Kirani merasakan tenggorokannya kering. Sulit sekali untuk mengangkat suara di hadapan Arun. Sementara Kirani berjuang melawan rasa tercekik di tenggorokan, Arun terus menatap Kirani penuh pengharapan. “Aku—aku perlu waktu untuk memikirkannya, Mas.” Kirani berhasil berjuang mengeluarkan suara pada akhirnya. Arun mengangguk-angguk. Raut wajahnya masih saja serius. Ia mengusap sendiri dahinya setelah mendengar diplomasi Kirani. Ketegangan juga tampak nyata pada sorot matanya. “Aku mengerti. Kamu perlu menimbang masak-masak masalah sepenting ini,” ujar Arun pelan. “Be—betul, Mas.” Kirani menunduk. Sekarang dirinyalah yang mempermainkan jari-jemari di pangkuan. Kirani sengaja menundukkan pandangan. Ia tak berani menatap mata Arun. Ia takut isi hatinya dapat terbaca dari mata oleh pemuda

