Sudah Saatnya

1172 Kata

Fadhil menatap Dani lekat-lekat, menunggu jawaban dari Dani. “Aku sih selalu serius dengan gadis yang kusukai. Mana pernah aku mempermainkan hati,” kata Dani tegas. “Jadi ... ternyata kamu betul serius?” Fadhil terlihat lemas. Dani mengamati sikap Fadhil. “Kamu kok lemas? Kamu nggak suka?” desak Dani. Fadhil sendiri tak tahu mengapa ia tiba-tiba merasa lemas. Sama sekali ia tak menyangka akan begini reaksi dirinya sendiri. Setelah mendengar keseriusan Dani, Fadhil merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Apabila diibaratkan puzzle, seperti ada potongan puzzle yang hilang dari kumpulannya. “Kamu sudah bilang kepada Kirani tentang niatmu untuknya?” Fadhil tak menghiraukan pertanyaan Dani sebelumnya. “Belum. Aku masih melakukan penjajakan hati terhadapnya,” ujar Dani. Fadhil ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN