DAY 4 IN CANADA

1208 Kata
ANDI POV :  Hari keempat, aku tak juga menemukan kabar tentang Sakura. Kulihat foto profil di media sosial. Kudapati empat sosok yang kusangka itu adalah Sakura. Berambut panjang dan diambil gambarnya dari belakang. Kulihat alamatnya dan hari ini aku akan menemui mereka.  Sosok pertama tinggal di apartemen di tepi Barat kota Toronto. Aku memesan taksi. Melewati jalanan kota dan berharap kalau sosok inilah Sakura. Walaupun ada rasa pesimis. Karena kalau dia benar Sakura, rasanya seperti keberuntungan terbesar. Lebih ke mustahil sih. Aku berjalan memandang aparyemen berplang Biru. Memasukinya dan bertanya apa ada perempuan bernama Sakura di apartemen. Sang penjaga di sana memandang kertas besar sebelum kembali.  "Ya, ada," katanya dengan Bahsa Inggris aksen India yang khas. "Dia di kamar nomor 154. Ada apa Nak?"  "Aku mencarinya," jawabku. "Aku sedang mencari orang bernama Sakura di kota ini." "Mencari nama Sakura di seantero kota. Yang benar saja, Nak. Buat apa? Tak adakah petunjuk lain. Kau bisa menghabiskan waktu seumur hidup untuk itu."  Aku tersenyum getir. Tertawa tertahan. Perempuan tua India dihadapanku hanya membuatku semakin putus asa. "Ah tetapi kalau kau nekat, tunggu ya." Dia beralih ke telepon. Menekan angka dan menaruh gagang di kupingnya. Lalu kedua kupng dan bahunya direkatkan sementara tangannya membaca majalah. "Halo, apa benar ini Sakura dari kamar 154..... Ah benar?..... Ok...... Ada yang mencarimu, kalau kau tak keberatan turunlah ke lantai dasar..... Ok terimakasih." Perempuan India tua itu menghampiriku kembali.  "Tunggu sejenak ya anak muda." Dia membuka majalah kembali, sebelum akhirnya menutupnya dan bertanya. "Kau ada hubungan aoa dengan perempuan bernama Sakura?" Aku menunduk tersenyum kikuk dibalik masker. "Dia temanku di SMA." "Hah?!" Perempuan itu tersenyum mencurigakan. "Kurasa kau mencari cinta sejatimu anak muda." Aku langsung keselek ludahku sendiri.  "Tidak. Benar-benar hanya teman." "Astaganaga... Tidak mungkin kalau hanya sekedar teman kau sampai mencarinya sejauh ini. Kalau kau berhasil menemukannya, dan menikahinya, kisah hidupmu akan lebih menarik dari film India. Ah aku rindu pulang ke negaraku." Hening.  Aku tak mau bicara lagi. Tetapi apa yang perempuan ini katakan merasuki pikiranku seperti apakah aku dan Sakura memang hanyalah sekedar teman. Tetapi kembali kutentang dendiri dengan Sakura adalah teman perempuanku satu-satunya. Jadi jni adalah hal yang wajar sebagai bentuk teman yang rindu dan khawatir akan temannya.  Aku bertemu Sakura. Tapi bukan Sakura itu. Sakura di apartemen ini. Perempuan itu punya banyak freckles di bawah hidung. Wajahnya benar-benar beda. Aku bisa menebak kalau Sakura ini adalah England. Wajahnya benar-benar Eropa banget.  Aku meminta maaf. Membuka profil perempuan bermanama Sakura yang kedua dan berharap inilah Sakura yang kucari. Cobaan pertama tidak buruk, aku harus melakukan hal semacam tadi hingga ke banyak Sakura di kota ini sampai menemukan Sakura yang sebenarnya. Thomas Alfa Edison saja melakukan ratusan kali percobaan sebelum menciptakan bola lampu, kata orang-orang.  Sosok Sakura kedua tidak tinggal di apartemen. Melainkan perumahan dengan kotak pos merah tua di depan rumahnya. Aku mengetuk dengan sopan. Seorang pria berbadan tinggi kekar membuka pintu. Aku tersenyum kikuk.  "ADA APA!" katanya sangar dengan bahasa Inggris. "CARI SIAPA KAU HAH?!" "Sakura." "Sakura? Pacarku? Mau apa." "Ada apa sayang memanggilku?" Perempuan dengan mata sayu ikut keluar. "INI SAKURA, DIA MEMANGGILMU." Aku tersentak. Sakura? Ah sial. Aku salah orang. Bagaimana sekarang? Aku harus cari-cari alasan.  "Maaf kurasa aku salah alamat. Aku cari Sakura Frinjile di sosial media. Dia dari Iran,  "Iran?!"  "Aku mencari di sosial media dan tak menemukan alamat ini" "AH SALAH ORANG!!" BRUGHKKK!! Pintu menutup kembali. Lebih tepatnya di gebrak.  Aku meninggalkan tempat itu.  