ “Sudah, jangan memikirkannya Dev. Aku yang akan menjelaskannya ke bu Siska.” “Terimakasih Carolina. Kalau kamu tidak keberatan apa kamu bisa membuatku pergi sekarang.” “Oh iya, tentu saja. Aku tidak akan menganggu kalian di UKS berdua. Kalau ada aku, Sakura akan merasa tidak enak. Jangan memikirkanku Dev, intinya sekarang tolong jaga Sakura.” Carolina tersenyum simpul lalu berlari kecil mendahului Devan. Saat Devan tiba di UKS, dia tidak menemukan perempuan yang ingin ditemuinya, yang ada hanya kemeja yang dipenuhi darah. Seketika dia langsung panik. Mencari-cari keberadaan Sakura di halaman sekolah, kantin juga perpustakaan. Namun, saat dia sudah kelelahan tiba-tiba saja Sakura berdiri dihadapannya. “Darimana saja kamu Ra?” tanya Devan sambil berusaha mengatur napasnya. “Dari WC. Apa pelajaran sudah berakhir?” Devan menggeleng. “Kamu bolos lagi Dev? Apa yang kamu lakukan.” Sakura menggeleng dan menepuk jidatnya bersamaan. “Lupakanlah Ra, bu Siska terus melihatku dalam kelas hingga membuat siswa lain tidak fokus. Aku harus mengorbankan diriku demi mereka. Hebatkan…” “Terserah Dev. Tetapi ingat, ini hari terakhir kamu bolos. Kasihan bu Siska. Aku sudah mendengarnya dari Carolina. Ingat Dev, dia seorang guru, kamu harus menghargainya.” “Iya… iya.” “Jangan Cuma iya… iya. Janji ya Dev.” Sakura menjulurkan jari kelingkingnya. Devan mengaitkan jarinya. “Ya… janji.” “Nah... gitu dong.” Suasana hening terjadi diantara mereka cukup lama. Hingga akhirnya Devan mengutarakan keinginannya. “Hmm… Ra, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” “Ya, katakan saja. Apa ini masalah pribadi, sampai kamu tidak bisa mengatakannya.” Devan menggeleng. “Bukan Ra, nanti malam aku ingin mengajakmu jalan-jalan bagaimana?” “Jalan-jalan? Ya, aku juga mulai baikan sekarang. Lagipun kalau kamu ada aku tidak perlu khawatir tentang keadaanku.” * Mata Devan tidak bisa beralih. Sakura kali ini mengenakan pakaian yang membuatnya tidak bisa berpaling. Ditambah dengan hijab yang dikenakannya. "Tundukkan pandanganmu Dev." Perkataan Sakura sontak membuat Devan terbangun dari lamunannya. "Ayo cepat. Keburu malam. Kamu sudah minta ijin sama mama?" Sakura mengangguk. "Hari ini, aku ingin menikmatinya. Kurasa kondisiku mulai fit hari ini. Lihatlah, aku bisa mengangkat tongkatku bebas." Devan memicingkan matanya. "Ya, sepertinya begitu. Ayo berangkat!" * "Nonton?" Sakura terkejut. Dia mengingat kalau lorong di mall ini tembus ke bioskop. "Ya, aku sudah pesan tiketnya." "Bukan film horor kan?" "Ya kali Ra. Filmnya romance." "Romance? Terserahlah. Bukan thriller juga kan? Kayak yang hari itu?” "Romance, Sakura Vanessa Rein." Devan menegaskan perkataannya. Sakura tersenyum lalu menyapu belakang lehernya. Filmnya sudah dimulai. Devan memegang tangan Sakura erat dan memberikan jalan yang aman agar perempuan itu tidak terjatuh karena tongkatnya, mereka menyusuri ruangan yang gelap berusaha mencari kursi. "Filmnya bagus ya Dev." Sakura menyeka air matanya saat di pertangahan film. Sayangnya, Devan tidak pernah melihat layar lebar dihadapannya. Matanya terus tertuju kepada Sakura. Berpikir tentang apa yang akan dilakukannya nanti. Setelah ke bioskop, mereka berdua menikmati gulali lalu pergi ke restoran Jepang. Devan tidak pernah menikmati waktu bersama Sakura. Pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar perasaannya tersampaikan kepada Sakura. Laki-laki itu kini membawa Sakura keluar dari bangunan yang berisik itu. Dan tiba-tiba saja mereka bertemu dengan Arabelle. "Hmm... kebetulan. Ra, kamu bisa pulang dengan Arabelle kan? Aku ada urusan dan agaknya aku harus pulang lebih lama." Di tempat parkir, Devan meninju tembok dihadapannya. Dia menyesal karena telah melepas Sakura pergi tapi semakin lama Sakura tinggal. Laki-laki itu semakin takut kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak termasuk mengungkapkan perasaannya. Dia membayangkan hal yang mengerikan antara ego dan rasa kasihannya. Hingga, Devan masuk ke tempat yang seharusnya tak dimasukinya. Bar. Devan memesan beberapa botol minuman. Dia berharap dapat menghilangkan apa yang ada di pikirannya dan semuanya bisa kembali normal seperti biasanya besok. Disisi lain, Sakura tiba-tiba teringat bahwa dompetnya ketinggalan di mobil Devan. "Tunggu dulu ya Arabelle, aku lupa mengambil tasku di mobil Devan." "Mau aku temani Ra?" tanya Arebelle. Dia terlihat khawatir melihat Sakura masih memakai tongkat. "Tidak usah, aku bisa jalan sendiri." "Baiklah," gumam Arabelle pasrah. Setelah itu, Sakura menghubungi Devan. Namun, laki-laki yang mabuk itu saat ini tidak mendengar ponselnya yang sedari tadi bergetar. Membuat Sakura khawatir. Perempuan itu dengan lelah mengangkat tongkatnya dan berusaha pergi mencari Devan hingga melihat mobil Devan terkunci di tempat parkir. Sampai akhirnya Sakura tidak percaya ketika melihat sosok Devan yang kini berjalan ke mobil sambil memegang kepalanya. "Kamu baik-baik saja Dev?" "Ya.. ya… Ra. Kamu belum pulang?" "Dompetku ketinggalan. Tunggu dulu... Kamu mabuk Dev. Kamu bau alkohol." Devan mengangguk. "Ya... Aku mabuk." "Kenapa? Kenapa Dev? Orang tuamu berkelahi lagi. Kalau ada masalah tolong cerita ke a—“ "Masalahnya kamu Ra. Dari tadi aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu pergilah sekarang sebelum aku mengatakan yang tidak-tidak." "Maksudnya? Tunggu dulu Dev. Kamu sedang mabuk sekarang. Tenangkan dirimu dulu. Kita masuk ke dalam mobil yah." Devan tertawa kecil. Dia mendekatkan tubuhnya ke Sakura. "Aku mencintaimu... Ra." Seketika bagi Sakura waktu seolah terhenti. "A... Apa kamu gila Dev?" Devan menggeleng hebat. Pengaruh alkohol membuatnya lepas kendali. "Tidak, oh mungkin saja aku gila. Karena itu, maukah kamu jadi pacarku Sakura Vanessa Rein. Agar aku tidak gila lagi." "Kamu hanya mabuk Dev. Masuklah ke dalam mobil cepat." "Tidak, tidak Ra. Apa kamu tidak pernah mendengar bahwa orang yang mabuk selalu bersikap jujur tentang perasaannya?" Sakura menghembuskan napas pelan. "Kalau begitu, mulai hari ini berhenti mendekatiku lagi." Sakura seketika meninggalkan tempat namun laki-laki itu menarik tangan Sakura membuat Sakura tidak bisa beranjak dari tempatnya. "Lepaskan Dev!" "Kalau kamu memang menolakku apa itu berarti kita tidak bisa berteman?" Sakura menghentikan langkahnya. Dia berbalik setelah menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum paksa. "Ada perasaan yang harus kujaga Devan." Semuanya seolah bergerak slow motion. Devan mengangguk. Dia terlihat pasrah menerima keputusan perempuan yang kini berjalan pergi. Namun, Devan tidak mengetahui bahwa kini Sakura menutupi wajahnya, tangannya kini penuh dengan air mata. Air mata Sakura terus mengalir. Dia terisak, berusaha mengatur napasnya. Setelah Devan bertanya, dia bahkan tidak bisa berkata jujur tentang apa yang saat ini dialaminya. Dua pilihan yang membuat Sakura terus terombang-ambing. Berbicara jujur tentang apa yang saat ini dialaminya atau menolak Devan seolah tidak ada lagi hubungan diantara mereka. Tangan Sakura bergetar, isakan tangis menjadi saksi bahwa dia harus memilih opsi kedua agar Devan tidak merasa kehilangan untuk kedua kalinya. Sakura memukul dinding dihadapannya berulang kali. Dia bahkan berteriak di ruangan kedap suara itu. Devan berjalan keluar dari bangunan, bunga di sakunya seolah layu. Namun entah mengapa dia merasa berat melangkahkan kakinya. Satu kalimat Sakura menyadarkannya kembali. 'menjaga perasaan'. Devan merasa semua orang membencinya sedari awal. Bahkan dia sadar bahwa dia membawa penderitaan kepada semua orang sejak kelahirannya. Sebelum kembali, seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Devan tersentak, dia tidak bisa berbalik krena orang di belakangnya betul-betul memeluknya erat. Sakura, perempuan itu membuat Coat yang Devan kenakan basah karena air mata. "Maafkan aku Dev. Biarkan aku memelukmu begitu lama sekarang. Setelah ini, aku barangkali tidak akan melakukannya lagi." Devan mengangguk dan Sakura yang berada di belakangnya menyadari itu membuat pelukan semakin erat. Devan lalu tertunduk. Air matanya jatuh di aspal jalanan begitu saja. “Pergilah Ra, ini menyakitkan,” ujar Devan saat dia tidak lagi merasakan pelukan karena Sakura sudah pergi beberapa waktu lalu. Kini, tempat itu menyisakan Devan, lampu penerang jalan, juga kesunyian. Serta air hujan yang turun semakin deras membuat air mata Devan tersamarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN