DAY 2 IN CANADA

1466 Kata
Pagi yang cerah. Devan bangun agak telat dan mungkin saja ia benar-benar telat kalau Shira tak membangunkannya.  "Semua barang sudah siap," kata Shira. "Sudah kubilang kan jangan pulang larut." Devan mengangguk. Kemudian pandangannya beralih pada pria yang menguap dan menyandarkan kepalanya di meja makan. "Papa?" "Ngg.." "Ini juga satu!" gerung Shira. "Kalian berdua benar-benar membuatku sakit kepala."  Lucas tertawa kecil menatap Devan. "Bagaimana, kau akan punya adik." "Dia sudah tahu," timpal Shira. "Harus kubilang lagi," kata Lucas. "Dia harus tahu apa yang harus ia lakukan."  "Ma. Pria ini sudah tahu, kan?x tanya Devan, mendesis pelan. Shira mengangguk. Menaruh dua sandwich di meja. Bergabung untuk sarapan.  "Kenapa sih harus buru-buru? Huuaaaa.." tanya Lucas sembari menguap. "Dan berapa lama." Devan menggeleng. "Tak tahu." "Sampai kau temui si Sakura itu?" "Ya. Papa memberi izin, kan?" "Tentu saja, pokoknya kau harus temui dia dan bawa dia pulang kemari. Tapi berapa lama pun itu kau harus pulang menyambut adikmu." Devan tersenyum, memakan seladanya dengan lahap.  Orang tua harus berpisah dengan anaknya entah berapa lama. Mereka hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.  Siang hari, di perjalanan Devan mendaoat telepon. Rupanya Devan. "Jadi bagaimana? Nanti kalau sampai sana telepon ya. Aku mungkin akan menyusul." "Menyusul?" "Ya. Minggu depan barangkali. Atau dua minggu depan. Kalau bisa sih hari ini. Gapi kau tahu kan aku harus mengurus sesuatu." Devan tertawa kecil. "Ini tahun ketiga kau daftar tentara, semoga lulus. Pastikan ikat tali sepatumu tidak lepas. Jangan karena hal konyol lagi kau disuruh pulang." "Siap bos. Oh iya, kalau kau ketemu Sakura lebih cepat sampaikan salamku." "Percaya benar kau dia masih hidup."  "Tentu saja Devan. Aku percaya dan kalau kau ke sana lebih cepat dariku, kau pastinya lebih percaya. Semangat ya. Aku ada tes kesehatan." Tiiitt.. Sambungan terputus sebelum Devan sempat menyampaikan kata-kata penutupnya.  Dia memperhatikan jalanab sekali lagi. Kotanya denganbangunan yang tinggi. Musim hujan serasa musim panas. Turun hujan tetapi cuaca tetap terik. Devan tahu betul ini akansangat berbeda dengan Kanada. Di sana menurut oemberitaan sedang turun salju pertama.  Musim dingin adalah musim yang disukai Devan.  Sepuluh menit ia tiba di bandara. Telah memesan tiket dan langsung berangkat. Tanpa pengawalan, hanya ditemani bang Brio yang merangkap sebagai kakaknya. Mengenakan masker agar tak dikenali dan berhasil.  Perjalan ke Kanada membutuhkan waktu kurang lebih 30-an jam. Itu cukup membuat Devan jetlag. Dia tiba dan berita yang dicarinya di internet benar. Musim dingin terjadi. Orang-orang di luar sana memakai jaket. Suasananya benar-benar sangat berbeda dengan Indonesia. Dia memesan Taksi. Dan menuju ke apartemennya yang telah ia pesan sebelumnya di kota Toronto. Apartemen ini khusus disewa untuk pelajar asing yang menempuh pendidikan di kota ini. Seperti mahasiswa asing di University of Toronto, Ryeorson University, York University , Humber College, George Brown College, Seneca College, Ontario College of Art and Design University (OCAD University), dan Cennetial College. Selain itu juga untuk pekerja asing. Maka mulailah Devan dalam perjalannnya di Bab 5 kehidupannya.  -- Devan POV : Aku mengambil kunci apartemen dalam saku.  "Excuse me." Seseorang membuatku terkejut. "Ah... Hi!" Seruku menyapa dengan agak kikuk.  "Where are you from?"  "Indonesia." "Ah sama. Aku juga dari Indonesia." Deg.  Dasar Devan b**o. Aku mengumpati diriku sendiri. Harusnya kujawab negara lain saja. Orang ini pasti akan mengenaliku.  "Namanya siapa?" "Hmmm.... An... Hmmm Devan." "Devan. Ah salam kenal." Pria itu menjulurkan tangannya. Kubalas dengan ramah, lalu masuk cepat-cepat. Menutup pintu rapat. Apa dia mengenaliku?  Ah semoga saja tidak.  Aku berjalan memasuki ruangan yang cukup nyaman. Kubaringkan badanku. Kubuka kaca jendela dan pemandangan kota Toronto terlihat jelas.  Aku bisa menduga kalau semua orabg luar negeri yang menyewa apartemen ini berasal dari strata kekuarga yang berbeda tergantung negaranya. Kalau bagi orang ndonesia sendiri mungkin ini terbilang mahal. Jadi orang sebelumnya yang kutemui pasti bukan anak sembarangan. Kekuarganya mungkin punya usaha besar. Tetapi itu bukan soalan penting. Yang jadi masalah adalah kenapa diantara ratusan negara di dunia tetangga apartemenku adalah orang Indonesia? Kenapa bukan prang Eropa saja. Atau paling tidak negara tetangga Malaysia, Thailand, Singapura atau Filipina.  Kalau identitasku ketahuan, ini bisa jadi masalah besar. Bukan untukku seorang tetapi seisi apartemen. Juga mama papa. Astaga, padahal baru sehari. Aku bahkan belum melihat setitikpun hilal keberadaan Sakura.  Kuabaikan itu sejenak. Kunyalakan televisi. Menampilkan siaran tv TFO. Membahas tentang salju pertama yang turun. Menggambarkan anak-anak yang bermain es di taman, ada juga ski es, jalanan yang mulai tertutup salju. Turunnya salju pertama sepwrti harapan semua orang. Termasuk aku. Sore ini, aku akan memutuskan keluar, rasanya ingin berbaring di atas salju. Banyak hal yang ingin kulakukan. Menjadi diriku sendiri.  Aku membuka kulkas. Masih kosong. Maka kuputuskan untuk pergi ke market terdekat.  Sebenarnya hidup di Kanada tidaklah sesulit itu bagiku. Aku pintar bahasa Inggris, ditambah lagi dua tahun lalu sejujurnya aku sudah pernah berlibur ke kota ini. Waktu itu sangat terbatas hanya dua hari sebelum fansignku diadakan. Jadi aku tak ada waktu mencari Sakura.  Di market aku membeli banyak makanan. Beberapa buah-buahan segar karena aku sangat suka makan buah. Juga sayur-sayuran, daging-dagingan, perlengkapn mDevan serta berbagai macam makanan kemasan.  Walaupun sudah di luar negeri aku masih was-was. Seperti bawaan waktu di negeriku sendiri masih ada. Tetapi aku berusaha tegar. Berusaha untuk tetap positif bahwa tak ada orabg pun yabg mengenaliku. Kutaruh barang-barang di meja kasir.  Setelah itu pulang menggunakan Taksi. Memperhatikan pemandangan kota yang indah dan salju yang berjatuhan. Taman kota benar-benar ramai. Sore nanti aku akan kembali.  Setiba di apartemen, aku merebus mie. Mie korean spicy. Menyajikannya langsung di panci dan mendekat ke televisi membuka siaran. Terlihat berita, masih tentang salju pertama yang turun. Aku menggantinya. Memilih menonton kartun. Tentang beruang putih yang kehilangan arah di gurun sahara tanpa suara. Tayangan menarik.  Triring triring... Ponselku berdering. Kutaruh ponselku di meja dan kuangkat telepon itu. Dari mama. "Ada apa Ma?" "Kau sudah sampai Nak?" "Iya." "Syukurlah. Kau sudah beli makanan. Bagaimana keadaan aparetemenmu. Kau baik-baik saja." "Ya. " "Baiklah kalau begitu. Mama ada pertemuan khusus dengan papa. Sore nanti kami mau ke Korea. Oh iya, omong-omong soal videomu dengan penggemar bagaimana?"  "Nanti malam, kusuruh Brio menguploadnya. Aku sudah membuatnya sejak lama. Jadi semoga tidak terdeteksi." "Semoga saja penggemarnu mengerti." "Mereka pasti mengerti Ma." "Okelah kalau begitu mama matikan dulu ya hubungannya. Semoga kau bisa bertemu dengan sakura di sana." Tiiitt. Sambungan terputus. Sore itu juga aku memutuskan ke taman kota. Memakai taksi, menggunakan masker agar semuanya aman/ Tetangga apartemenku tak menunjukkan batang hidungnya. Sepertinya dia mulai sibuk dengan kehidupannya. Aku ingin tahu dia pelajar darimana. Apakah dia anak orang kaya yang bersembunyi dibalik kesederhanannya. Biasanya anak-anak chaebol, sebutan untuk orang kaya mampus merahasiakan kehidupan mereka. Penuh privasi, ketimbang aku yang harus mengumbar dan bahkan dibuntuti. Aku berharap seperti itu. Sore yang dingin. Dengan sweater aku berjalan menyusuri jalan. Mengharapkan salju turun.   Salju yang dingin di taman kota orang-orang terlihat memakai sweater hangat berbulu dengan topi. Ramai orang di sini. Anak-anak membuat boneka salju, lempar salju dan juga ice skating. Wajah-wajah bahagia mereka menjalar kepadaku.  Aku mulai membuat gumpalan salju dengan hati-hati dan masih was-was kupandang berkeliling. Baru hari pertama aku di sini jadi kurasa memang rasa was-was itu tak akan hilang begitu saja. Daripada memikirkannya, kualihkan perhatianku pada hal lain. Itulah mengapa aku berpura-pura jadi anak kecil sekarang. Membuat gumpalan salju dan bermain.  Tiba-tiba dalam keheningan seseorang melempar kepalaku. Aku mengerang kesakitan. Menoleh denganperasaan cemas. Seorang anak kecil yang kira-kira berusia enam tahunan mendekat. Menundukkan pandangannya dengan gugup lalu berkata dengan parau dalam bahasa Inggris yabg artinya, "maaf kak." "Tidak masalah," kataku kikuk menggaruk belakng leher yang tidak gatal.  Anak kecil itu tidak pergi begitu saja. Dia mengajakku bermain. Aku mengiyakan dan kami berdua saling babtu membantu membuat boneka salju. Mencari dua ranting sebegai tangan si boneka. Dan batu sebagai mata serta mulut.  "Good job boy," kataku.  Anak itu tersenyum. "Ini permainan yang hebat, setahun yang lalu aku masih ingat guruku mengjariku membuat boneka salju di sini." "Gurumu pasti perempuan tua yang baik." "Ya. Tetapi dia bukan perempuan tua. Dia masih muda, seperti kakak. Namanya Sakura." Deg. Sakura? "Orang-orang suka memanggilnya Bu Kura." Mataku terbelalak. Tidak mungkin. Mungkin namanya sama.  "Dimana dia tinggal." Anak kecil itu menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Dia sudah tidak mengajari kami dua bulan yang lalu." "Tidak ada kabar lain tentangnya?"  Anak kecil itu menggeleng. Dia memandang orang tuanya yang memanggilnya di tepi taman. "Ah... Kalau begitu aku pergi dulu kak." "Iya. Eh tunggu, dimana kau sekolah?" "Di Elementari Imigent School." Aku mengangguk, memandang anak kecil itu berlari ke tepian, menghampiri orang tuanya.  Malam datang, aku menikmati sup kuah kalkun di perempatan jalan kota. Ramai orang-orang di sana. Memegang botol bir dan bertawa riang. Musim salju bagi mereka adalah sesuatu yang indah dan bahagia suasananya.  Sebelum tertidur, aku membuka ponsel mengirim pesan pada Brio untuk akhirnya mengupload video kalau aku hiatus sementara jadi selebriti.  Aku tertidur. Dan kutahu, besok notif pesan akan banyak masuk dari biasanya, untungnya akun itu sekarang ada di Brio. Agar mereka tak melacak keberadaanku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN