Sakura terbangun dari lamunannya saat mendengar suara mamanya. Itu pertanda bahwa perempuan itu harus meninggalkan segala hal yang dilaluinya. Memulai hidup baru, fokus berobat, antara hidup dan mati.
“SAKURAA…”
Saat Sakura hendak berjalan tiba-tiba saja dia mendengar suara yang tak asing di telinganya. Devan. Seketika senyum perempuan itu merekah. Dengan sigap dia menyeret tongkatnya dan berlari kecil memeluk Devan.
“Aku yakin Dev, aku yakin kamu akan datang.” Air mata haru menghiasi wajah Sakura. Devan tersenyum. “Maafkan aku Ra, seharusnya aku tak melakukan hal itu semalam.”
Sakura menggeleng hebat. “Aku yang harusnya minta maaf Dev, aku menyembunyikan kepergianku hari ini dan membuat semuanya seakan baik-baik saja.”
“Sudah, lupakan segalanya.” Devan menyeka air mata Sakura. “Aku tidak ingin perpisahan kita berakhir buruk Ra. Aku ingin kamu bahagia setiap saat. Karena itu, meskipun kita tidak pernah bertemu setelah ini, yakinkan dirimu bahwa aku akan selalu ada disisimu. Kamu bisa menghubungiku kapan pun kamu mau.”
Sakura tersenyum simpul. “Akhir cerita kita berakhir bahagia bukan?”
Devan mengangguk. “Ya tentu saja. Terimakasih karena sudah ingin menjadi temanku Ra.”
“Aku juga Dev, terimakasih karena membuat hidupku lebih berwarna.”
Setelah itu, Sakura dengan berat melangkahkan kakinya. Perempuan itu sesekali berbalik dan balas melambaikan tangannya kepada Devan.
Sampai dia percaya bahwa hidup cukup singkat bila hanya diisi dengan kesedihan. Perempuan itu berusaha tegar meski setiap hari harus bertemu dengan darah mimisan, rambut rontok dan kakinya yang perlahan mulai kehilangan fungsi.
Karena satu hal. Devan.
*
Devan menatap langit di rumah pohonnya. Tepat di sebelah laki-laki itu ada Andi yang juga ikut menatap langit.
“Sudah berapa lama aku tidak kesini?” tanya Andi membuat Devan tersadar dari lamunannya.
“Dua tahun lalu, maybe. Terakhir saat aku pertama kali mengalahkanmu bermain basket.” “Ya, hari itu kamu bahagia karena kita lulus bukan? Itu sebabnya kamu menang.”
“Kita masih sempat tertawa hari itu. Kalau saja aku tahu apa yang akan terjadi malamnya, mungkin aku tidak akan menang.”
Andi mendecih. “Lupakanlah Dev, itu takdirnya. Bukankah Alex sudah bahagia disana? Dia anak yang baik. Setelah Alex, aku, lalu terakhir kamu. Karena kamu terlalu jahat untuk hidup.”
“Dasar! Kita lihat saja siapa yang akan lebih dulu menyusul.” “Waktu berlalu begitu cepat rupanya.”
Devan mengangguk. Dia setuju apa yang Andi katakan. “Ya, baru kemarin kita bermain dengan Alex, lalu sesaat Sakura datang. Saat ini dia menghilang lagi. Kuharap aku bisa hidup lebih lama dengannya namun cepat atau lambat sama saja, perpisahan pasti akan terjadi.” Devan lalu meraih sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kertas berwarna merah muda pemberian Sakura di bandara tadi. Perempuan itu menaruhnya di saku Devan sebelum mamanya memanggil.
Untuk : Devan Atalanta Lucas
Waktu berlalu begitu singkat ya Dev? Entah apa yang terjadi namun aku merasa bahwa sehari bersamamu adalah waktu yang cukup bermakna.
Hari ini perayaan tiga minggu pertemuan kita. Kali ini biarkan aku yang mengajakmu merayakannya karena seminggu yang lalu kamu memberikanku lima pasang hijab. Sebelumnya aku mohon maaf Dev, karena aku memberikan perpisahan sebagai hadiah perayaan kita kali ini.
Tetapi dibalik itu, surat ini bisa kamu simpan sampai suatu waktu kita bertemu lagi. Dan kalau aku masih hidup. Karena aku tidak ingin saat kemungkinan terburuk yang selama ini kamu, Arabelle dan Carolina bayangkan terjadi, aku dibawa pulang ke Indonesia. Aku tidak ingin ada air mata lagi. Karena itu, lebih baik kalian menganggapku pindah dan kabur ke Kanada saja. Anggap aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku disana.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu Dev. Bahkan, aku sempat menyediakan sepuluh kertas tambahan. Namun kalau dipikir-pikir lagi itu akan kesulitan membuatmu membacanya. Aku tahu kamu tidak suka membacakan hehe… Karena itu aku merangkum segalanya.
Aku ingin pertunanganmu dan Carolina tetap berlanjut Dev, dia perempuan yang baik. Aku yakin kalau kamu berusaha dekat dengannya kalian bisa menjadi pasangan yang serasi di masa depan. Tetapi, kembali lagi bahwa perasaan seseorang tak bisa dipaksakan. Kalaupun dipaksakan semuanya butuh waktu.
Selain itu, aku ingin kamu menjaga Arabelle. Aku yakin perempuan itu akan kesepian di kelas. Dia pernah bilang kepadaku bahwa hanya aku temannya satu-satunya. Itulah mengapa aku takut bercerita tentang penyakitku kepadanya meskipun kami cukup dekat karena dia akan menangis sepanjang malam.
Lalu Andi, aku yakin saat ini dia ada disisimu. Tadi pagi aku mengirimkan pesan singkat kepadanya untuk mengawasimu kalau saja kamu melakukan hal yang tidak-tidak Dev. Karena kamu terkadang melakukan hal diluar kendali dan aku baru menyadarinya saat di akhir. Mabuk itu buktinya.
Jaga orang tuamu Dev, jangan benci kepadanya karena dialah yang membuatmu terlahir ke dunia. Aku yakin mereka bangga kepadamu dan aku yakin mereka tidak seburuk yang kau bayangkan. Karena itu jadilah anak yang berbakti.
Dan untuk dirimu sendiri, aku berharap kamu bahagia selalu, aku yakin kamu akan sukses sebagai selebriti di masa depan. Punya banyak penggemar. Tadi pagi bu Siti menghubungiku bahwa kamu lolos seleksi olimpiade. Karena itu aku memohon kepadamu, ikutilah olimpiade itu, menang atau tidak itu urusan belakangan, tetapi aku yakin kamu bisa mewakili sekolah kita mendapatkan yang terbaik. Terus, persoalan pelajaran bolosnya tolong dikurangi, meskipun aku tahu kamu akan terkenal sebagai selebriti tetapi pendidikan itu penting Dev. Terus bu Siska, aku yakin dia menyukaimu tetapi tolonglah dia juga seorang guru, jadi hormati dia dan tegurlah dia jika dia terus menatap wajhmu sepanjang pelajaran, aku yakin dia akan mengerti.
Masalah kesehatan, kuharap kamu tetap membuat sandwich, makan buah-buahan dan minum jus pisang Dev. Meskipun aku tahu kamu melakukannya saat tahu aku sakit, kamu ingin aku ikut mencobanya dan membuat kesehatanku tetap terjaga. Terus ini enting, jangan merokok Dev, benda itu bisa menghancurkan kesehatan dan imejmu kapan saja. Kamu bisa menggantinya dengan permen karet.
Kuharap kamu tetap menjadi Devan yang sekarang. Sekali lagi, terima kasih atas 21 harinya Dev.
Terimakasih telah menjadi temanku dan membuat waktuku lebih bermakna Salam Hangat
Sakura Vanessa Rein.
Devan tersenyum, lalu menyeka air mata haru di wajahnya. Sesaat kemudian, laki-laki itu menatap langit kembali. “Hari ini cukup cerah Ra.”
DEVAN POV :
Pearson International Airport, Toronto, 21 Maret 2019
Handphone-ku berdering. Seseorang tiba-tiba saja menghubungiku. Meski begitu, aku tetap berjalan diantara kerumunan orang-orang yang berusaha menyapa. Hanya saja, bodyguard- ku membuat gerak mereka cukup terbatas.
“Ada apa Lin? Aku sedang dalam perjalanan. Tolonglah… aku akan menghubungimu nanti oke?” Aku memutuskan hubungan kepada perempuan di seberang sana. Carolina. Bisa-bisanya dia meneleponku disaat semua penggemar sedang menatap ke arahku sekarang.
Aku melihat wajah penggemarku satu per satu seraya melempar senyum tipis. Tetapi, seorang perempuan membuatku terdiam sejenak, waktu seolah bergerak slow motion.
Perempuan itu berbalik. Meskipun wajahnya tertutup karena cadar yang dikenakannya, namun, tatapannya tidaklah asing. Dia mengingatkanku akan seseorang di masa lalu. Sakura. Perempuan yang membuatku bisa melangkah lebih jauh. Perempuan yang membuatku berubah. Perempuan yang membuatku lebih menghargai waktu.
Sudah lama sekali Ra. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?
Kuharap begitu.
Hanya kamu satu-satunya temanku waktu itu, tetapi setelahnya aku menepati janjiku. Aku berteman dengan Andi kembali. Bahkan karena aku tidak punya adik laki-laki aku bisa menganggapnya sebagai babu, lucu bukan? Tertawalah Ra! Ayolah.
Aku terbangun dari mimpi. Semuanya belum berakhir. Aku harus ke Kanada.