"Woih anjir ... pengantin baru bukannya lembur malah kelayapan!" Kedatangan Andre disambut ledekan dari teman-temannya.
"Bininya masih bocah, Say. Gak bisa nga-ceng lo, ya." Ledekan Anita disambut sorakan teman-teman yang lain.
"Brisik lo semua." Andre hanya menanggapi santai lalu duduk di samping Anita yang langsung menggelendot manja di lengannya.
Total ada empat orang di apartemen Anita. Tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya anak-anak. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu di sana untuk pesta ngedit dan saling tukar pikiran mengenai konten yang akan mereka buat atau sekedar haha hihi tak jelas seperti sekarang.
"Lo nemu bocah ingusan itu di mana, sih?" Anita penasaran.
"Bocah ingusan itu lebih tua daripada lo."
"Ah, serius, Ndre?" Terang saja Anita tak percaya. Karena style Mumbi itu mirip anak SMA Jepang, yang imut dan kawai.
Andre menepis tubuh Anita yang menempel seperti ulat bulu. Selama ini Anita memang terang-terangan menunjukkan ketertarikan dengannya. Beberapa kali juga wanita itu merayunya untuk naik ke atas ranjang. Tapi Andre menolaknya. Karena ia tidak suka barang bekas dan juga ia tidak ingin merusak pertemanan mereka.
Banyak sebenarnya wanita-wanita yang mau dipakai gratis olehnya. Jadi orang tampan memang jadi keuntungan tersendiri. Tapi Andre bukan tipe yang hobi menebar benih ke mana-mana. Takutnya nanti ada yang mengaku-ngaku hamil anaknya dan minta dinikahi. Andre paling malas dengan drama murahan semacam itu.
"Ndre. Serius, nih gue nanya." Hasan mendekat. "Selama ini lo, 'kan selalu koar-koar nggak mau nikah, ribetlah, inilah, itulah. Jadi ... mana prinsip yang selama ini lo gembar-gemborkan itu?" ledeknya yang kembali disambut sorakan memjengkelkan.
"Persetanlah sama prinsip." Andre mengambil salah satu cangkir kopi di atas meja dan meminumnya. Entah punya siapa. Ia tak peduli.
"Setidaknya kasih tahulah ke kita-kita apa alasannya Biar kita nggak mati penasaran. Ya, nggak?" Gilang ikut bersuara.
"Mati aja lo semua pada." Mulut Andre memang semenyebalkan itu.
"Serius, nih, Ndre. Kita semua penasaran." Anita geregetan sendiri.
"Ya, apalagi?" jawabnya tak jelas.
"Ya, apalagi, An-jing?" Hasan memutar bola matanya malas. Bicara dengan Andre memang membutuhkan kesabaran extra.
"Ya apalagi? kalau gue pengen, ada yang bisa dipakai. Itu aja, sih. Rempong banget lo semua." Jawaban yang membuat ke tiga orang yang ada di sana langsung melongo.
Alasan pernikahan macam apa ini?
"Lo tuh sa-rap, ya." Gilang langsung menyilangkan jari telunjuk di keningnya.
"Fix. Kasihan banget cewek yang jadi istrinya." Anita tak habis pikir.
"Istri lo cakep, Ndre. Kalau lo udah bosen. Lo lempar aja ke gue. Gue akan membuatnya menjadi wanita paling bahagia di dunia." Jujur, Hasan langsung terpesona pada Mumbi pada pandangan pertama. Wanita imut adalah tipe-nya.
"Langkahi dulu mayat gue." Andre melempar sedotan yang ia temukan di sofa ke kepala Hasan.
***
Pagi-pagi sekali alarm dari ponsel Mumbi berbunyi nyaring. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bukan Mumbi yang bangun. Justru Andre yang bangun.
Terdengar dengusan kesal dari mulutnya. "Brisik banget, sih," gerutunya. "Bi." Andre menendang kaki Mumbi. Tapi tak ada pergerakan sama sekali. "Mumbi!" Panggilnya untuk kedua kali disertai tendangan kedua. Tapi bukannya bangun. Gadis itu malah mengelap ilernya dan tidur lagi.
"Kebo banget, nih, anak." Lama-lama Andre kesal. Sementara bunyi alarm semakin membuat kupingnya pengang. "Mumbi!" Andre berteriak di telinga istrinya itu.
Tapi ya salam ...
"Ini anak mati apa gimana, sih?" Andre sampai terheran sendiri. Mau tak mau ia bangkit dan mencari ponsel Mumbi yang ada di nakas untuk mematikan alarm sialan itu.
"Anjir. Nih, anak wallpapernya foto gue lagi." Andre melirik istrinya itu keki. "Nggak bener, nih, anak." Andre semakin takut kalau Mumbi nanti baper padanya. "Bisa kacau hidup gue."
Andre melempar ponsel itu ke atas nakas sambil menatap wanita yang tidur bagai kebo itu ngeri. Catatan penting untuknya, ia harus jaga sikap pada si Mumbi.
Setelah alarm sialan itu bisa diatasi. Andre kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Tapi kemudian ia ingat kalau mulai hari ini Mila tak lagi bekerja di rumahnya. Otomatis Mumbilah yang kini menggantikan pekerjaannya. Dan memang ini juga salah satu alasan ia mencari istri bayaran dengan beberapa kriteria yang ia jabarkan ke Akbar. Sebelum akhirnya pilihan terpaksa ia jatuhkan ke Mumbi.
"Bi. Mumbi." Andre menggoyangkan tubuh mungil Mumbi. Satu kali. Dua kali. Sampai lima kali. Tak ada respon sama sekali. Karena Mumbi memang terbiasa bangun tengah hari sejak dia lulus kuliah dan menjadi pengangguran.
"Ini bocah mati apa gimana, sih?" Lama-lama Andre kesal juga.
"Mumbi!" Kali ini Andre berteriak tepat di telinga Mumbi dengan suara kencang. Alhasil gadis itu langsung tergeragap bangun sambil berteriak kebakaran.
"Kebakaran! Kebakaran!" Kebetulan Mumbi sedang bermimpi kebakaran. Wajahnya nampak kebingungan, celingukan ke sana ke mari tapi tidak menemukan api besar yang berkobar. Yang ia temukan justru wajah kesal dari seseorang yang ia ingat kemudian sebagai suaminya. Spontan ia langsung menutup mulutnya malu.
"Udah sadar?" Andre berdecak kesal.
Mumbi mengucek matanya dan mengangguk-angguk.
"Ya, udah. Sana kerjain tugas kamu. Aku bayar kamu mahal-mahal bukan buat males-malesan. Ngerti?" Andre menendang selimutnya dan melanjutkan tidurnya lagi.
Mumbi mencebik kesal. Tapi kekesalan itu langsung menguap. Memanglah misinya membuat seorang Andre Himawan terkesan dengannya. Untuk itulah Mumbi bertekad untuk menjadi istri yang baik dan memanjakan suaminya itu hingga pria ini tak bisa lepas darinya.
"Kamu pasti bisa, Mumbi," lirihnya dengan senyum semangat dan jangan lupakan tangannya yang mengepal kuat. Menandakan bahwa ia siap untuk berjuang!
***
Mumbi berdiri di depan mesin penanak nasi digital itu. Mungkin sudah ada lebih dari lima menit. Tapi ia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan. Seumur hidup ia belum pernah menanak nasi. Terlebih mesin penanak nasi ini berbeda dengan yang ada di rumahnya. Yang ini terlalu banyak tombol dan sayangnya otaknya yang malas berpikir enggan ia ajak bekerja sama.
"Oh. Coba aku tanya Mbah Google." Mumbi langsung mengambil ponselnya dari saku dan mencari petunjuk di sana. Sayangnya sepuluh menit berlalu tapi ia masih saja kurang yakin dengan apa yang baru saja ia pelajari.
"Airnya segini kurang nggak, ya? Atau malah kebanyakan?" Uh! Mumbi pusing. Tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Coba cari tahu di youtube dulu, deh," gumam-gumamnya lagi sembari kembali meraih ponselnya.
Sepuluh menit sudah berlalu. Tapi otak Mumbi rupanya masih saja belum yakin dengan apa yang ia pelajari sendiri.
Ah, harusnya kemarin dia tanya dulu sama Mbah Uti. Kalau begini ia juga yang rempong.
"Dahlah. Bismilah aja. Yakin matang dan enak di makan." Mumbi akhirnya menekan tombol-tombol menuruti feeling-nya saja.
"Yuhu ... sekarang waktunya masak sayurannya." Mumbi kembali bersemangat. Ia yakin bisa memasak tumis kangkung. Karena di video yang ia tonton semalam, caranya gampang dan sangat simple.