Udara hangat sore hari yang menyapu sebuah gedung perlahan berhembus dingin, begitu juga dengan sikap seorang wanita yang tak peduli bahwa kini sendirian di dalam ruangan, dinginnya udara yang pelan pelan menelusup masuk, bercampur dengan sejuknya AC, tak menggetarkannya segera pulang dari tempat kerja yang sudah selesai jam kerja.
Detik berjalan, menit menggantikannya, dan setelah tiga puluh menit berlalu Dinda yang sedang berkutat di atas meja kerja, mengeprin data data, lalu menata kertas kertas nya, membendelnya jadi satu lalu memekik lega, “akhirnya…, selesai juga,” tukasnya sembari meregangkan otot-otot nya yang kaku.
Yang pertama Dinda lakukan setelah memasukkan berkas ke dalam tas,
memesan ojek, setelah itu berdandan seperti biasa, sekedar merapikan riasan agar terlihat kembali segar, lalu bergegas merapikan mejanya.
Dinda melangkah meninggalkan ruangan nya yang sudah sepi, ‘lebih baik pulang paling akhir daripada besok ia harus buru-buru,’ pikir Dinda. Sebenarnya bisa saja pekerjaan itu ia bawa pulang, namun bekerja di samping putrinya justru merepotkan, kerjaan yang harusnya bisa selesai dalam waktu setengah jam di kantor, bisa jadi dua jam ketika ia bawa pulang ke rumah. Ada saja kelakuan putrinya ketika merasa tidak diperhatikan, rewel minta ini - itu, berisik ingin begini - ingin begitu, ada saja yang dilakukan Bella untuk menarik perhatiannya.
Sambil berjalan, Dinda mengecek ponselnya, berjaga jaga jika ada pesan dari putrinya. Firasatnya benar, dengan pesan suara, Bella minta dibelikan burger, tapi burger yang di minta harus dari penjual yang memakai gerobak kuning. Pinta Bella melalui pesan suara.
Di depan lift yang masih tertutup, Bibir Dinda tersenyum, bergumam pelan, “ada aja yang di minta, mana ingat mama sama mamang penjual burger gerobak kuning.” lirihnya sambil mendengar berulang ulang suara Bella yang terdengar imut.
Tring…
Pintu lift akhirnya terbuka, dinda masuk, ia sendirian dan masih tak memperhatikan sekitarnya, hingga…,
Grep…!
Sebuah lengan kokoh menahan pintu, membuat pintu lift otomatis terbuka. Dan mata gadis itu seketika melebar menatap seorang pria masuk. Parfum maskulin seketika menyergap hidung Dinda, menguar memenuhi lift yang kemudian tertutup.
Tap…
Tanpa sadar kaki Dinda mundur, terkesima melihat sosok pria tinggi dengan setelan jas hitam menatap dirinya, tidak mungkin dia pria yang dulu di Kalimantan, tempat dirinya dan keluarganya dulu tinggal. Pria itu masih sama tampannya dengan dahulu, namun kini terlihat lebih dewasa, lengannya lebih berotot, dan bahunya lebih lebar, rahangnya tegas, dan matanya yang tajam menghujam wajahnya.
Dinda membuang muka, kembali menatap layar ponselnya, menggeser geser tanpa tahu harus melihat apa. Entah mengapa hanya dengan melihat pria itu pikirannya seketika jadi kacau. Ingatan ingatan masa lalu yang menyakitkan terasa menusuk hatinya.
“Kamu Adinda?” tanya pria itu dengan mata berbinar, bibirnya tersenyum, senyum yang dulu jarang ia lihat.
Mata pria itu berkaca kaca, perlahan tangannya meraih jemari lentik Dinda, menggenggamnya lembut, “kenapa kamu tidak bilang kalau kerja di sini? Aku mencarimu kemana mana.” ucap pria itu dengan suara bergetar.
Dinda mematung, terkejut, syok, benci, dan rindu yang datang secara bersamaan membuat otaknya seketika blank.
“Dinda? Kamu…, nggak lupa sama aku kan?” Pria itu mulai menyadari sikap aneh wanita di depan nya, cuek, tak merespons setiap kata katanya, “nda, kita dulu…,”
“Maaf, kamu salah orang, aku bukan Dinda.” sela Dinda. Tepat setelah itu pintu lift terbuka. Buru buru ia keluar, sedikit berlari agar segera menghilang dari pandangan pria yang berdiri membeku di dalam lift.
***
‘Bodoh bodoh bodoh…!’ seorang wanita mengutuk dirinya sendiri ketika berada di atas motor ojek.
Menatap tak percaya id card yang menggantung di lehernya. Pria itu…, ah lebih tepatnya, Juno. Laki laki sehebat Juno pasti sadar kalau dirinya sedang berbohong, orang id card nya saja jelas bernama Adinda Kamilia, dan pria itu pasti melihatnya.
Dan…, apa tadi? Dia masih memanggil ku dengan sebutan, Nda? Padahal dulu ia sudah memberitahu kalau dia benci di panggil, nda. Tapi Juno tak peduli, malah seperti di suruh memanggilnya nda, dan sampai sekarang pria itu masih melakukannya. Aku benci kamu, Juno!
Dinda menghela nafasnya berat, bingung, di saat dirinya baru saja menemukan tempat kerja yang cocok, ada saja sesuatu yang membuatnya tak betah. Juno bagai musibah yang tak di inginkan, bagai jelangkung yang datang tak diundang, dan dulu pergi tanpa ia antar, alias pergi meninggalkannya tanpa memberi penjelasan.
Haruskah dirinya keluar dari perusahaan itu, hanya demi untuk menghindari Juno? Jangan bercanda Din, ingat, Bella butuh s**u, makan, jajan. Tapi bagaimana caranya agar tidak lagi bertemu Juno? Haruskah ia pakai gamis dan cadar? Atau cukup masker saja? Aha… itu dia! Besok ia kerja dengan memakai masker.
Tapi…, bagaimana kalau Juno mencarinya? Semua orang di ruangan nya kan tahu siapa namanya? Ah… bagaimana ini? Tanpa sadar Dinda menjatuhkan kepalanya di bahu sang driver.
“Ada apa mbak? Ngantuk?” Tanya sang driver wanita salah faham.
Di atas bahu sang driver wanita, Dinda mengangguk pasrah, tak ingin curhat tentang hatinya yang sedang galau.
“Jangan tidur, Mbak. Nanti jatuh, bentar lagi datang.” pinta sang driver.
Dinda pun mengangkat kepalanya. Ia harus semangat, jangan sampai tiba di rumah dengan wajah kusut, karena putri paling di cintainya sedang menunggu, dan ia akan beli hamburger pesanan Bella di sekitaran kontrakan nya saja.
Bersambung…