“Kamu tidak mengenalnya, Mas,” kata Renata lirih. “Mengapa kamu lakukan? Mengapa kamu berkhianat?” tanya Fadhil dingin. “Semua ini salahmu,” sentak Renata mendadak. Matanya membelalak ke arah Fadhil. Ada kemarahan terpancar dari sorot mata itu. Fadhil mengerutkan dahi. Dia yang dikhianati, tapi dia yang disalahkan. Apakah telinganya tidak salah dengar? Mungkin Renata sudah kehilangan akal sehat. “Begitu? Coba sebutkan apa salahku,” tantang Fadhil. “Kamu pacar yang tidak peka, juga tidak bisa memahami keinginanku,” sembur Renata. Renata bangkit lalu bergerak ke arah lemari pakaian yang terletak di sudut kamarnya. Ia mengeluarkan baju-baju yang tergantung pada hanger dan terlihat mahal dari lemari, keluaran butik yang tidak sembarangan. Bahan dan potongan baju-baju itu terlihat sekali