Sakura ketiga yang kukunjungi di Timur Toronto. Dia ternyata adalah seorang wanita parubaya yang tinggal bersama cucunya foto profilnya adalah foto profil cucunya yang berusia lima belas tahun. Sakura terakhir yang kukunjungi hari ini. Rambut persis seperti Sakura yang kukenal. Fotonya menghadap ke belakang dengan rambut lurus bergelombang. Aku datang ke tempat, rumah nomor 3CG di pusat kota Toronto. Halaman yang tertutup salju. Tak ada siapapun di dalam. Rumahnya kosong dan prasangkaku yang semakin besar membuatku memilih tingga. Aku punya harapan yang besar untuk bisa menemui Sakura yang kucari. Perempuan yang mengenalkanku akan hidup. Perempuan yang membuatku bisa mengerti bagaimana sejujurnya dunia terhadap kita bekerja.  Aku menunggu. Kalau kutunggalkan rumah ini sementara ternyata yang kucari adalah Sakura yang asli, aku tak akan menyesali diriku sendiri seumur hidup.  Pukul 9 malam.  Nihil. Aku memutuskan pulang. Dan berniat akan kembali besok dengan harapan besar. Sebenarnya aku bisa memilih tinggal lebih lama. Tetapi tukang pengeruk es jalanan berkulit putih dengan jaket bulu domba tebal sedari tadi menatapku penuh curiga.  Saat tiba di apartemen, Mathew menyambutku dengan penuh senyuman. Ia menenteng kotak bekal lagi dan kalian tahu apa yang ia bawa? Empek-empek buatannya sendiri. Dia benar-benar peia yang aneh yang kadangkala membuatku berpikir apakah ia benar-benar manusia biasa Indonesia yang tinggal di luar negeri. Atau dia sebenarnya juru masak andal yang menyamar jadi mahasiswa. Skill memasaknya benar-benar patut diperhitungkan. Padahal bahan-bahannya sangat susah ditemukan. Aku tidak akan heran kalau besok-besok dia membawakanku makanan seperti sate, gulai kambing, bubur manado, bubur ayam atau ketoprak.  "Terima kasih," kataku.  Mathew tersenyum dan menyalakan televisi. "Harry Potter 5 tayang sekarang." Katanya. Dan benar, baru saja dimulai. Aku menaruh empek-empek di mangkuk dan menaruh 2 piring. Kami makan bersama,    Mengingatkanku pada Alex, temanku dan Andi yang lain. Dia juga suka soda, ada dua botol soda yang dibawanya. Aku menolak. Karena aku tak suka minuman keras.  "Bagaimana rasanya jadi orang terkenal," tanya Mathew, saat wajahnya mulai kemerahan.  "Tidak buruk," kataku.  Mathew tertawa kecil. "Jelas tidak buruk. Menjadi terkenal adalah impian banyak orang." Benar yang dikatakan Mathew. Aku harusnya banyak bersyukur kalau dipikir-pikir. Sepanjang hidup aku tak pernah punya masalah finansial sama sekali. Tetapi untuk mendapatkan itu keluargaku benar-benar harus bekerja keras. Kalau kami tidak terkenal, kurasa aku tak akan bisa hidup seperti sekarang. Ayahku adalah seorang Lucas yang tak tahu bekerja apa selain memerankan tokoh mafia antagonis di movie. Sementara Shira juga seorang artis dan bukunya emang laku terjual. Maksudku Mathew punya hidup lebih menyenangkan, bukan? Dia bisa melakukan apapun yang dia mau, tanpa harus jadi terkenal. Orang ruanya pengusaha sukses, walaupun aku tak tagu siapa. Yang jelas bukan orang biasa.  "Hati-hatilah hidup Dev. Di luar sana penggemarmu berkeliaran. Untungnya kau tinggal di apartemen. Tetapi mau apa lagi sih? Kalau sebulan juga bakalan banyak orang yang datang ke sini. Kau harus cari tempat aman kalau identitasmu dikenali. Kau sudah cek HP?" Aku menepuk jidat. Aku sampai lupa gelah membuat video klarifikasi. Aku mengubh pengaturan dan menerima banyak berita di Kanada sampai lupa saat aku membuka handphone, banyak sekali pesan yang masuk. Dan di sana benar-benar lagi heboh-hebohnya atas kehilanganku.  Kuhubungi Brip mengenai ini. Dia bilang mereka seperti berduka dan meminta klarifikasi atas kepergianku kepada Lucas dan Shira.  "Kau terkejut?" Tanya Mathew saat menenggak gelasnya yang ketujuh. Dia sebentar lagi akan benar-benar kehilangan kesadaran diri. "Apa yang mereka katakan?" Aku tersenyum getir. "Mereka benar-benar mencariku."  "Kalau sudah begitu seoerti yang kubilang kau harus berhati-hati." Aku mengangguk. Menghela napas berat. Kuharap semoga ini terjadi satu-dua hri saja sebelum akhirnya mereka berani melepaskanku.  Film Harry Potter sudah lewat setengah jalan. Ini adalah movie andalanku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa fokus. Seperti ada sesuatu yang membuatku kepikiran dan aku tak perlu bertanya lagi apa. Ini pasti karena penggemarku. Kutatap Mathew di sebelah. Dia tertidur pulas, wajahnya benar-benar kemerahan. Kuperhatikan gelas-gelas di meja dan menyadari kalau Mathew telah meminum tiga botol malam ini. Benar-benar pemabuk andal.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN