Tring…
Pintu lift yang sejak tadi di tunggu Dinda akhirnya terbuka. Ia masuk.
Saat pintu hendak menutup, sebuah tangan tiba tiba menahannya dari luar. Pintu pun akhirnya terbuka lagi. Seseorang yang memasuki lift membuat mata Dinda melotot, bibirnya terkunci, tanpa sadar kakinya mundur.
***
Deru motor ojek berpacu dengan waktu. Semakin cepat melaju karena sang klien mengeluh ingin segera sampai di tempat kerja secepat mungkin. Walau terkadang di hadang macet, menyusuri lorong tikus pemukiman padat penduduk, ojek itu akhirnya tiba di perusahaan tempat klien nya bekerja tepat waktu.
“Terima kasih.” ucap Dinda riang. “Nanti aku kasih full bintang.” tambahnya seraya mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.
“Siap, terima kasih.” Jawab sang ojek wanita dengan bibir yang mengembang. Ya Dinda memang selalu menggunakan ojek wanita. Rasanya ia lebih nyaman saja ketika harus memegang tubuh sang ojek.
Dinda lalu berjalan cepat, tidak, ia berlari lari kecil masuk ke gedung, jam berangkat nya terlalu mepet dengan jam masuk kantor.
Begitu tiba di lantai lima belas tempat ruangnya berada, Dinda justru langsung masuk ke dalam toilet, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ia berdiri di depan cermin. Tenang, ini sudah di kantor, Dinda menenangkan dirinya.
Sebelum Dinda berangkat kerja, Bella membuat drama, ia rewel minta makan dengan nugget, tentu saja Dinda harus memberi pemahaman bahayanya makanan olahan. Belum selesai di situ, Bella kembali menangis ketika mandi, katanya dingin. Dinda sempat emosi, apanya yang dingin? Padahal dia sudah menyiapkan air panas di bak khusus untuk mandi putrinya, belum lagi Bella tiba tiba minta bab di tengah mandinya, lama, hingga membuat air nya dingin. Otomatis Dinda harus merebus air lagi.
Jika biasanya saat bu Sum tiba, Bella sudah rapi dan sudah sarapan. Pagi ini gadis kecil itu masih di kamar mandi, setelah itu sarapan dengan drama rengekan, rewel lagi karena lauknya tak cocok. Dinda yang makin stres akhirnya menyuap paksa Bella dengan sedikit omelan.
Setelah semua urusan Bella selesai, tangan Dinda menyambar tas, memakai sepatu secepat kilat, dan di atas ojek menyisir rambutnya dengan jari jarinya.
Kini di depan cermin toilet kantor, gadis dua puluh empat tahun itu menyisir rambutnya yang sepinggang dengan sisir yang selalu ia bawa dalam tas, memakai make up tipis tipis, dan saat memakai lipstik seorang wanita yang masuk ke toilet memandang tak suka ke arah dirinya.
Norak banget! baru datang langsung dandan. Mau narik perhatian siapa sih? Begitulah arti pandangan itu. Tapi Dinda akhirnya cuek, melanjutkan memakai lipstik, setelah itu merapikan bajunya. Dan ia baru sadar, ia memakai rok yang agak pendek, tepat di atas lututnya.
Oh tidak, rok model ini adalah baju yang paling ia hindari. Selain tak nyaman untuk berjongkok, rok ini juga memperlihatkan betapa indah kakinya. Pantas wanita tadi melihat tak senang ke arah dirinya.
Dinda menyesali keteledoran nya, karena terlalu frustasi ia tak terlalu memperhatikan setelan baju, kini ia harus menanggung akibat memakai baju yang menonjolkan kecantikannya, baju yang hanya ia pakai saat main ke mall atau rekreasi, namun tetap cocok untuk kerja.
Dinda mematut pantulan dirinya di cermin, rambutnya yang hitam dan lembut terurai hingga pinggang membingkai wajahnya semakin cantik, bajunya yang tanpa kancing di bagian leher memperlihatkan lehernya yang jenjang dan bersih, dan roknya yang setinggi lutut memamerkan kakinya yang indah.
Nafas Dinda tercekat, sadar betapa cantik dirinya hari ini, santai Din, cewek cewek di sini juga banyak yang cantik kok, kecantikanmu nggak berarti apa apa di sini. Dinda menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, berusaha menenangkan dirinya, berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi hal buruk karena penampilannya.
Dinda akhirnya keluar dari toilet. Berusaha bersikap biasa biasa saja, menyapa setiap orang yang menatap dirinya dengan anggukan dan senyuman. Sadar, orang orang menatap takjub dirinya.
Karena terlalu sibuk membungkuk untuk menyapa orang orang, Dinda tak sadar, tas di lengannya perlahan melorot dan akhirnya, bruk…
Tas Dinda jatuh di lantai. Buru buru Dinda mengambil tasnya, namun seseorang tiba-tiba memungut tas nya, Dinda pun mengangkat wajahnya, terkejut, yang mengambil tasnya ternyata seorang pria tampan, tapi Dinda tak mengenal nya, pria itu tersenyum padanya.
