“Bo—boleh,” Kirani terbata, saking terkejutnya. Kirani tak mengira bahwa Aldo akan menanyakan nomor ponselnya. Saat bertemu tempo hari, mereka hanya mengobrol biasa saja. Meskipun percakapan dengan Aldo cukup menyenangkan, tapi Kirani tak berani berharap bahwa Aldo akan tertarik lebih daripada sekadar teman kepada dirinya. Permintaan Laila barusan membuat Kirani merasa mendapatkan harapan baru. Apakah ia hanya merasa ge-er saja? Tapi mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat Laila menyebut nama Aldo? Ah ... “Sepertinya Mas Aldo suka mengobrol denganmu, Ki. Kata Mas Aldo sendiri lho ini,” ceplos Laila ceriwis. “Oya? Bagaimana katanya?” tanya Kirani ingin tahu. Detak jantungnya semakin bertalu tidak karuan. “Katanya kamu menyenangkan diajak mengobrol. Orangnya asyik, katanya,” ujar L

