"Bagaimana para saksi?"
"SAH!"
Mumbi terdiam untuk beberapa saat kala detik itulah ia sah menjadi istri dari seorang Andre Himawan.
Mimpikah ia?
Tentu jawabannya adalah tidak.
Ini nyata.
Pandangan mereka bertemu. Pria itu nampak santai seolah tak memiliki beban apapun. Karena pernikahan ini hanya semacam kontrak kerja baginya, tapi tidak bagi seorang Mumbi. Ini adalah awal perjuangannya.
Mumbi mencium punggung tangan suaminya takzim. Lalu setelahnya Andre mencium kening wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Pria itu melakukannya dengan sangat natural, tidak gugup, tidak grogi, bisa dibilang biasa-biasa saja. Kebahagiaan yang ditampilkan pria itu juga ala kadarnya. Tidak berlebihan, kalau tak ingin dibilang seakan tak ada yang spesial.
Tentu saja. Memangnya apa yang Mumbi harapkan. Dari awal ini hanya pernikahan kontrak sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mungkin benar kata Akbar. Pernikahan ini mungkin hanya akan bertahan sampai kakek meninggal. Dan seketika Mumbi berharap kakek sehat selalu. Sehingga tidak perlu adanya perpisahan di antara mereka.
Dan jangan tanyakan bagaimana kabar jantung Mumbi saat ini? Debarannya seakan tak kunjung usai. Bahkan di menit-menit selanjutnya. Tangisnya luruh tanpa diminta. Entah untuk apa ia menangis. Mau dikata pernikahan ini hanya kontrak atau apapun. Tetap saja ia diambil oleh seorang pria untuk memulai sebuah kehidupan yang baru. Keluar dari zona nyamannya selama ini.
"Nak." Tiba-tiba Kakek mendekat. Mumbi tersenyum. "Terima kasih sudah mau menjadi istri Andre." Kalimat tulus itu sedikit membuat Mumbi merasa bersalah. "Ya, kamu tahu sendiri Andre itu memang orangnya agak keras dan cuek. Tapi sebenarnya dia anak yang baik dan penyayang. Cuma memang kurang bisa menunjukkannya. Kamu yang sabar, ya."
Mumbi melirik suaminya yang membaur dengan teman-teman sesama food vlogger yang diundang, tanpa berusaha memperkenalkan istrinya ini ke mereka. Hampir Mumbi mengenal semuanya. Karena ia juga penonton mereka. Meski tidak serutin mengikuti channel milik suaminya.
Ah, suami ...
Pria itu sekarang suaminya. Lagi-lagi Mumbi rasa tak percaya. Tangannya bahkan masih gemetaran sampai sekarang.
"Mumbi akan berusaha menjadi istri yang baik buat Mas Andre, Kek," ucap Mumbi penuh janji.
"Kalau dia bandel, bilang aja sama Kakek. Biar nanti Kakek omelin dia." Keduanya sama terkekeh.
Setelahnya Kakek terlihat bicara serius dengan Mbah Uti dan Mumbi ditinggal sendirian. Ia celingukan. Bingung, haruskah ia ikut bergabung dengan suaminya yang nampak asyik mengobrol dengan teman-temannya. Ini hanya acara kecil-kecilan. Sehingga yang datang pun hanya segelintir orang yang kebanyakan tak ia kenal selain Mbah Uti. Kebetulan Akbar juga tak bisa hadir. Karena anaknya masuk rumah sakit semalam. Jadi, ia benar-benar tak memiliki teman mengobrol sekarang.
Mumbi duduk menunggu. Mungkin suaminya terlalu asyik hingga lupa mengenalkannya ke teman-temannya. Tawa mereka memenuhi ruangan. Tapi seolah tak ada yang menyadari keberadaannya.
"Makan, Mbak." Tiba-tiba seseorang menyodorkan sepiring makanan untuknya. Mumbi mendongak dan menjumpai sebentuk wajah yang begitu mirip dengan suaminya. Hanya saja face-nya jauh lebih muda.
"Hai, Kakak ipar." Pria itu tersenyum.
Mata Mumbi melebar, berusaha menebak siapa pria muda yang ia lihat di hadapannya itu.
Sementara itu Andre yang memang sengaja mengacuhkan Mumbi tak sengaja melihat Andra, adiknya, mendekati istrinya. Mereka nampak saling berkenalan dan mengobrol. Tapi Andre tak peduli. Ia memang sengaja membuat jarak karena tak ingin Mumbi baper dan membuat drama yang akan menyusahkannya nanti jika ia ingin lepas dari pernikahan yang sejujurnya tak ia inginkan ini.
Sekali lagi, semua ini hanya untuk status!
***
Malam pertama. Itu adalah aktivitas malam yang biasanya dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Tapi jangan harapkan itu dari pasangan ini, yang malah sama-sama sibuk dengan ponselnya.
Jika Andre sibuk nonton gulat MMA. Berbeda dengan Mumbi yang sibuk mengkhawatirkan hari esok. Karena mulai besok Mila tak lagi bekerja di rumah ini, yang otomatis dialah yang harus menyiapkan sarapan pagi. Makanya ia kini sibuk menonton channel masak-memasak, mempelajarinya sungguh-sungguh. Jangan sampai nanti penghuni rumah ini pingsan karena melihat hasil masakannya yang mengerikan.
Beberapa kali ia men-screenshoot resep-resep masakan setelah menyelesaikan menonton video. Entah sudah berapa banyak resep-resep yang ia ss. Tapi kalau melihat video memasak yang ia tonton. Sepertinya memasak itu mudah, ya. Bumbunya simple dan gampang. Sat set langsung jadi.
Yakinlah kamu pasti bisa Mumbi!
Mumbi mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar penuh semangat. Belum-belum ia sudah membayangkan suaminya dan kakek memuji masakannya. Duh, jadi nggak sabar!
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" Andre melirik curiga.
"Enggak. Lagi nonton Sponge Bob aja," jawab Mumbi yang memang memakai headseat-nya dengan suara rendah Jadi masih bisa mendengar ketika Andre mengajaknya bicara.
"Dasar childish," gumamnya yang semakin ilfeel dengan istrinya itu.
"Eh ...." Mumbi tak terima. "Chilsdish darimananya? Sponge Bob itu justru sebenarnya kartun buat orang dewasa."
"Masalahnya ada nggak orang dewasa yang nonton kartun."
"Ada. Aku salah satunya."
"Ya kamu doang kali."
"Banyaklah. Coba aja tonton dan kamu akan menemukan betapa relate-nya kehidupan di Bikiny Bottom dengan kehidupan kita." Mumbi tak mau kalah.
Andre acuh, fokus lagi menonton MMA. Kaya nggak penting banget bahas Sponge Bob.
Tak lama Mumbi menguap. Rasanya sedikit aneh. Biasanya ia tidur sendirian dan sekarang tidur berdua dengan idolanya. Ditambah mereka suami istri sekarang. Mumbi tak mengharapkan malam pertama akan terjadi malam ini. Karena jujur saja, ia pun belum siap untuk itu.
"Bi." Ketika Mumbi mulai bersiap tidur dan menarik selimutnya. Tiba-tiba Andre menoleh padanya.
"Ya?" tanyanya dengan matanya yang tinggal se-watt.
"Kamu udah beli pil kontrasepsi?" tanyanya tiba-tiba.
Mumbi melongo. Apa artinya pertanyaan ini? Apa ini kode?
"Malah bengong."
"Oh ... b-belum," jawabnya berbohong. Sumpah! Ia belum siap melepas keperawanannya malam ini.
"Kemarin-kemarin, 'kan aku udah minta kamu siap-siap." Andre nampak kesal.
"A-aku lupa." Mumbi menggaruk rambutnya yang tak gatal. Jangan lupakan jantungnya yang berdisko ria di balik dadanya karena telah berbohong.
Hanya terdengar decakan dari bibir pria itu. Lantas bangkit dari kasur dan berjalan menuju lemari pakaian untuk berganti baju. Andre memang tak menyukai Mumbi. Tapi ia adalah pria normal yang memiliki hasrat. Apalagi Mumbi memang istrinya yang bisa ia sentuh sesuka hati. Ingatlah, bahwa pria bisa melakukan itu tanpa menggunakan cinta.
"Mau ke mana?" tanya Mumbi melihat suaminya hendak kelaur dari kamar.
"Nongkrong," jawabnya yang langsung menutup pintu begitu saja. Bisa gila ia di kamar, ada cewek, halal, tapi nggak bisa dipakai. Bikin pusing kepala aja ujungnya!
"Mau ke mana, Mas?" Sialnya ada Andra yang belum tidur dan masih santai menonton bola di ruang tengah.
"Mau keluar cari angin," jawabnya sembari menyelipkan rokok di sela bibirnya. Ia melirik adiknya yang menatapnya aneh.
"Kakak ipar kamu lagi datang bulan. Ngerti, kan?" ujarnya santai sebelum keluar rumah.