“Astagfirullah, Bu. Jangan berprasangka dulu. Kita tunggu saja, semoga Fadhil jujur,” tegur Kirani. Marni tersadar akan ucapan yang dilontarkan olehnya barusan. “Iya, ya. Astagfirullah. Ibu nggak sadar ngomong begitu,” sahut Marni seraya mengurut d**a. Kirani melirik arloji mungil yang melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk. Meskipun berbadan gajah, selera Kirani tetap imut. “Aku sudah hampir terlambat ke sekolah, Bu. Kita harus berangkat sekarang,” kata Kirani mengingatkan. “Oh, betul juga. Keasyikan membicarakan Fadhil sampai lupa waktu,” gumam Marni seraya bangkit berdiri. Setiap pukul 6 pagi, baik Marni maupun Kirani sudah berbusana rapi dan berdandan sederhana untuk berangkat bekerja. Marni pergi ke SD Negeri yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah mereka. Ia bek

