DAY 1 IN CANADA

1799 Kata
Beberapa tahun berlalu, hidup dalam kepopuleran membuat Devan jelas bangga pada dirinya sendiri. Ia berjalan ke terus penthousenya memandang bulan seraya memejamkan mata. Waktu berlalu. Namun tak pernah sehari pun ia bisa melupakan Sakura. Perempuan yang membuat hidupnya berubah. Perempuan yang membuat ia dikenal banyak orang. Perepuan yang membuat orang tuanya akur.  "Mas." Devan menoleh. Ditatapnya perempuan bercelemek merah muda.  "Nyonya Shira memanggil anda di bawah." Devan mengangguk. "Mereka pulang?" "Tidak, hanya Nyonya Shira sendiri, Tuan Lucas masih di Berlin untuk urusan bisnis." Kedua alis Devan terangkat. Tak biasanya mamanya pulang sendirian. Perempuan itu selalu menemani suaminya kemana pun suaminya pergi. Mendapinginya dengan tulus setelah bertahun-tahun mereka pisah. Kembali lagi, semuanya karena babtuan Sakura.  Devan menuruni lift berlantai besi dingin. Dia berjalan ke koridor melewati ruang demi ruang megah bertiang berukir patung-patung estetik dengan  "Ma..."  Shira menoleh. Dia tersenyum merekah, menghampiri anak semata wayangnya dan memeluknya.  "Tumben mama pulang cepat, kenapa? Papa mana"  Shira tersenyum merekah. Menarik tabgan anaknya lembut ke tepian kasur.  "Mama ada berita bahagia," katanya berbinar-binar. "A-apa?" "Kau tak lama lagi akan punya adik " "HAH?!!"  Devan terperanjat. Jelas. Kabar ini sangat-sangat aneh lagi mengejutkan. Ada beberapa alasan. Pertama, Shira di usianya mungkin, ah tidak. Dia tidak menapouse, hanya saja mungkin usianya sudah tua untuk hamil lagi. Maksudnya Devan sudah berumur dua puluh tahun. Jarak dia dan adiknya akan sangat aneh bagi Devan.  "Kenapa? Kau tak suka." Devan menggeleng. Tak tahu merespon seperti apa. Setengah terkejut, senang juga sedikit sedih.  "Aku tak tahu merespon seperti apa Ma. Maksudku, mama sudah tua. Apa mungkin membawa makhluk hidup di usia begitu?"  "Tua? Hei. Mama belum menginjak kepala empat. Ini normal." Devan menggaruk kepalanya yabg tidak gatal, mengekus perut mamanya lembut.  "Omong-omong kapan kalian membuatnya?" Shira memelot. Mengambil bantak di sebelahnya lantas melemparkannya pada Devan.  Devan menahan sambil tertawa kecil.  Hening beberapa saat sebelum mereka lanjut bercerita.  "Oh iya, omong-omong kau sudah dapat kabarnya?" Devan menggeleng.  Shira menghela napas. "Mungkin kau harus berhenti Devan. Mungkin dia memang sudah meni--"  "Tidak mungkin." Devan menyela, cepat-cepat. "Dia masih hidup. Aku akan mencarinya ke Kanada."  "Benarkah? Terus bagaimana dengan karirmu nak?" "Aku ingin berhenti sementara. Jujur aku lelah Ma. Mama tahu betul kalau aku lelah menghadapi mereka, 5 tahun tampil di kayar kaca. Kurasa ini waktunya aku berhenti." Shira mengangguk. "Kalau itu pilihanmu, mama hanya bisa mendukung. Tetapi pastikan semuanya aman sebelum kau pergi." Devan menunjukkan jari jempolnya. "Sudah kok." Dia tersenyum. "Aku sudah membersihkan semua scedhule -ku sejak bulan lalu. Gaji tambahan untuk Bram si manajer setia dan kru yang lain." "Terus bagaimana dengan penggemarmu?" "Aku sudah buat caption. Akan kuupload nanti, memastikan mereka tak perlu cemas." Shany mengangguk. "Baguslah. Terus kapan akan berangkat? Kau pulang untuk melihat kelahiran adikmu, kan?" "Tentu saja Ma." Devan menenggak ludah. "Kalau bisa aku akan berangkat besok." Shira terkejut.  "Boleh kan Ma?" "Boleh boleh saja," kata Shira berusaha bersikap tenang. "Apapun keputusanmu, kamu sudah besar. Mama hanya visa mendukung." Devan menghela napas lega. "Terima kasih Ma." "Ya. Dan kalau begitu aku akan suruh Bi Surti menyiapkan semua perlengkapanmu untuk besok. Kau mau nginap di apartemen atau beli rumah di sana?" "Apartemen saja Ma. Kalau tinggal di rumah aku takut sasaeng membuntutiku." "Ah benar ide yang bagus."  -- Devan POV :  Malam yang dingin. Aku berjalan menyusuri jalan setapak di kota ini. Memandangi pepohonan rimbun, menghirup udara malam dan memperhatikan keramaian kota. Memandagi manusia-manusia biasa saja.  Aku tidak bilang diriku spesial hanya saja, orang-orang yang bisa hidup damai dan tenang tanpa diperhatikan orang lain kusebut manusia biasa-biasa saja. Sesekali aku ingin jadi mereka. Tetapi itu bukan hal yang mudah. Hari-hari biasanya aku sering keluar dengan masker hitam tanpa pengawal dan tiba-tiba aku mendengar suara jepretan kamera yang banyak dan orang bergerombol memintaku berfoto. Berdesak-desakan di taman itu. Pagi saat terbangun, berita tentangku heboh. Sungguh hidup yang rumit namun memang menyenangkan.  Tetapi malam ini berbeda. Udara yang sejuk sepoi. Ditambah lagi hening. Seolah tak ada yang menyadari keberadaanku. Suasanya sangat menyenangkan sebagai manusia biasa.  Kupandang biang lala berputr dihadapan jauh di sana. Kuingat momen itu saat aku dan Sakura naik berdua di atasnya. Masa SMA yang kuhabiskan setidaknya sedikit lebih berwarna bersamanya.  Aku rindu.  Besok, besok adalah hari pertama. Ah tidak, kusebut hari ini sebagai hari pertama dalam pencarianku terhadap Sakura. Perempuan mungil manis dan energik.  Aku yakin.  Perempuan itu... Masih hidup.  Aku berjalan menapaki taman kota. Melihat-lihat orabg yang tertawa bahagia. Perasaanku mulai tak enak tatkala seseorang berhoodie hitam mengambil gambarku secara diam-diam. Entah aku yang terlalu perasa atau memang orang itu sengaja.  Aku berusaha beroikir positif. Dia pasti mengambil gambar lain. Mungkin saja dia fotografer andal yang biasa mengambil gambar orang-orang yang berlalu lalang. Atau bisa juga dia sedang mengincar gambar seseorng selain aku. Tetapi rupanya yang membuatku takut. Dia memakai hoodie hitam yang seolah meyakinkan kalau dia mengambil gambarku.  Itulah juga alasan kenapa aku ingin pindah ke Kanada. Bukan hanya karena ingin mencari Sakura, tetapi juga aku ingin pergi mencari jati diriku yang sebenarnya. Selama bertahun-tahun hidup dalam kepopuleran membuatku berubah menjadi seperti ap yang orang lain inginkan. Kamera-kamera pengintai para wartawan berusaha mencari celah kekuranganku. Namun selama bertahun-tahun nihil. Penggemar kubuat semakin tergila-gila karena mereka menyukai kesempurnaan. Kadangkala aku keelahan karena itu. Tidak. Sering malah. Rasanya seperti aku hidup untuk mereka. Makanya aku akan memutuskan ke Kanada. Tetapi melihat situasi dan kondisi sekarang, kuharapkan satu hal. Semoga saja tak ada yang mengenaliku di sana dan tak ada yang tahu aku ke sana. Ah ide bagus. Aku tak akan memberitahu kemana aku akan pergi. Kurasa lebih baik kurahasiakan juga agar mereka tak pusing mencari di tempat spesifik. Aku takut tiba-tiba ada pemberitaan mengenaiku ke Kanada dan mereka memasang kamera siap siaga di bandara Toronto. Itu akan sangat mengerikan.  Kurencanakan semuanya sebaik mungkin.  Dan ide bagus terlintas. Aku lebih baik membuat video itu dan menguploadnya setelah aku tiba di sana.  Tetapi bagaimana jika mereka melacak lokasinya?  Bagaimana jika mereka menghubungi orang-orang khusus untuk melacak tempat dimana seseorang mengupload sesuatu di media.  Aku berpikir keras.  Haris sudah semakin malam.  Orang berhoodie tadi mulai menghilang.  Syukurlah.  Kuraih ponsel dalam saku. Kuperhatikan jam lamat. Sudah menunjukkan pukul satu malam.  Aku pulang. Memandangi jalanan kota yang mulai sepi. Malam ini malam minggu.  Ah akhirnya kutemukan solusi. Kusuruh manajerku mengupload video itu di Indonesia. Aku baru kepikiran. Benar-benar bodoh. Sakura benar, aku benar-benar bodoh.  Kuberitahu ini langsung ke manajerku dan ia setuju walau dengan tampangnya yang seperti tak ingin aku pergi. Aku dan Brio sudah bekersajama lama. Dia mengurusi segala keperluanku sejak pertama kali menjadi selebriti aktif. Setelah lulus sekolah dengan nilai pas-pasan, aku memutuskan ini. Karena Sakura juga bilang jika pekerjaan ini cocok untukku. Dia setengah benar, karena kurasa aku memang punya bakat alami melakukannya. Tetapi di sisi lain ia juga salah. Setelah hampir beberapa tahun aku mulai kelelahan.  "Anda benar-benar akan pergi?" Pria berusia tiga puluh lima tahunan di sebelahku menyahut setelah keheningan lama.  "Iya bang," kataku. "Memangnya kenapa? Soal uang aku akan tetap memberikan gaji. Tenang saja hahaha..." Brio tertawa. "Bukan itu Devan. Maksudku, kalau anda benar-benar pergi, mungkin aku akan kesepian. Aku tak punya teman, anda tahu itu." Aku tertawa tertahan. "Makanya sudah kubilang bang. Menikahlah dengan Flora. Dia perempuan baik, bang Brio selalu cerita tentangnya tak bosan-bosan."  Bang Brio keselek ludahnya sendiri. "Tidak. Dia cuma teman. Beneran teman. Dan tak akan mungkin Flora berharap kunikahi." Kedua alisku terangkat. Satu fakta yang harusnya kusampaikan pada kalian adalah kalau bang Brio adalah pria pemalu dan takut wanita. Satu-satunya perempuan yang bisa dia dekati adalah Flora. Teman masa SMA-nya yang ramah. Aku sudah tiga kaki bertemu Flora dan ia benar-benar mirip dengan Sakura. Periang, dan sedikit keras kepala.  Ketika kuliah bang Brio. Kadangkala kulihat diriku sendiri. Fakta menyedihkannya adalah aku dengan berani memberikan saran. "Kenapa bang Brio tak coba melamarnya." Sementara aku sendiri tak yakin akan bisa mengatakannya pada Sakura.  Telepon berdering. Mama menelepon.  "Dimana Nak? Sudah pukul berapa sekarang. Bukannya kau besok berangkat jam sembilan."  "Ini lagi di jalan Ma. Mama kalau mau tidur. Tidur saja, jangan mengkhawatirkanku. Lagipula sudah pukul berapa sekarang." "Aduh. Mama tidak bisa tidur, bagaimana mungkin. Kau mau ada orang yang mengambil gambarmu diam-diam sehari sebelum ke Kanada. Itu akan jadi masalah." "Aman kok Ma tenang." "Baiklah kalau begitu. Tapi abis ini langsung pulang, kan?"  "Belum. Aku mau ke sebuah tempat dulu." "Kemana lagi Nak?" "Aman kok Ma tenang. Tempat oenuh ketenangan masa kecil." Shira menghela napas. "Okelah. Tapi setelah itu langsung pulang ya, jangan kemana-mana lagi." Devan meng-iyakan. Setelah itu pembicaraan mereka berakhir.  Tempat yang dikunjungi Devan berikutnya adalah tempat dimana dia tumbuh. Tempat yang dulunya menemani masa kecil Devan. Tempat yang langsung dikunjunginya sepulang sekolah. Tempat yang diperkenalkannya kepada perempuan pertama yang mau jadi temannya--Sakura.  Ya, rumah pohon.  Tempat itu akan selalu jadi tempat yang ia sukai.  Tetapi semenjak pindah ke Penthouse. Tempat itu terabaikan. Tidak juga dijual. Hanya saja Lucas dan sekeluarga harus pindah karena saat pagi hari di minggu pertama Devan menjadi selebriti, tempat itu langsung penuh oleh wartawan dan penggemar yang menerobos masuk. Devan tak akan mungkin lupa kejadian hari itu. Kejadian dimana puluhan polisi harus dikerahkan untuk melindunginya.  Di penthouse ia aman. Penjagaan di lantai satu saja sudah sangat ketat.  Tak sampai dua puluh menit, Devan di tempat itu. Hari sudah sangat larut. Dia berjalan dengan penerangan cahaya senter ditemani asistennya yang setia, Brio. Mereka menaiki rumah pohon. Mendapati ukiran tiga anak laki-laki di sana.  Devan langsung teringat Andi. Sahabatnya. Orang pertama selain orang tua Devan yang tahu kalau Devan akan pindah ke Kanada besok.  Devan memperhatikan ukiran itu sekali lagi. Menyorot ke bawah dengan penerangan seadanya. Terlihat ring basket yang berkarat dan tampak usang. Masih saja bertahan. Bayangan Devan bermain bersama Andi dan Alex terlintas. Juga bersama Sakura. Mungkin Devan tak punya banyak kenangan tentang masa muda seperti teman-temannya yang lain. Tetapi dia merasa itu sudah cukup. Cukup membuatnya rindu akan kehidupan masa lalu. Tapi hampir saja tidak. Sakura yang membuat hidupnya lebih berwarna.  "Kemana kau Sakura," kata Devan pada dirinya sendiri.   "Dia pasti perempuan yang baik, kan?"   Devan menoleh lupa kalau ada Brio di sebelahnya.   "Ah waktunya pulang," elak Devan mengakhiri malamnya yang indah. Malam terakhir sebelum lembar Bab kelima dalam hidupnya dimulai.  Bab pertama saat ia masih kecil. Saat Lucas dan Shira bersatu. Saat Alex dan Andi masih bermain bersamanya.  Bab kedua adalah masa kelam dimana Devan tidak mempunyai siapapun. Hidup dalam kesendirian dan kehampaan. Menganggap hidup hanyalah hal selangkah yang harus dilalui sebelum kematian.  Bab ketiga adalah masa dimana Devan bertemu dengan Sakura. Perempuan yang mengubah pandangannya tentang hidup. Perempuan yang membuat semuanya kembali berwarna. Di Bab ini, semuanya juga kembali. Orang tuanya yang akur serta Andi.  Bab keempat ketika ia telah jadi selebriti terkenal. Menghabiskan waktunya melayani penggemar. Peralihan menjadi dewasa. Tetapi di Bab ini, dia juga harus kehilangan Sakura.  Bab kelima dimulai besok. Perpindahannya ke Kanada. Masih jadi misteri. Bisa jadi lebih buruk dari empat Bab sebelumnya. Bisa jadi lebih baik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN