AUTHOR POV :
Pagi yang dingin, Devan terbangun. Dia menarik selimutnya lebih tinggi. Hari ini tak ada tuntutan pekerjaan seperti biasanya. Dia bisa bermalas-malasan sesuka hati. Baru setengh jam dia benar-benar terbangun. Mengucek matanya dan menyalakan televisi sambil ngemil popcorn.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya.
Melalui lubang kaca kecil di pintu Devan mengintip keluar. Dia setengah terkejut, mencari masker segera. Dan dilema. Apakah dia benar-benar harus membukanya atau berpura-pura kalau aku sedang tidur.
Tetapi Devan dengan perasaan yang tidak enak akhirnya membukanya.
Pria itu berdiri di depan pintu dengan kotak bekal besi.
"Selamat pagi. Boleh aku masuk?"
Hah?!
Devan kebingungan, lagi dan lagi ia tidak bisa menolak karena perasaan tidak enaknya. Maka diputuskannya untuk membiarkan pria itu masuk.
Pria misterius tadi menarih kotak bekal di meja.
"Ah... Kau suka menonton berita? Bukankah itu sangat membosankan."
Devan kikuk. Tak tahu apa yang harus ia lakukan pada orang sok akrab yang tiba-tiba mampir.
Pria itu menjulurkan tangan. "Aku Mathew."
Devan mengangguk, membalas juluran tangan itu dan kebingungan. Apakah ia harus menyebut namanya juga? Apakah harus menyebut nama asli atau mengarang nama? Atau lebih baik diam saja.
Maka Devan memilih diam, tetapi pria dihadapannya tiba-tiba berbicara.
"Kau pasti Devan, kan?"
Deg. Devan mundur selangkah, menenggak ludah.
"Hahaha... Tak perlu takut. Demi jenggut merlin, aku tak akan memberitahukannya pada siapapun."
"Tetapi darimana kau tahu?"
"Maskermu tidak cukup menutup seluruh wajahmu."
Devan mulai memikiekan cara untuk lari dari apartemen ini sekarang juga. Bayangannya tentang wartawan yang tiba-tiba berkerumun depan kamarnya terlintas di benaknya.
"Tak perlu khawatir Dev. Tak akan ada wartawan yang visa naik di sini. Penjagaan sangat ketat di bawah. Lagi pun, aku juga tak peduli siapa kau. Aku hanya senang bisa punya tetangga satu negeri. Tetanggaku di sebelah sana lagi adalah pelajar Amerika pemabuk yang sering mengataiku si mata sipit sialan."
Mereka berdua khirnya duduk di sofa. Mathew bercerita kalau dia memang anak orang berada. Ayahnya adalah seorang pemilik tambang batu bara, sementara ibunya punya tambang minyak bumi. Ia juga bercerita kalau dia anak kedua dari tiga bersaudara dan dia satu-satunya pembangkang yang memilih lari dari rumah.
"Orang tuaku sudah cerai sejak aku berumur delapan tahun. Jujur, aku iri pada Dev. Bagaimana Lucas dan Shira bisa menyatu kembali setelah lama berpisah. Maaf, tetapi awalnya kukira utu hanya sensai belaka, tetapi ini sudah bertahun-tahun, mereka juga tak ada lagi projek main film bersama. Mereka sibuk mengurusi bisnis, kan?"
"Ya"" kata Devan singkat. Walau begitu, jujur dia merasa sedikit lebih baik. Sepertinya Mathew pria yang baik.
"Oh iya omong-omong kenapa kau kemari? Mau lari dari penggemar?"
Devan mengangguk, dia malas memberitahu tujuan sebenarnya mencari teman masa mudanya. Lagi pun itu memang jadi salah satu alasannya.
"Kau sendiri, kenapa memilih pergi?"
"Sudah kubilang aku broken home Dev. Aku benar-benar tak betah tinggal di rumah. Papa suka memanggil perempuan sialan ke rumah. Kalau mama dia sudah menikah lagi dan aku ada dua adik dari sana, suaminya pria b***t yang suka mengumpatiku."
Devan terdiam. Dia tahu betul apa yang terjadi karena dia pernah berada di posisi Mathew.
Mathew mengabaikan itu, membuka kotak bekalnya dan ada rendang di dalamnya.
"Salah satu hak yang kurindukan dari sana hanyalah masakannya. Selama bertahun-tahun aku belajar membuat ini dan akhirnya berhasil, walaupun tak sama persis. Disini susah mencari rempah, tak ada sereh, lengkuas. Aku pakai jahe."
Mata Devan berbinar-binar.
Maka mereka berdua akhirnya makan bersama sambil menikmati movie harry potter keempat. Film musim dingin yang tayang pagi ini.
Devan menatap Mathew sekali lagi. Memastikan dirinya kalau Mathew benar-benar pria yang baik.
"Kalau kau ada waktu aku mau mengajakmu ke Art Gallery of Ontario. Kebetulan aku ada tugas meneliti di sana. Mau ikut?"
Devan mengangguk setelah terbangun dari lamunannya. Lanjut mengunyah rendang. Kalau Brio tahu dia pasti akn ditegur karena makanan itu penuh lemak dan menambah berat badan.
---
ANDI POV :
Aku berganti pakaian. Lagi-lagi menggunakan sweater. Mama benar-benar menyiapkan segalanya untukku, ada sekoper baju untuk musim dingin. Bekum lagi sepatu, padahal kubilang pada dia kalau banyak toko penjual pakaian di sini. Tetapi dia pasti cemas, karena aku tak akan punya waktu untuk itu dan dia benar.
Sore yang dingin. Salju kembali turun setelah sebelumnya reda siang harinya. Aku ikut Mathew ke galeri seni itu.
Galeri Seni Rupa Ontario (bahasa Inggris: Art Gallery of Ontario (AGO) adalah sebuah museum seni rupa di Toronto, Ontario, Kanada. Koleksinya meliputi lebih dari 90 ribu karya dari abad pertama sampai masa sekarang.
Mathew membawa kamera, catatan kecilnya serta pena. Dia mencatat setelah mengambil gambar. Sementara aku menikmatinya. Gambar-gambar ini pasti akan sangat indah di mata parka karya seni. Tetapi bagiku, ini sangat membosankan. Bukan tanpa sebab, sedari dulu aku tak suka gambar abstrak dan seni aneh macam ini. Aku lebih suka melihat pemandangan realistis langsung. Tetapi kurasa, kalau Sakura ada di sini dia pasti akan sangat menyukainya. Karena teringat akan Sakura membuatku beralih. Lebih memilih bermain ponsel dan mencari Sakura Kanada di pencarian internet. Ada puluhan. Apakah aku bisa mencari identitas mereka satu persatu? Atau tidak. Atau bahkan tidak ada satupun perempuan di gambar ini yang menunjukkan kalau itu Sakura yang ia cari.
Devan kebingungan dan ia menemukan alasan kalau saja ada anak yang ingin diberi nama berikan dia nama terunik yang tidak ada duanya. Nama Sakura benar-benar pasaran. Sekarang bukan hanya orang Jepang yang menggunakannya. Seperti Sakura yang kutahu. Dia tak punya keturunan Jepang sama sekali.
Satu lagi hak yang membuat pikiranku semakin gusar. Bagaimana kalau Sakura benar-benar telah meninggal.
Aku tak akan lupa kalau dia pergi ke Kanada bukan untuk liburan. Melainkan berobat dan logika sederhananya yang harus kusadari sedari awal adalah kalau dia benar masih hidup dan masih sehat, tentu saja dia akan kembali ke negeri dimana dia berasal.
"Bagaimana, indah bukan?"
Mathew mengejutkanku. Pria kurus ringkih bermata sipit dengan kacamata bundar itu bertanya apa aku menyukainya? Kalau kubilang tidak rasanya tidak etis, kalau kubikang ya, aku akan berbohong. Bukannya aku tak suka. Hanya saja, tempat ini rasanya seperti benar-benar membosankan dengan gambar-gambarnya. Ditambah lagi aku tak menyukai sejarah.
Hari sudah gelap saat kami keluar dari galeri itu.
Salju masuh turun. Saat di perjalanan pulang, Mathew berceloteh tentang tentang karya seni dalam galeri tadi. Tentang sebuah gambar abstrak di abad 18 yang memanjakan mata. Penuh nilai seni yang terdengar seperti "karya ini senilai milyaran dollar" di telingaku.
Mathew sendiri mengambil jurusan seni di Toronto University. Alasan kenapa dia kabur karena prang tuanya berharap dia mengambil jurusan bisnis dan membantu kakaknya melanjutkan bisnis keluarga. Tetapi Mathew menolak dengan bersikeras akan membongkar rahasia keluarganya yang entah apa, aku sendiri tak tahu dan aku juga tak ingin memintanya lebih detail padanya.