“Ibu serius ya suka dengan Arun?” Kirani duduk di sebelah Marni. Sepasang bola matanya menatap Marni dengan sungguh-sungguh, meminta penjelasan akan ucapan sebelumnya. Marni mengangguk. Seketika Kirani lemas. Kekhawatirannya yang sudah timbul sejak sebelum Marni mengalami kecelakaan sekarang menemukan penegasan. “Tapi ... tapi, Bu ....” Kirani meneguk ludah. Marni menatap Kirani. “Aku sama sekali tidak memiliki rasa apa-apa dengan Mas Arun. B saja rasanya. Biasa. Kalau ada kecocokan atau rasa nyaman, biasanya kan ada rasa berdesir-desirnya. Ini sedikit pun nggak ada, Bu.” Kirani menungkapkan isi hatinya. Pandangan mata Marni meredup. Selama sesaat, Kirani seolah-olah melihat ada rasa kecewa dan lelah terpancar dari sorot mata ibunya. Serta merta Kirani merasa bersalah. Namun apa bole