“Jangan jatuhkan tasmu sembarangan Dinda.” ucap pria itu, senyumnya cerah, secerah wajahnya yang tampan. “Tapi kalau hatiku yang jatuh gak papa, hatiku sudah jatuh sejak pertama kali melihatmu.” ujar pria itu, sembari mengulurkan tas Dinda. Senyum menggoda tak pernah luput dari bibirnya.
“Terima kasih.” ucap Dinda singkat, sedikit senyum tersungging di bibirnya. Kemudian Ia berlalu pergi. Namun pria itu tiba-tiba berdiri di hadapan Dinda, tubuhnya yang tinggi dan besar menghalangi jalannya.
“Kenalkan, namaku Alan. Kita satu divisi.” Alan mengulurkan tangannya mengajak Dinda salaman.
Dinda menyalami Alan. “Dinda.” ucapnya singkat.
“Aku duduk di sana.” Alan menunjuk kursinya yang lumayan jauh dari tempat Dinda. “Kalau ada apa apa atau kalau butuh sesuatu aku selalu siap membantumu.” ucapnya.
Dinda menarik tangannya, tapi tak bisa. Alan masih memegangnya erat.
“Kalau butuh teman aku juga siap menemanimu.” Tambah Alan.
“Lepasin tanganmu, Dinda takut tuh.” Rudi sang manajer tiba tiba muncul, menepuk pelan tangan Alan yang masih menggenggam tangan Dinda.
“Oh ya, maaf aku lupa. Aku kira aku sedang megang kucing, habis sama sama lembutnya.” Alan cengar cengir, dan akhirnya melepas tangan Dinda.
Dinda pun akhirnya pergi ke mejanya, berusaha bersikap biasa biasa saja. Tiara dan Laila menyambutnya dengan senyuman menggoda, rupanya dua orang itu juga memperhatikan Alan sedang merayunya.
“Jangan masuk ke jebakan cintanya, Din.” Tiara menarik kursinya, lalu menghempaskan tubuhnya.
“Alan itu playboy.” Terang Laila sambil menunjuk Alan dengan pulpen bulunya. “Sudah banyak cewek di sini yang bergiliran jadi ceweknya.”
“Dia tuh salah satu korbannya.” Tiara menunjuk Laila dengan ujung dagunya.
Kedua alis Dinda terangkat. Senyum kecil muncul di bibirnya. “Terima kasih informasinya, tapi aku juga tau cowok yang cuma penasaran sama kita aja. Mereka cenderung meninggalkan setelah mendapatkan sasaran nya.”
“Nah itu pinter, jangan kemakan gombalan Alan.” Tiara memberikan jempol untuk Dinda.
Hari itu berjalan lancar seperti kemarin. Dinda bekerja sesuai standar. Tanpa terasa haripun berlalu. Bersyukur karena frustasi yang ia bawa dari rumah tak berlanjut di kantor. Kesibukan akhirnya mengalihkan perhatiannya, menghibur nya, hingga membuatnya mampu tersenyum dan tertawa. Tak ada yang membuat Dinda sedih kecuali bibir cemberut yang ia temui di toilet pagi tadi.
Namun pekerjaan Dinda ternyata belum rampung tatkala jam pulang tiba, ia akhirnya menyuruh Laila dan Tiara pulang duluan, ia pulang setelah merampungkan pekerjaan nya yang tinggal sedikit.
Tanggung, tinggal dikit lagi. Pikir Dinda seraya mengetik. Tak keberatan walau teman-temannya kini sudah pulang.
Setengah jam akhirnya berlalu, dan Dinda selesai dengan pekerjaannya. Setelah merapikan meja, Dinda merapikan make up-nya pula, menyampirkan tasnya di bahu, lalu berdiri.
Sambil berjalan, Dinda mengecek ponselnya, melihat apakah ada pesan dari putri kecilnya? Kaki Dinda melangkah menyusuri meja meja yang telah kosong. Bibirnya tersenyum saat mendengar pesan suara dari putrinya, bahwa gadis kecilnya menginginkan burger yang enak, burger yang pernah di belinya dari mamang di pinggir jalan, gerobaknya warna kuning, Dinda tertawa, tentu saja dia tidak ingat penjual yang di maksud Bella.
Bibir Dinda senyum senyum mendengar suara Bella yang berceloteh, terdengar imut dan menggemaskan, memesan burger yang Dinda tak ingat ada di mana lapak mamang penjual burger itu.
Kaki Dinda terus berjalan menuju lift, ruangan ruangan di lantai itu telah sepi, menyisakan beberapa orang saja. Karena terlalu fokus dengan ponselnya, Dinda tak menyadari mata tajam seseorang sedang mengamatinya, pria itu berdiri bersandar di depan lift khusus para eksekutif.
Tring…
Pintu lift yang sejak tadi di tunggu Dinda akhirnya terbuka. Kakinya nya melangkah masuk, namun matanya tetap fokus di layar ponsel, lift itu sepi, hanya ada Dinda.
Saat pintu hendak menutup, sebuah tangan tiba tiba menahannya dari luar. Pintu pun akhirnya terbuka lagi. Seseorang yang memasuki lift membuat mata Dinda melotot, bibirnya terkunci, tanpa sadar kakinya mundur.
Bersambung…