DAY 21 A

1311 Kata
DEVAN POV : Apa aku terlalu berlebihan semalam? Aku pasti mengatakan sesuatu. Mengapa aku bisa mabuk. Gawat, hal ini cukup gawat. Aku harus menemui Sakura dan berbicara apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang dibayangkan. Dalam ingatanku aku menembaknya dan perempuan itu menolak, selebihnya aku hanya mengingat cahaya lampu, dia memelukku dan gelap. "Bagaimana kabar Sakura?" Devan berbalik. Sosok papanya berdiri tepat dihadapannya. "Sakura? Tunggulah sebentar lagi. APA YANG ADA DIPIKIRAN PAPA AGAR SAKURA CEPAT MATI HA?" "Cih, sejauh itu pemikiranmu tentang papa? Papa juga tahu keberadaan rasa cinta Dev. Kalau kamu mencintainya dan dia panjang umur nikahilah dia. Papa tidak akan memaksa apapun keputusanmu itu." "Papa berkata seperti itu karena Sakura sudah—“ "Cukup Dev. Sekarang papa tahu kemiripanmu dan mamamu. Papa sangat mencintai mama tetapi lihatlah, sama seperti pemikiranmu sekarang. Dia menganggap segalanya sebagai uang. Papa tidak sejahat itu Dev, karena papa pernah menyayanginya, mamamu." "Betul." Shira muncul tiba-tiba membuat tatapan suami dan anaknya tertuju padanya sekarang. "Saat ini mama baru sadar, setelah papamu mengungkapkannya sekarang. Kalau saja mamamu ini mengetahui perasaan papamu sedari awal mungkin mama akan melewati masa kecil bersamamu. Karena itu Dev, apapun yang terjadi pada Sakura kamu harus mengatakan perasaanmu sacara tulus. Pahit atau tidak, kamu akan menyesal seumur hidup." Lucas menghampiri Shira lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu. "Benar Dev, pergilah sebelum semuanya terlambat." Devan mengangguk lalu dengan sigap meninggalkan tempat. Satu tempat yang saat ini ada di pikirannya, rumah Sakura. Diperjalanan, laki-laki itu sesekali menghubungi Sakura. Namun, tak ada jawaban. Sampai akhirnya Devan tiba di rumah bertingkat dua dengan pagar tinggi berwarna putih polos situ. Pintu gerbangnya terkunci dengan gembok besar. Devan mulai panik, laki-laki itu menghubungi Arabelle. “Halo, kamu tahu Sakura dimana sekarang?” “Sakura? Hmm…” Tiit… tiiitt… Arabelle memutuskan sambungan teleponnya. Devan kebingungan, jaringan baik-baik saja. Laki-laki itu mulai curiga ada yang Arabelle sembunyikan. Dengan sigap dia membawa mobilnya menuju ke rumah sahabat orang yang dicari-carinya. Kemarin Malam, “Ada apa Ra?” Arabelle bergegas menghampiri Sakura setelah tahu sahabatnya itu menangis tersedu-sedu. Sakura menggeleng. Dia tidak bisa berbicara sekarang. Arabelle mengerti akan situasi dan memberi Sakura air. “A…antar aku pulang.” Arabelle mengangguk. “Apa yang terjadi?” Arabelle bertanya setelah Sakura mulai merasa baikan. Perempuan itu membanting stir setelah melewati perempatan. “Akhir ceritaku dan Devan tidak bahagia Arabelle. Aku ingin mengatakan kepadanya kalau aku akan pergi besok ke Kanada.” “Kanada? Untuk apa Ra?” Sakura menghembuskan napas pelan. Matanya terlihat sembab. “Kamu pasti tahu kalau aku sakit Arabelle. Kamu, Devan dan Carolina, aku tahu kalian hanya mencoba menyembunyikan segalanya.” Arabelle terdiam. Apa yang dikatakan Sakura benar. “Karena itu, aku ingin memberitahukannya untuk datang besok ke rumah. Aku ingin kita berempat membuat perayaan kecil untuk perpisahanku. Tetapi, bagaimana mungkin Devan—“ “Devan… kenapa Ra?” “Devan menyatakan perasaannya kepadaku kalau dia menyukaiku.” Arabelle membulatkan mata. Waktunya terbatas untuk membahas betapa sedih ketika tahu Sakura akan meninggalkannya juga tentang Devan. “Mabuk? Aku tahu dia menyukaimu Ra. Tetapi… mengapa dia mengatakannya. Andaikan kamu membicarakannya kepadaku lebih awal bahwa kamu akan ke Kanada mungkin aku bisa menyampaikannya ke Devan. Ini buruk. Ini buruk Ra, mengapa semuanya harus berakhir seperti ini.” Sakura menyeka sisa air matanya. “Entahlah… Aku benci, aku membenci diriku yang tidak berani mengatakan bahwa aku juga menyukainya. Tetapi, aku lebih benci ketika dia mengungkapkannya dalam kondisinya yang seperti itu. Mabuk? Waktu dan suasana merusak segalanya. Meskipun sesungguhnya dia tinggal menunggu jawaban dariku karena dia sudah melakukannya juga seminggu yang lalu.” Arabelle menghela napas pelan setelah tiba tepat di depan rumah Sakura. “Apa yang akan kamu lakukan Ra? Besok kita akan berpisah dan kamu tidak pernah menyampaikan apapun kepadaku. Kamu tahu kamu salah? tetapi aku tidak bisa menyalahkanmu karena masalah yang baru saja terjadi.” “Ya, maafkan aku Arabelle. Waktu berlalu begitu cepat. Kondisiku semakin memburuk dan mama baru memberitahukan kepadaku tentang Kanada seminggu yang lalu. Itupun karena aku menemukan surat tentang penyakitku di meja kerjanya.” “Aku mengerti Ra…” Mata Arabelle berkaca-kaca. Dia memeluk sahabatnya sebelum masuk ke dalam mobil. “Datanglah kesini besok pagi. Karena aku berangkat jam sepuluh. Tetapi kumohon, jangan katakan sesuatu kepada Devan dan Carolina. Aku sudah cukup mengacaukan hubungan mereka berdua. Aku selama ini senang Devan membawaku melihat dunia, rumah pohon, rooftop, sunset, ladang hijau aku tidak akan melupakan segalanya. Tetapi, semakin lama aku bersamanya semakin banyak hati yang terluka. Carolina, ayah Devan, mama Shira, mama. Kuharap aku juga tidak membawa beban untukmu Arabelle.” Arabelle menggeleng. Perempuan itu lalu menyeka air matanya. “Tidak Ra, tidak. Kuharap suatu hari nanti kita bisa bertemu. Malam ini aku menangis sebagai tanda perpisahan kita, besok pagi kita harus bahagia merayakan pesta kecil untukmu. Bukan begitu?” Sakura mengangguk. Langit malam yang cukup terang menjadi saksi betapa mengharukannya persahabatan mereka berdua. * Devan mengetuk pintu rumah Arabelle cukup keras. Saat ini dia seperti seseorang yang kehilangan akal. Hingga akhirnya Arabelle yang mulai merasa risih membuka pintu. “Kamu tahu Sakura dimana?” tanya Devan spontan ketika Arabelle berdiri tepat dihadapannya. Arabelle tersenyum kecut. PLAK! “Mengapa kamu menanyakan keberadaan Sakura sekarang?” Devan menyapu pipinya yang terasa perih. “Maafkan aku Arabelle. Kamu tahu ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” “Tidak seperti? Kamu tahu Sakura pulang dalam keadaan nangis Dev? Kamu harusnya lebih tahu kondisinya sekarang.” “Ya, aku berusaha mengerti karena itu aku menyuruhnya pulang bersamamu semalam agar aku tidak keluar dari batas itu. Tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku mabuk Arabelle, kamu tahu hanya itu yang bisa membuatku melupakan hal bodoh yang bisa membuat Sakura membenciku.” Arabelle kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan Devan benar. “Hmm… Aku mengerti Dev. Maafkan aku karena bersikap berlebihan tadi. Aku kehilangan akal saat melihat Sakura menangis. Kamu tahu perempuan itu cukup rapuh Dev.” “Ya, karena itu saat ini aku ingin bertemu dengannya dan membahas ini.” Arabelle meneguk ludah. “Mohon maaf Dev, aku tidak bisa bilang ini terlambat tapi… Sakura sudah ada di bandara menunggu penerbangannya ke Kanada?” “Kanada?” “Ya, Kanada. Kamu harusnya—“ belum selesai Arabelle menghabiskan perkataannya, Devan sudah lebih dulu berlari ke mobil. Speedometer mobil kini sudah tidak terkendali. Hanya satu harapan laki-laki itu sekarang, bertemu Sakura dan mengatakan semuanya. Saat di perempatan, Devan menerobos lampu merah. Dia bahkan memencet klakson mobil berulangkali. “Aaarrgghhhhh….” Devan menggerutu karena macet, laki-laki itu melihat arlojinya dan berharap Sakura belum berangkat. Penyesalan terbesarnya seumur hidup jika dia tidak bisa melihat Sakura kali ini. Namun setelah menunggu lama, kondisi jalanan belum juga lancar. Laki-laki itu mulai putus asa hingga seseorang yang membawa motor ninja mengetuk jendela mobilnya. Laki-laki itu membuka helmnya. “Andi?” “Cepat pergi Dev. Biar aku yang bawa mobilmu. Cepat, Sakura berangkat tiga puluh menit lagi.” Suara Andi berbaur dengan suara bisingnya jalanan. “Terima kasih Andi aku akan mengingat kebaikanmu kali ini,” kata Devan saat mereka sudah bertukar posisi. “Ya, nanti kita akan membahas semuanya. Cepat bodoh!” Celetuh Andi, Devan tersenyum, lalu menutup helmnya. * Sakura memegang tangan mamanya. Perempuan itu merasa ada yang mengganjal di pikirannya, dia merasa hampa. Seperti ada yang tertinggal, namun bukan benda. Kegusarannya jelas terlihat, dia sesekali membuka handphone-nya dan melihat ada hampir sepuluh panggilan tak terjawab dari Devan. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak mengangkat telepon itu, tetapi kejadian semalam masih membekas dalam pikirannya membuat perempuan itu tak sanggup berbicara dengan Devan lagi. Mengapa harus sekarang? Setelah melakukan segala hal yang membahagiakan dalam hidupnya. Mengapa harus saat di akhir dia harus menanggung beban yang tak pernah terjadi sebelumnya. Rooftop, Rumah Pohon, Sunset, semua momen itu indah, momen itu akan dikenang Sakura sepanjang hidupnya. Tetapi saat mengingat Devan mabuk dan hujan semalam semuanya seakan berubah. Ibarat matahari yang tertutup awan mendung yang hitam pekat. “Sakura mari!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN