eps14

518 Kata
semakin lama meratapi nasib , gairah hidup makin kian surut. di biar berkepanjangan sedang hidup masih berlanjut, kemana harus mengubur kenyataan ini , kanya sangat bingung memikirkan bagaimana caranya melanjutkan hidup kalau keadaannya begitu terpuruk. hanyalah di hadapan kika dia banyak bicara, setelah sahabatnya itu pergi dia kembali menyendiri, begitulah tiap hari ke hari. anak - anaknya tetap diurusnya , semua pekerjaan rumah dikerjakannya .semua beres olehnya , walau kini dia nampak kurus , beban pikiran membuat dirinya sendiri tak terurus. "ma , mama gak ada uang ya .aku beli mainannya nanti aja kalau mama udah ada uangnya ?" khan seolah sengaja menghiburnya dengan berkata begitu. dia selama ini selalu memperhatikannya diam - diam , dia tahu kalau ibunya itu sering menangis sendiri di kamar .pernah juga beberapa kali khan melihat pertengkaran mereka. "ada kok nak,memangnya lamu mau beli apa?" "mau beli mainan apa nak , harganya berapa kasih tau mama" kanya meraih anaknya itu lalu memangkunya mencium pipi mungilnya. lalu datang pula si bungsu , syah. "sini sayang, anak mama kok gak pergi main" "atau mau beli mainan baru ?" syah pun mendekat dan memeluknya , kini mereka di bertiga kamar itu . kanya memangku keduanya menciumnya dengan penuh sayang bergantian. "aku nggak mau mainan baru ma , aku mau berenang sama temen - temen boleh nggak ma" "tapi kamu kan belum bisa berenang , nanti tenggelam" "kan ada abang yang jagain" syah merayu , dan abangnya pun menggangguk. "iya ma biar aku yang jaga adek , aku kan udah bisa berenang" "tadi kan kamu beli mainan , kok sekarang mau berenang" "tapi kalau adek berenang nggak ada yang jagain , temen - temennya juga pada ngajakin abang mereka, boleh ya ma?". tersenyum semanis mungkin keduanya membuat kanya gemas dan tak tahan untuk tak mencium mereka, ah dia begitu bahagia melihat anak - anaknya yang tak terasa sudah mulai besar. rasanya baru saja dia melahirkan mereka berdua dan kini sudah pandai bicara . " baik lah , tapi jangan lama ya , jangan ke jauh - jauh nanti ada ombak besar" "ok mama" jawab mereka bersamaan , lalu keduanya mencium pipi kanya senang karena di bolehkan. tanpa disadarinya kanya merasa bahagia diapun tersenyum .sudah lama tak berkumpul mengobrol dengan anak - anak membuatnya merasa bersalah pada mereka. yah , dia memang mengurus mereka juga keperluan suaminya tapi tak ada lagi candaan diantara mereka , setelah pekerjaan rumah beres maka dia akan kembali bersemedi . menyadari semua yang terjadi mengapa dia mengabaikan anak- anak, bahkan si sulung seperti takut padanya , bertanya apa ia punya uang atau tidak dan dia tidak merengek sampai menangis bila dia sangat menginginkan sesuatu. atau dia tahu sesuatu yang terjadi dan ikut memikirkannya .tidak , mengapa dia sampai lupa anak - anaknya sangat pintar menilai suasana di sekitarnya, mereka pasti tahu yang rejadi padanya yang di alaminya saat ini. 'ya Tuhan , haruskah ku biarkan mereka merasakan juga' kanya memikirkan itu sampai dia harus berjuang melawan egonya sendiri.bukankah itu sebenarnya yang membuatnya begini , terus bertahan dengan mengeraskan hati , membiarkan dirinya dirasuki dendam dan benci . lupa bahwa diri sedang di uji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN