PoV Robin
sebenarnya aku tidak tega melihat
Nadira menangis seperti itu ,
tapi ... kalau aku tidak membohongi Nadira sudah di pastikan Nadira tidak akan mau menikah denganku
pertama melihat Nadira saat melamar di perusahaanku bisa di bilang aku sedikit tertarik dan penasaran dengannya,
kecantikan yang alami dengan tubuh profosional dan otak yang cerdas tidak heran banyak yang menyukainya
dan tidak sedikit yang iri melihatnya ,
hanya saja aku tidak ingin Nadira tahu apa yang saya rasakan terhadapnya
karena saya takut akan terulang kembali saat aku di hianati oleh wanita yang aku sayangi ,
sebenarnya malam tadi aku tidak melakukan apapun terhadapnya, yang membuka pakaiannya staff apartemen perempuan yang membantu ku agar terlihat seperti sungguhan,
saat melihat kulitnya yang putih mulus dan kaki jenjangnya yang sempurna ,
jiwa laki-laki saya keluar ingin sekali ku memiliki Nadira seutuhnya ,
tapi semua itu tidak aku lakukan
karena akupun menginginkan malam itu hanya saat Nadira menerimaku sebagai suaminya dengan rasa cintanya ,
aku sudah menyusun rencana sedemikian rupa agar nadira bisa menikah denganku ,
"udah cepat bangun , pakai bajumu ,
hari ini kita ke salon , agar penampilanmu tidak seperti buruk rupa "
ucapku sambil merapihkan rambutku
setelahnya kita berdua menuju ke salon untuk make over nadira,
saat itu mataku memebelalak melihat kecantikan yang pari purna ,
Nadira anak kampung yang lugu polos berkacamata , ternyata sangat cantik saat di make over meskipun dengan make up yang tipis
" beruntung sekali aku bisa memilikimu , meskipun aku tahu kamu tidak pernah menginginkanku " ucapku dalam hati
setelah sampai di rumah , saat mempertemukan Nadira dengan semua keluargaku,
aku tidak membuang kesempatan untuk memeluk pinggangnya ,
kurasakan sangat hangat dan menyenangkan , bisa memeluknya
sebenarnya aku ingin cepat-cepat berduaan dengannya di kamarku tapi ya aku tidak ingin dia mengetahuinya
saat aku masuk kamar , aku mendekati Nadira , sampai akhirnya Nadira jatuh di kasurku , dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengannya ,
ingin sekali ku menciumnya , mendekapnya , memeluknya , tapi aku takut dia menolakku
"kamu kalau mau mandi , handuknya ada di dalam kamar mandi terserah kamu mau pilih yang mana handuknya , oh iya bajumu ada di lemari nanti ganti saja "
ucapku sambil mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk berwarna putih
saat Nadira masuk kamar mandi ingin , rasanya akupun ikut menemaninya
pikiran jahatpun menghampiriku
saat Nadira mandi , aku sengaja mengunci lemari yang ada baju Nadira
supaya akupun lebih leluasa melihat tubuh indah Nadira ,
setelah berpakaian saya memutuskan untuk menelpon untuk membatalkan semua meeting di esok hari ,
saat aku masuk kamar , aku melihat pemandangan yang sangat indah ,
melihat Nadira tidur di kasurku dengan hanya memakai handuk putih yang sangat minim , dengan rambut yang basah
sangat cantik dan mempesona ,
membuat ku ingin segera memilikinya ,
aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatinya,
saat wajahku sangat dekat dengan Nadira dan akan mencium Nadira ,
tiba-tiba Nadira bangun
" kamu mau ngapain " ekspresi Nadira kaget melihatku akan menciumnya
" gak usah kepedean , saya hanya mau membangunkan kamu "
ucapku langsung beranjak menjauhi Nadira
" iya maaf , aku tadi ketiduran ,nyari baju aku dimana "
Nadira sambil merapihkan rambut panjangnya
" bajumu ada di lemari no3 , cepatlah pakai bajumu , kita ada pemotretan , oh iya orang tuamu sudah sampai , mereka sedang istirahat di kamar lantai 2 , gk usah di ganggu dulu , besok saja saat pernikahan kita "
ucapku sambil memainkan handphone , agar tidak terlihat sedang memperhatikannya ,
" kamu keluar dulu , aku mau ganti baju " pinta nya sambil membuka lemari
"enak aja , ini kamar ku, saya ini bos kamu, kamu nyuruh saya "
ku naikan nada bicaraku agar terkesan tidak menyukainya
" iya maaf pak , saya ganti baju di kamar mandi saja "
ekspresinya sangat kesal dan sedih
***
POV Nadira
entah sampai kapan pak Robin ada di dekatku
tapi saatku buka mata seolah pak Robin ingin menciumku , tapi ah masa iya , mungkin hanya perasaanku saja
*seandainya tadi dia menciumku , aku tidak akan menolaknya "
dalam hatiku sambil senyum-senyum
"ah , mikir apaan aku ini , sikapnya saja dia seperti membenciku , mana mungkin dia menciumku "
ucapku dalam hati sambil menuju lemari yang di tunjukan Robin bahwa bajuku ada di lemari no 3
kesel sekeselnya saat pak Robin membentakku ,
"memang sih dia bos ku, tapikan besok kita menikah , dan dia bukan hanya bos ku tapi juga suamiku " gerutuku dalam hati
***
POV Robin
setelah beberapa menit aku menunggunya , akhirnya dia keluar dengan memakai dress dusti tanpa lengan , dengan belahan yang terlihat ,
pinggangnya yang ramping , kakinya yang jenjang , dengan riasan tipispun terlihat sangat cantik ,
"ayo cepat , kita sudah di tunggu "
ucapku sambil melirik jam tangan G-Shock ku yang ku beli dari luar negeri
"kita mau kemana sih pak "
tanya Nadira sambil memakai high hilsnya yang berwana hitam senada dengan anting yang ia kenakan
" kita ada pemotretan pernikahan "
aku merapihkan kemejaku yang berwarna navi
"iya , tapi tempatnya dimana "
tanyanya lagi dengan rasa penasaran
" di rumah ini , di lantai 4 , kita foto di rumah saja , agar tidak ada yg tahu dengan pemotretan pernikahan kita "
jelasku agar Nadira tidak curiga bahwa aku menginginkan pernikahan ini
"haaahhhh , di rumah ini "
wajahnya terlihat kaget
" iya kenapa "
"kamu mau di luar ,agar semua orang tahu kita akan menikah , kamu mau seperti itu "
tanyaku memojokkannya , berharap jawabannya iya
" ya enggak lah pak "
jawaban Nadira sangat mengecewakan telingaku
sepertinya memang Nadira belum bisa menerimaku, tapi aku pastikan dia akan menjadi miliku sepenuhnya , dan hanya aku yang mengisi hatinya , aku akan pastikan itu
"ayo cepat , temanku sudah menunggu kita dari tadi "
"di pemotretan kita harus terlihat seperti saling mencintai agar tidak ada yang curiga dengan pernikahan kita karena kecelakaan "
pintaku kepada Nadira
Nadira hanya mengangguk dan berjalan mengikuti ku di belakang
kutarik tangannya agar jalan sejajar denganku ,
" kamu mau semua orang di rumah ini tahu kita tidak saling menyukai "
kubisikan di telinganya Nadira
" maaf pak "
"satu lagi, kalau di depan keluarga kita kamu tidak boleh memanggilku pak "
" lalu apa "
dengan ekspresi yang tegang
" mmmmm ,....... gini aja , kamu panggil saya dengan panggilannnn...."
aku berdiam sejenak , karena ragu akan mengatakannya hawatir jika Nadira tidak setuju dengan permintaanku
"apa pak "
tanya Nadira dengan penasaran
"sebentar , ini saya lagi pikirkan "
"sayang " jawaban Nadira membuatku ingin tersenyum hanya saja aku tahan
" oh , iya terserah kamu "
aku pura2 biasa saja
"jadi mau "
tanya Nadira
"mau apa " tanyaku lagi
"di panggil sayang " jawab Nadira
" tapi ingat itu hanya saat di depan keluarga kita " ancamku seolah aku tidak menginginkannya
" iya pak " mukanya sambil cemberut
seandainya panggilan sayang itu dari hatimu , aku sangat bahagia ,
setibanya di tempat pemotretan temanku sudah menunggu untuk bersiap membantu pemotretan ku
Andre teman kuliahku dulu saat di Canada ,
fotografer memang hobinya sejak dulu ,
di setiap ada kesempatan dia akan selalu ikut berpartisipasi dalam hal pemotretan
"Dre , kenalkan ini.." belum sempat ku melanjutkan Andre sudah menebak nama Nadira
" Nadira " ekspresi Andre sumringah
membuatku tidak nyaman
" loh Dre , Lo kenal sama calon istri ku "
sambil ku eratkan tanganku di pinggang Nadira
" sayang kamu kenal sama Andre "
aku bertanya kepada Nadira
tapi sepertinya Nadira masih bingung dan mengingat ingat siapa Andre ini
" siapa ya " jawab Nadira
" ini aku andre anak kacamata yang sering duduk di belkang kantin sekolah untuk mengambil gambar , kamu ingat tidak "
ucapan Andre sangat membuatku cemburu , tapi aku harus bersikap biasa saja
" oh iyaa ,iya aku ingat , kamu Andre yang sering di gangguin anak2 , Andre yang pendiam "
ekspresi Nadira sangat bahagia sekali , aku tidak suka melihat adegan ini , ingin rasanya aku layangkan pukulan ke Andre
"hai , apakabar " tanya Andre
"baik , bagaimana kamu sekarang "
tanya Nadira seolah olah mereka tidak menganggap ku ada di sini
" jadi ini bro calon istri mu " Andre menepuk pundakku
aku hanya tersenyum
" beruntung ya kamu bro bisa dapetin nadira "
" iya makasih bro " jawabku sedikit cemas
"Nadira ini sangat baik , pintar , cantik , apa adanya , aku dari SMA gak bisa-bisa deketin Nadira , eh ternyata mau jadi istri sahabat ku sendiri "
Andre menjelaskan
dan ku lirik Nadira sedang senyum malu
"ah apaan sih si Andre ini , gak akan gua biarin dia merebut Nadira dari pelukanku " grutuku dalam hati sambil ku eratkan pelukanku ke Nadira
" oke , kita mulai pemotretanya , nanti ada asistenku yang akan akan membantu kalian ganti costum dan make up "
kulihat Nadira mengganti pakaiannya dengan gaun putih dengan rambut di gulung dan ada yang terurai sedikit memakai riasan bunga di kepala , sangat cantik
sampai si Andre pun terus menatap Nadira
" cantik " ucap Andre
aku langsung menghampiri Nadira dan memujinya di depan Andre
" sayang kamu cantik sekali " sambil ku cium keningnya Nadira
" gak pernah gua liat lu kaya gitu sama cewek bro , sejak kapan Lo jadi bucin , hahaha " ledekan Andre membuatku ingin meninjunya ,
ku lirik Nadira dengan ekspresi senyum senyum sendiri ,
" mmm ya wajar lah bro , besok kita akan menikah , bucin sedikit gak apa lah "
" Nadira , gua selama temanan sama dia (Andre sambil menunjuk Robin ) , gak pernah liat Robin muji muji cwek , dia temen gua yang paling dingin kalo urusan sama cwek , Lo apain Robin nad bisa bikin Robin berubah manis sikapnya ke cewek "
Andre sambil terus menertawai ku
" kacau nih si Andre bikin w tengsin di depan Nadira " gerutu ku dalam hati
kulihat Nadira hanya tersenyum saja tidak ada komentar apapun ,
senyumnya Nadira dengan lesung pipinya membuatku semakin tidak bisa memalingkan pandanganku .