, , , , , ,
saat perdebatan antara Robin dan papahnya berlangsung tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Robin
" tok tok "
" tok tok " suara ketukan pintu terdengar beberapa kali ,
" ya, masuk " Robin dan papahnya duduk di kursi yang saling berhadapan dan terhalang oleh meja Robin yang panjang
" permisi pak , ada pak Erwin di luar , beliau ingin bertemu dengan pak Robin dan pak Danuarta , " ucap salah satu staff receptionist
" ya , suruh masuk " ucap Robin sambil melonggarkan kemeja abu abu yang Robin kenakan ,
" selamat pagi , pak Danuarta , Robin "
ucap pak Erwin sambil menyalami tangan Robin dan papah nya ,
" selamat pagi pak Erwin , silahkan duduk "
lalu Robin memesankan minuman untuk mereka bertiga melalui telepon yang ada di meja kerja Robin
" buatkan tiga gelas kopi hitam , "
" bagaimana pak Danuarta dan Robin , apakah sudah ada jawaban atas perjodohan Andin dan Robin , "
sebelum mereka menjawab , pak Erwin menekan papahnya Robin
" saya ingatkan pak Danuarta , pak Danuarta tentu tidak ingin Robin sampai mengetahui semua rahasia pak Danuarta. "
senyum licik yang tersemat pada bibir laki laki tua itu,
" saya tidak akan ..... " ucapan Robin langsung di potong oleh papahnya ,
" kami setuju dengan perjodohan ini, tapi Robin tidak bisa meninggalkan istrinya , apa andin mau menjadi istri ke dua robin ? , jawaban pak Danuarta membuat Robin naik pitam
" tidak mungkin , anak saya menjadi istri ke dua " pak Erwin berdiri dengan ekspresi kesal
" saya tunggu jawaban Robin , ceraikan istrimu dan menikah dengan Andin, atau semua rahasia mu akan saya bongkar " ancam pak Erwin lalu beliau pergi meninggalkan ruangan Robin
Robin berdiri sambil memukul meja kerjanya ,
" sebenarnya ini ada apa pah ? kenapa pak Erwin bicara seperti itu, rahasia apa ?
cecer Robin pada papahnya
" kamu tidak akan mengerti " pak Danuarta mengehempaskan badannya di kursi dengan wajah dengan penuh masalah ,
" paahhh , tolong kasih tau aku pah , rahasia apa sebenarnya , aku tidak mau menikahi Andin , aku tidak mau menyakiti Nadira !!!!
" kali ini saja , papah minta tolong , turuti ke inginan papah, "
" pah , aku menikahi Nadira karena papah menuntut Robin supaya cepat menikah agar perusahaan atas nama Robin , setelah Robin menikah , papah menginginkan Robin menikah kembali , maaf pah Robin bukan papah yang bisa nyakitin hati mamah dengan menikahi perempuan lain "
" Robin , cukup " pak Danuarta sangat marah mendengar jawaban Robin ,
" papah tidak mau tahu , kamu setuju atau tidak , kamu harus menikah dengan Andin , dan ceraikan Nadira " pak Danuarta lalu pergi meninggalkan ruangan Robin
" maafkan papah Robin , Nadira , semua salah papah , seharusnya papah tidak melakukan kesalahan di masa lalu papah " ucap pak Danuarta dengan wajah yang sangat sedih
" aaarrrghhhh " Robin membanting dan mengacak acak semua barang yang ada di atas meja Robin ,
* * * * * * * * * * * *
di dalam ruangan tempat kerja Nadira dan teman temannya , Andin mulai berulah memberikan pengumuman bahwa Andin akan menikah dengan Robin dalam waktu dekat ,
" pengumuman semua , ayo kumpul kumpul , berhubung saya sedang bahagia saat ini , semuanya boleh pulang cepat , dan cuti tidak di persulit , kecuali kamu Nadira "
Andin menunjuk Nadira dengan ekspresi tidak suka
" aku , kenapa hanya aku " tanya Nadira
" karena kamu sok kecakepan , dan kamu perempuan gatel yang mendekati semua laki laki termasuk Robin "
Nadira hanya terdiam tak merespon apapun
" memangnya ada apa sampai kau bahagia seperti itu mbak " tanya salah satu karyawan yang penasaran
" hmmmm , kasih tahu gak yaaa .... , dalam dekat ini saya dan Robin akan ....... menikaaaahhh " semua bertepuk tangan kecuali Nadira ,
Nadira seperti di sambar petir di siang bolong , hatinya terenyuh sakit mendengar pernyataan dari Andin ,
begitu juga dengan Dian sahabatnya yang sudah tahu kebenaran antara Nadira dengan Robin ,
" seriusan , ko bisa sih mbak Andin , "
" iya , kita berdua di jodohkan , secara papah saya punya peranan penting pada perusahaan ini, jadi mulai hari ini panggil saya ibu CEO Robin , inget itu ya , kamu Nadira kenapa hanya diam , kaget ya , orang yang selama ini kamu godain tapi akan menikah dengan saya " Andin tertawa dengan bahagia ,
di saat semua karyawan yang lain memberi ucapan selamat justru Nadira pergi ke toilet ,
mata Nadira sudah hangat , Nadira tidak bisa lagi menahan butiran air yang tertahan pada pelupuk matanya ,
Nadira menangis sesegukan , kata kata Andin terngiang di telinga Nadira ,
" apakah benar apa yang di ucapkan oleh Andin hiks , hiks " Nadira menangis di dalam toilet ,
" dor dor " suara pintu toilet di ketuk seseorang dengan buru buru ,
" nad , nad buka pintunya , ini gua , Dian "
Nadira tidak menjawab apapun , hanya menangis ,
" Nadira. , please .... buka pintunya , gua tahu apa yang saat ini Lo rasain , buka nad " teriak Dian sambil terus menggedor pintu toilet
Nadira buru buru mengusap air matanya ,
lalu keluar dari dalam toilet ,
Nadira memaksakan senyumnya agar Dian tidak merasa hawatir dengan ke adaan nya ,
Dian langsung memeluk Nadira , dan mengusap punggung Nadira ,
" Lo gk apa apa kan "
ucap Dian ,
" gak apa apa ko di " Nadira berusaha tersenyum
" jangan bohongin diri sendiri , kalau mau nangis , nangis aja biar Lo lega " ucap Dian
" heeiii gk apa apa ko , kenapa harus menangis "
" nad "
" dii... "
" udah ya jangan di bahas lagi , " ucap Nadira mengajak Dian keluar dari toilet ,
" nad "
" gk apa apa ko , nanti gua tanya langsung kebenarannya sama Robin , ini kan baru pernyataan dari Andin , kita kan gak tau kebenarannya "
ucap Nadira untuk menenangkan hatinya dan Dian ,
setelah mereka berdua keluar dari toilet tiba tiba Nadira tersungkur jatuh ke lantai , tubuh Nadira lunglai lemas ,
" ya ampun Nadira , nad, "
Dian kaget melihat Nadira pingsan ,
" nad , nad , hei bangun NAD , Nadira " Dian mulai panik dan meminta pertolongan pada orang lain,
Dian dan salah satu teman kantornya membawa Nadira ke rumah sakit ,
Nadira saat ini masih belum siuman , semua barang barang Nadira ada pada Dian , lalu tiba tiba ponsel Nadira yang di dalam tas berdering ,
Dian mengabaikan bunyi ponsel Nadira karena memang tidak berani untuk membuka tas milik Nadira ,
ponsel Nadira kembali berdering, kali ini Dian memberanikan diri untuk melihat ponsel Nadira , terlihat di layar tertera nama " my bos my love " memanggil ,
Dian hanya melihatnya tidak berani untuk mengangkatnya ,
kemudian ponsel Nadira berdering kembali ,
" duh , angkat gak ya , takut salah ngomong gue "
ucap Dian ,
lalu Dian mengangkat telepon dari Robin ,
" sayang , ko lama sih ngangkatnya "
" maaf pak Robin , ini saya Dian "
" loh ko hp Nadira ada di kamu , Nadira kemana ?
" mmmmm itu "
" itu apa , Nadira kemana ?
" mmmmm Nadira di rumah sakit pak Robin, tadi di kantor Nadira pingsan , sampai sekarang belum siuman " ucapan Dian membuat panik Robin ,
" shareloc sekarang " Robin langsung menutup telponnya , , , , ,,