Pada akhirnya tidak seperti rencana awal. Zidan yang merencanakan akan tidur di ranjang yang sama dengan Kinar, namun setelah acara minum kopi dadakan itu dan dibarengi dengan pembicaraan yang sangat panjang, rencana berubah banyak. Zidan tidak di kamar itu lagi, melainkan keluar dan mencari angin malam hingga fajar menyingsing. Ia kembali lagi setelah cukup berjam-jam di luar. Kini ia hanya berdiri di depan ranjang tempat Kinar terlelap. Sorot matanya menatap Kinar begitu berarti. Ada banyak rasa yang terpendam dari sorot mata itu, sayangnya hanya bisa disembunyikan dengan rapi. Jika saja dia mengatakannya kala Kinar masih sedia dengan kesadarannya, mungkin rasa itu tidak akan membebaninya dan membuatnya sekacau ini. "Setelah aku berpikir panjang pagi ini, tetap saja jawabannya sama.

