Pagi ini Sonoko nampak panik sebenrnya dia merasakan hal yang sangat aneh setelah malam dengan Itomi. Itomi berusaha mendekatinya namun Sonoko menghindarinya seperti sebuah virus. Virus berbahaya menghindari Itomi jalan ninja Sonoko walaupun pernah tidak sengaja berhubungan s*x karena sake sialan itu. Sonoko selalu menghindari pertemuan tatapan mata dengan Itomi seperti sekarang.
"Kau kenapa Sonoko akhir-akhir ini kau nampak aneh,"ujar Imelda memperhatikan gerak gerik Sonoko.
" Aku, tidak apa-apa, aku hanya lelah sajah banyak perkerjaan."kata Sonoko menjawab asal.
"Apa bos mengerjaimu lagi?menyuruhmu lembur,lagipula kau merupakan model andalan kami.sekarang. aku harap kau tetap profesional karena aku tidak mau kejadian seperti Hana Yunanda itu kembali," seloroh Windi mengingatkan Sonoko.
"Owh,ayolah aku baik-baik sajah kawan-kawan. Bagaimana akhir minggu ini kita menonton,"seloroh Sonoko dengan wajah girang.
"Hem,tidak bisa aku mau bertemu dengan kekasihku. Kalian tahu aku sudah punya pasangan sekarang ini,"seloroh Imelda dengan nada memelas.
"Hem,yahsudah kita berdua sajah,Win."seloroh Sonoko dan memeluk Windi dengan senang.
"Ti.......da.....k...... Bisa Sonoko,kau tahu ibuku menjodohlanku dan perjodohan menyebalkan itu akan di lakukan di hari.minggu ini. Konyol sekali ibuku, pemikiriannya sangat kolot aku bahkan baru berusia 25tahun saat ini."seloroh Windi dengan nada jengkel.
Windi memang ingin pergi menonton bersama Sonoko namun Ibunya memberikan pesan untuk dia hadir diperjodohan kali ini atau dia akan dicoret dari daftar keluarganya sendiri.
"Kau dijodohkan,Windi. Seperti Siti Nurbaya sajah,kocak sekali Ibumu,wkwkwk,Masih jaman yah perjodohan. Astaga aku sajah baru 24 tahun biasa ajah malah dapet brondong lagi 23 tahun."seloroh Imelda pamer akan kekasihnya yang baru.
"Siti Nurbaya, How is she?"kata Sonoko yang nampak bingung.
"Itu legenda terkenal mengenai peremouan di jodohkan orang tuanya karena tidak bisa membayar hutangnya. Siti Nurbaya dijodohkan oleh Datuk Maringgih,bisa dibilang semacam rentenier,bank keliling menawarkan bunga berlebihan."ujar Imelda menjelaskan dengan nada sedikit menahan tawa.
"Haish,bedanya aku dijodohkan ibuku memang dia teman mainku dari kecil. Bocah ingusan itu dulu dia berambut pitak kau tahu. Lagipula muka seseorang apakah bisa berubah yah?"seloroh Windi dengan alis berkerut karena berfikir.
"Dasar b*d*h,wajah seseorang memang berubah memang kau tidak belajar biologi disekolahmu dulu. Hasih, kasian sekali temanku Tuhan,berikan pencerahan kepada Teman bodohku ini,"seloroh Imelda kepada Windi yang sedang asyik mengaduk mie instantnya.
"Hem, sudah jangan meledeknya.lagi wajahnya seprti kepiting rebus apa kau tidak lihat?"seloroh Sonoko membela Windi yang masih mengaduk mie instantnya tampak tidak terlalu berselera.
"Baiklah, jam makan siang kalian mau makan apa?"seru Imelda dengan senang karena memang dia sedang Jatuh Cinta.
"Hem, Pajak Jadian yah? aku mau ke restoran ramen didepan kantor sepertinya enak."seloroh Windi dengan senyum dan mie instantnyapun tandas.
Windi sangat bersemangat apabila ada yang menyebut makanan. Windi menyukai bernagai jenis makanan terutama Ramen dan Nasi Bento.
"Apa lagi itu Pajak Jadian? Ramen kedengarannya enak boleh juga. Memang dekat kantor ada yang jual Ramen?"seloroh Sonoko dengan tatapan bingung.
"OMG, Sonoko kau rupanya jarang membaca atau bergaul memang di Kepang tidak ada yang nama Pajak Jadian,maksudnya jika seorang teman berkencan makan temannya akan ditraktir seperti itu,sayang. Baru buka kemarin,lagipula ada diskon disana tidak akan menguras kantong Imelda,aku teman yang baik bukan?"seloroh Windi memberikan oenjalasan kepada Sonoko.
"Baik,Makan siang disana. Diskonnya besar tidak,Win?"tanya imelda penasaran dengan jawaban Windi.
"Tentunya, owh yah Sonoko. Kau tidak pernah berkencan di Jepangkah?"ujar Windi kepada Sonoko dengan penasaran.
"Haish,teman-teman di sana pajak jadian seprti Windi bilang itu sedikit berbeda. Mereka akan mentraktir Hal Lainnya dengan karoke,atau lainnya. Tidak dengan makanan sih biasanya."ujar Sonoko dengan sedikit membusungkan dadanya.
"Yahsudah,makan dulu mie instantmu Sonoko dan kau juga Imelda nanti tidak enak,"ujara Windi menatap kedua temannya dengan tatapan puas.
Mereka bertiga melanjutkan makan Mie instant di pantry sampai habis dan negbrol berbagai hal menarik. Hingga memasuki jam masuk kantor. Sonoko tampak riang setelah berkumpul dengan teman-temannya. Kali ini dia merasakan hal yang baik akan datang.
Namun ketenangannya hanya berlangsung sementara setelah pulang dinas dari Jepang Itomi meminta Nakano mengikuti kegiatan Sonoko secara diam-diam. Nakano hanya bisa mengiyakan keinginan bosnya. Nakano hanya menggelengkan kepala saat Itomi langsung menagih segala kegiatan yang di lakukan Sonoko selama Itomi pergi dinas ke Jepang.
"Bagaimana, Sonoko tidak pingsan saat bekerja bukan?"ujar Itomi dengan khawatir sambil mengetik beberapa laporan yang tertunda.
"Tidak,memang kenapa dia harus pingsan. Bahkan dia akan makan Ramen dikedai depan kantor kita dengan teman-temannya nanti siang,"ujar Nakano dengan tatapan bingung dan pen uh tanya.
"Bagus kalau begitu,terus awasi gerak gerik gadis b*d*h itu bayangkan jika dia memiliki kesehatan buruk bagaimana nasib pekerjaan kita,Nakano." ujar Itomi dengan berusaha tenang.
"Baiklah, ada lagi harus aku urus. Mengapa kau sepertinya tertarik dengannya usiamu baru 29 tahun. Katamu ingin mencari oacar di usia 35tahun. Apa Otosan menjodohkanmu dengan wanita? sebaiknya pikirkan perasaan Sonoko,jangan permainkan wanita itu."kata Nakano dengan perasaab iba kepada Sonoko.
"Haish, sebenernya aku hanya takut dia hamil, karena aku telah melakukannya dengan dia. Aku tidak ingin dia berfikir aku tidak bertanggung jawab kepadanya. Lagipula aku akan mengikat dia hanya menunggu waktu yang tepat. Dia manis taoi b*d*h. Hahaha."Tawa Itomi dengan nada senang.
"Hem,sepertinya aku mencium wangi jatuh cinta dikantor ini. Haiah,segera beritahu perasaanmu b*d*h sebelum ada yang menyatakan perasaanya duluan,"ujar Nakano dengan tatapan memberi semangat dan mengacungkan 2 jempolnya.
"Yahsudah,sana keluar aku ingin melanjutkan pekerjaanku,"ujar Itomi setengah mengusir Nakano.
Itomi kembali dengan berbagai pekerjaannya. Itomi ingin memantau sendiri pergerakan Sonoko. Lagipula pekerjaan hari ini sudah hampir selesai hanya tinggal beberapa dokumen perlu ditandatangani.
Sementara itu Sonoko sudah hampir menyelesaikan sesi foto dengan sang photografer di dalam studio hari ini bertema Autumn busana dirancang Anako memang sangat cantik dan bergaya. Sonoko mengikuti arahan photografer dengan baik, kemudian Sonoko juga membantu Photogtafer dalam menangani berbagai konsep foto terbaru.
"Semuanya terimaksih atas kerja samanya terutama kamu Sonoko. Kami sangat terbantu dengan pose-pose baru kau memang yang terbaik,"ujar salah satu photografer bernama Ian.
"Tidak juga, aku hanya berusaha untuk memaksimalkan diriku dan terimaksih juga bantuan pose awalnya."ujar Sonoko merendah diri.
"Ngomong-ngomong kau akan makan siang dengan Windi dan Imelda dapatkah aku ikut?"ujar salah satu Photografer bernama Ian.
"Iyah,biasanya kami memang berkumoul bersama dipagi dan siang atau sore hari. Apakah kamu mau ikut juga?"Tawar Sonoko kepada Ian dengan senyuman hangat.
"Tentu,bolehkah biar akunyang traktir jika begitu. Aku ingin dekat dengan kalian para gadis-gadis. Lagipula aku juga tidak buruk bukan mungkin salah satu dari kalian bisa menjadi pacarku,"ujar Ian dengan setengah tertawa dan sedikit menggaruk tenguknya.
"Kau.memang tampan namun Sepertinya kau salah mengira. Imelda sudah mempunyai kekasih,sedangkan Windi akan dijodohkan,Jika kau berfikir aku. Aku hanya mengangapmu teman kawan,"seloroh Sonoko dengan nada tenang.
"Hey,aku juga hanya bercanda,jangan terlalu serius wkwkwk kau tahu sebenarnya aku gay. Hahaha. Jikau tak percaya kau boleh tanya staf lainnya."ujar Ian dengan nada biasa sajah.
"Hem,benarkah?bahkan aku sendiri tak percaya padahal kau kelihatan macho sekali dengan tubuh atletismu itu. Maaf yah tapi tidak mau menyinggungmu sungguh. Aku hanya kaget dengan pernyataanmu Ian. Lagipula umurku juga baru 26 tahun. Kau sepertinya hanya beda 2tingkat diatasku,"ujar Sonoko dan kembali tersenyum.
"Sebaiknya kita cepat atau kedai ramen itu akan ramai Sonoko, banyak sekali yang kesana katanya enak dan harganya murah."ujar Ian dan segera menggandeng tangan Sonoko.
"Baiklah, ngomong-ngomong aku akan menyuruh Imelda dan Windi mentap tepat dulu."ujar Sonoko dan mulai melakukan pesan teks w* kepada kedua temannya itu.
Sonoko dan Ian menggunakan Lift berada disamping studio berada dilantai 5 gedung itu dan segera memencet ke Lobby. Tanpa mereka sadari Itomi memperhatikan gerak-gerik mereka dan menatap sinis kepada Ian menggandeng Sonoko seolah takut kehilangan Sonoko pikir Itomi.
Sesampainya di Restoran Ramen itu Sonoko dan Ian disambut oleh Windi dan Imelda menunggu disana dan memesan tempat lesehan sesuai request Imelda tentunya. Mereka berempat makan dengan lahap. Sonoko memasan ramen soyu,Imelda ramen miso,ian Ramen Miso versi pedas dan Windi Ramen Original tidak lupa ocha untuk empat orang.
"kau tahu pekerjaan kuta sangat ringan sejak hilangnya Hana Yunanda itu,"ujar Windi dengan tatapan bahagianya.
"Akh, tentu sajah Wanita itu sangat banyak tingkah,kau tahu aku muak menjadi photografernya,"ujar ian menimpali perkataan Windi.
"Aku rasa semua orang tidak suka dengannya. Lagipula sudahlah dia telah pergi dan di usir si bos"ujar Imelda dengan senyuman manisnya.
"Tentu sajah, terdengar aneh tapi aku salut dengan ketegasan bos kita."ujar Sonoko dengan tatapan biasa.
Merrka berampat melanjutkan makan siang dengan hati senang dan tanpa mereka sadari Itomi tersenyum mendengar penuturan Sonoko.
***********************************
Ana sedang berfikir keras pagi ini untuk menjaga jarak dengan Alvian selama dikantor. Alvian sebenarnya tidak terlalu suka cara Ana terbilang aneh. Alvian merasa tidak akan ada yang menggunjing kekasihnya. Tapi Ana bersikeras untyk menyembunyikannya. Ana sudah memberitahu Sonoko mengenai hububgannya dan Alvian Justru ibu dan Sonoko tampak gembira. Ana malah bersusaha menyembunyikan dari semua rekan kerjanya kabar bahagianya. Ana dijemput oleh Alvian sehingga Sonoko berangkat kerja sendiri.
"Sayang,kau tahu hubungan kita tidak perlu disembunyikan,siapa yang akan mengunjingmu?"ujar Alvian sedikit kesal karena Ana bersikeras.
"Sayang,aku tidak mau digosipin sebagai w*************a laki-laki mapan,"ujar Ana dengan membulatkan sudut bibirnya.
"Owh,ayoalah itu tidak akan pernah terjadi."ujar Alvian dengan bangga kepada Ana yang menatapnya tajam.
"Menurutmu begitu karena kaulah bosnya bagiku tidak seperti itu,"ujar Ana dengan tatapan memincingnya.
"Ya Tuhan,sayang tidak semua orang suka menggosipkan? Lagipula departemenmukan kaulah bosnya sekarang. memang anak buahmu terlalu nyinyir?"ujar Alvian merasa bingung.
"Tidak sih,tapi aku tak suka jika si Gunawan itu melabrakmu dikantor lagi, dia suka membuat onar,sayang."ujar Ana dengan tatapan geram.
"Haish,jika itu kau takutkan seharusnya kau tidak perlu takut banyak satpam dikantorku,"ujar Alvian dengan tegas.
"Yayayah, kita sudah mau sampai ,sayang. Aku sudah menyiapkan sarapan bekal untukmu. Roti dengan slai Cokelat,"ujar Bibi Ana dan menaruhnya ditas kerja Alvian berada di jok belakang.
Sesampainya dikantor mereka berdua turun secara bergiliran Ana turun lebih dulu dan disusul Alvian dibelakangnya. Mereka segera.memasuki gedung itu bersama. Kemudian ketika menaiki lift mereka berdua memilih tempat yang berbeda agar tidak ada yang tahu mereka berpacaran.
Diruang kantornya setelah sampai Ana dan Alvian saling memberikan pesan W*
To:sayang
aku sudah sampai diruangan kerja ?
from: Ana
To:sayangku
aku juga semangat bekerjanya,i?u honey
from:Alvian
sesudah itu mereka melanjutkan berbagai pekerjaan. Alvian kemudian mengerjakan bernagai dokumen harus disortir dan terutama dokumen mengenai tandatangannya.