Calon Menantu

1713 Kata

Kirani melirik jam dinding sekolah dengan perasaan gelisah. Sedari tadi, ia sudah berkemas-kemas dengan cepat. Tas sudah ia siapkan di pangkuannya. Sepatu sudah ia kenakan dengan rapi. Ia siap pergi apabila waktu sudah mengizinkan. “Kok tumben nggak sabar ingin segera pulang, Ki?” tanya Dewi yang masih terlihat santai duduk bercengkerama dengan Laila. “Iya, ada apa, nih?” tanya Laila ingin tahu. “Hari ini tepat satu bulan ibuku diterapi, La. Aku ingin sedikit merayakannya, apalagi perkembangan Ibu juga pesat. Sekarang ibuku sudah tidak lagi makan bubur yang dihaluskan seperti bayi, sudah bisa makan yang agak kasar,” terang Kirani. “Wah ... Alhamdulillah. Aku ikut senang perkembangan ibumu menggembirakan,” ujar Laila antusias. “Makanya, aku mau sedikit merayakan hari ini. Aku ingin mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN