Duduk bersila di ranjang dengan ponsel yang ada di depannya, Ify berkali-kali menghela napas panjang. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel saat terdengar bunyi notifikasi, lalu menghela napas kecewa setelah melihatnya. "Gue ngapain, sih?" rutuknya. Ify kemudian membaringkan diri, membiarkan ponselnya dalam keadaan terkunci di kaki ranjang. Matanya menerawang menatap langit-lagit, mencoba mendistrak pikiran yang sejak tadi gentayangan di otaknya. Sudah pukul sepuluh malam. Memang lebih baik dirinya tidur karena besok masih shift pagi. Ify memejamkan mata. Menghitung domba berharap ia segera tertidur seperti biasa, tapi sial sekali matanya tak bisa diajak bekerja sama. Ting! Mata Ify kembali terbuka lebar. Tubuhnya tanpa diperintah refleks bangkit dan mengambil ponsel, membuka k

