Langit pagi membentang bak samudra biru di angkasa, cerah benderang, dengan sengatan hangat mentari yang membelai, sehangat hati Dinda yang baru saja turun dari ojek.
Kaki jenjangnya berbalut sepatu berhak tinggi warna coklat, tampak serasi dengan celana panjang khaki yang membalutnya apik. Blus putih bersih dan rambut panjang yang terkuncir ke belakang menambah kesan percaya diri pada Dinda saat ia melangkah mantap menyusuri trotoar, memasuki pelataran gedung modern menjulang tiga puluh dua lantai.
Sebuah plang raksasa bertuliskan “Hasegawa Medical Company” berkilau memantulkan cahaya matahari, menghiasi halaman depan gedung. Sejenak Dinda berhenti, mengabadikan momen dengan berfoto berlatar plang nama gedung itu, jari-jari tangannya membentuk simbol damai. Senyum merekah… ckrik!
Dinda tersenyum puas menatap hasil fotonya. Foto itu harus segera ia unggah ke statusnya. Semua karyawan yang dulu mengusirnya dari kantor hanya karena parasnya terlalu jelita, kini harus melihat bahwa ia telah berkarya di kantor pusat, jauh dari mereka yang masih berkutat di kantor cabang Semarang.
Hati Dinda kian bergemuruh bahagia saat kakinya menapak lantai dasar gedung. Gedung ini adalah pusat berkumpulnya para profesional di berbagai aspek kesehatan; mulai dari perancang alat medis, produsen obat-obatan, hingga pakar kecantikan, semuanya terhimpun di sini. Tak hanya itu, perusahaan ini bahkan memiliki rumah sakit dan universitas khusus di bidang kesehatan.
Dengan penuh gaya, Dinda menempelkan kartu identitasnya pada mesin pemindai otomatis. Sesuai arahan manajernya kemarin, ia kini melangkah menuju lift, mendaki ke lantai lima belas, tempat divisi produksi, tepatnya bidang desain.
Di lantai lima belas, Dinda mencermati setiap ruangan, langkahnya terhenti di depan sebuah pintu bertuliskan "Design and Creative".
Begitu pintu terbuka, suasana kerja yang dinamis langsung menyambutnya. Orang-orang berlalu-lalang, seolah tak menyadari kehadirannya. Dinda mencari seseorang, pandangannya akhirnya tertuju pada meja bertuliskan "Manajer".
Sejenak Dinda berbincang dengan sang manajer bernama Rudi, pria paruh baya itu berusia sekitar empat puluhan. Perawakannya tidak terlalu tinggi, rambut hitamnya tersisir rapi ke samping, dan senyum ramahnya sedikit meredakan kegugupan yang Dinda rasakan.
Rudi kemudian berdiri di tengah ruangan, "Perhatian!" teriaknya, seraya bertepuk tangan sesaat. Sontak, perhatian semua orang beralih tertuju pada Dinda dan Rudi.
“Kita punya anggota baru yang sangat cantik,” Rudi menunjuk Dinda, lalu menoleh padanya, “Silahkan perkenalkan dirimu.”
Jantung Dinda berdetak lebih cepat. “Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…” Belum sempat Dinda melanjutkan, para karyawan langsung menjawab, terutama para pria. Beruntung, tak ada siulan menggoda yang terdengar, siulan itu membuatnya trauma, mengingatkannya pada tempat kerjanya yang dulu.
"Perkenalkan, nama saya Adinda Kamilia, usia saya dua puluh empat tahun. Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Mohon bimbingannya," ucap Dinda sambil tersenyum, lalu mengangguk pelan.
“Oke, siap membantu, Mbak Dinda!” teriak salah seorang karyawan muda, membuat semua mata beralih padanya. Pria itu pun seketika nyengir malu.
Tangan Dinda mencengkeram celananya, bibirnya terkatup rapat. Apakah penampilannya masih terlalu mencolok? Padahal ia sudah berusaha tampil biasa saja; rambut panjangnya dikuncir ke belakang, tak ada lekuk tubuh yang ia pamerkan dari bajunya, bahkan celananya sedikit kedodoran, menyembunyikan kaki jenjangnya yang indah. Riasannya pun hanya tipis-tipis. Ah, seharusnya aku tadi memakai tompel di pipi, sesalnya dalam hati.
"Baiklah, cukup sekian perkenalannya. Jaga sikap dan jangan sampai ada teguran." Rudi mengingatkan. Dengan isyarat tangannya, semua orang kembali pada kegiatan masing-masing. Padahal jam kerja belum dimulai, tapi sebagian besar sudah berkutat dengan pekerjaannya.
Rudi kemudian mempersilahkan Dinda duduk di salah satu kursi, di depannya sebuah meja lebar terbagi menjadi enam bagian, setiap kursi dibatasi sekat, dan masing-masing dilengkapi komputer.
Sebelum Dinda duduk, lima orang yang semuanya perempuan duduk di meja yang sama, menyalaminya sambil memperkenalkan diri. Mereka adalah Devi, Rima, Kania, Tiara, dan Laila.
Untunglah tidak ada yang menatapnya sinis, berbeda dengan pengalamannya dulu di Semarang, di mana para karyawan wanita selalu memandangnya sinis.
Mungkin karena stok wanita cantik di kantor itu terbatas, mereka jadi tak suka melihat dirinya yang cantik. Namun di sini, hampir semua wanita terlihat cantik, segar, dan berbusana rapi serta modis, yang semakin menambah kesan eksklusif. Dan Dinda dengan pakaiannya yang sederhana sepertinya tak terlalu menarik perhatian.
Hari itu akhirnya berjalan lancar. Dinda mulai mengerti pekerjaannya, selain karena sudah terbiasa, teman-teman sebangkunya, terutama Tiara dan Laila, mengajari dan membantunya dengan telaten. Dinda bersyukur keduanya lebih terbuka dan peduli padanya.
Tak terasa, langit biru akhirnya berganti keemasan, cahaya senja yang lembut menyapa kaca-kaca jendela kantor. Para karyawan pun mulai meninggalkan kantor.
Hari yang lancar dan menyenangkan ternyata terasa begitu cepat. Dinda yang sedang menata barang-barangnya ke dalam tas, lalu berdandan sedikit, sekadar memperbarui bedaknya, dan memakai lipstik tipis-tipis agar tidak terlihat pucat seperti mayat.
Tak hanya Dinda, hampir semua wanita di kantor itu juga melakukan hal yang sama, termasuk Laila dan Tiara.
“Pulang bareng kita aja, Din.” ucap Tiara yang memakai riasan lumayan tebal. Tangannya masih menjepit bulu matanya.
“Iya, Din. Pulang bareng kita aja,” sahut Laila. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu sedang memasukkan kotak riasnya ke dalam tas, lalu menyandang ransel hitamnya.
“Iya.” Jawab Dinda, ia duduk menunggu Tiara yang sedang memakai maskara.
“Sabar ya, dia memang begitu kalau pakai make-up. Lamanya minta ampun,” ucap Laila, duduk di sebelah Dinda.
Laila rupanya tak puas bertanya tempat tinggal Dinda saat istirahat tadi. Kini ia mencecar dengan pertanyaan tentang keadaan keluarganya, namun langsung meminta maaf saat Dinda mengatakan kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Setelah semua selesai, Dinda, Tiara, dan Laila berjalan bersama keluar ruangan, lalu masuk ke sebuah lift.
Laila dan Tiara kemudian memberitahu Dinda bahwa gedung itu memiliki empat lift, dua di kanan dan dua di kiri lorong, keempatnya saling berhadapan.
Dinda boleh naik lift mana saja, kecuali sebuah lift yang di atasnya bertuliskan "Only for Executive", karena lift itu hanya untuk para eksekutif, para petinggi perusahaan yang tak ingin berjubel dan berhimpitan dengan para karyawan, terutama saat jam masuk dan pulang kerja yang memang selalu penuh dan sesak.
Namun kini Dinda, Laila, dan Tiara hanya bertiga di dalam lift. Kantor sudah lengang karena Tiara terlalu lama berdandan.
Saat lift hendak menutup, lift eksekutif justru terbuka. Mata bulat Dinda seketika melebar, terkejut melihat sosok yang berdiri di dalam lift tersebut. Pria itu tinggi, terbalut jas hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya. Rambutnya yang tersisir rapi ke belakang terlihat menawan dengan beberapa helai yang menjuntai ke depan. Dan pandangan mata tajam pria itu menusuk Dinda tepat saat pintu lift eksekutif menutup.
Tring…
Pintu lift tertutup.
Tubuh Dinda seketika membeku, diam tak bergerak, bibirnya terkatup rapat, tak merespons pembicaraan Laila dan Tiara hingga lift akhirnya tiba di lantai dasar.
“Din, ayo keluar. Malah bengong.” Tiara menarik tangan Dinda keluar dari lift.
“Ada apa?” Tanya Laila.
“Aku… tadi melihat orang yang kukenal.” Mata Dinda menatap lift khusus eksekutif yang kini tertutup rapat.
“Masa sih? Bukannya kamu tadi bilang kalau nggak punya kenalan sama sekali di sini?” ucap Laila.
“Menurutku juga begitu, aku enggak punya kenalan di sini.”
“Ini bisa saja terjadi, kan? Teman yang dulu satu sekolah atau satu kampung ternyata ada di perusahaan ini juga. Perusahaan ini punya ribuan karyawan. Wajar.”
“Iya juga sih.” Sahut Laila.
Dan Dinda mengangguk pelan dengan mata yang tak pernah lepas dari lift eksekutif.
Itu memang bisa saja terjadi, namun ada yang aneh dan tak mungkin. Pria bermata tajam itu tidak seharusnya memakai jas warna hitam, seharusnya ia memakai jas putih, dan sebuah stetoskop menggantung di bahunya yang kokoh.
Ah, aku pasti salah lihat, enggak mungkin dia pakai baju begitu, ngapain juga dia di sini? pikir Dinda sembari pergi, menyusul teman-temannya yang sudah berjalan keluar.
Bersambung…