Setelah diskusi panjang. Akhirnya Mumbi dan Simbah ikut serta ke Jakarta untuk dikenalkan ke kakek Andre. Karena memang itulah tujuan Andre menikah. Hanya untuk status di depan kakeknya, supaya hidupnya tak lagi dirusuhi. Ia pusing setiap kali pulang ke rumah selalu mendengar polusi udara tentang pernikahan dan pernikahan yang sangat memuakkan.
Baginya, pernikahan hanyalah omong kosong!
Bulshit!
"Assalamuallaikum." Andre membuka pintu rumahnya. Seperti biasa rumah itu akan selalu sepi dan tenang. Andre betah sebenarnya dengan suasana rumah yang menjadi saksi bisu suka dukanya sedari kecil ini.
Hanya satu yang membuatnya enggan pulang ke rumah akhir-akhir ini, yakni paksaan kakek yang terus memintanya untuk menikah. Ia juga tidak mungkin egois memilih tinggal di apartemen demi kenyamanannya sendiri, mengabaikan kakeknya yang telah tua dan hanya mempercayakan pada Mila, gadis yang ia bayar untuk mengurusi kakeknya.
Kakek tua itu telah banyak berjasa dalam hidupnya setelah kepergian orang tuanya. Jadi, mana mungkin Andre tega membiarkan kakeknya sendirian di masa tuanya. Meski kadang kesal dengan sikap pemaksanya. Tapi jauh di lubuk hati Andre. Ia sangat menyayangi kakeknya itu melebihi siapapun. Ya, meski Andre bukanlah tipe yang bisa menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan.
"Wallaikumsalam." Yang menjawab adalah Mila. Gadis itu sebenarnya adalah tetangga Andre, yang kebetulan dekat dengan sang kakek. Mila sendiri yang menawarkan diri untuk ikut membantu mengurusi sang kakek. Karena Andre sendiri tidak bisa stand by terus di rumah karena sering harus keluar kota untuk bekerja.
Milalah yang awalnya menawarkan diri, tidak mengharapkan imbalan dan pamrih. Itu katanya. Tapi Andre bukan orang yang suka punya hutang budi. Makanya ia memaksa Mila untuk menerima bayaran darinya.
"Kakek mana, Mil?" Andre celingukan.
"Ada di kamarnya, Mas. Sebentar Mila panggilkan dulu." Gadis itu nampak mmemperhatikan tamu Andre yang membawa dua koper besar.
Siapa gerangan mereka?
Terutama gadis muda itu. Mila belum pernah sekalipun melihatnya.
"Kalian duduk dulu di sini." Andre menarik koper dua koper itu menuju kamar tamu. Supaya nanti setelah berkenalan dan berbicara dengan kakeknya mereka bisa langsung beristirahat.
"Mil. Tolong bikinkan teh manis hangat. Dua, ya," ucapnya ketika berpapasan dengan Mila yang baru keluar dari kamar kakeknya.
"Iya, Mas," jawab gadis muda itu patuh. "Memang mereka siapa, Mas?" tanyanya yang sudah sangat penasaran.
"Oh ...." Andre nampak ragu untuk jujur pada Mila. Tapi buat apa juga menutupi. Toh, sebentar lagi mereka memang akan menikah. "Dia ... calon istriku," jawab Andre santai.
Gelas di tangan Mila nyaris jatuh. "C-calon istri?" Mata gadis itu membola. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya. Memang kenapa? Ada yang aneh?" jawab Andre acuh. Ia mengambil minuman dingin dari dalam kulkas, menenggaknya sebelum kemudian ikut ke depan ketika melihat kakeknya sudah keluar dari kamar.
"N-nggak, sih, Mas." Hati Mila langsung patah saat itu juga. Matanya berkaca-kaca. Ia sengaja merawat kakek, adalah demi bisa mengambil hati sang pujaan hati. Bahkan ia mengesampingkan pekerjaannya dan mengurus rumah ini supaya Andre mau memandangnya. Bahwa ia layak diperhitungkan jadi calon istri. Tapi pria itu malah membawa wanita lain ke rumah ini.
Apa kurangnya?
Ia cantik, baik juga telaten mengurus rumah dan kakek. Tapi kenapa Andre sama sekali tak pernah mempertimbangkannya dan malah membawa perempuan ingusan ini ke rumah?
Perempuan yang sepertinya hanya pandai bersolek dan manja.
***
"Mumbi." Gadis itu memperkenalkan dirinya sopan.
Kesan pertama melihat Mumbi, orang pasti berpikir bahwa Mumbi adalah gadis yang manis, imut, penurut dan menyenangkan. Tapi setelah melihat kesehariannya. Penilaian itu akan berubah seratus delapan puluh derajad.
"Saya neneknya Mumbi." Mbah Uti ikut memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah.
"Saya Kakeknya Andre."
Kakek tersenyum senang juga haru. Akhirnya cucunya yang keras kepala itu akan menikah juga. "Bagaimana kalau kalian menikah malam ini saja?" Kakek sangat antusias. Ia takut Andre berubah pikiran jika pernikahan tidak segera dipercepat.
"A-APA?" Semua yang ada di ruang tamu itu sontak kaget bukan main. Termasuk Mila yang mengintip di balik tembok.
"Ya, jangan ntar malam juga dong, Kek. Kita, 'kan harus mengurus surat-suratnya dulu." Andre memutar bola matanya malas. Yang mau nikah siapa, yang tak sabaran siapa. Dasar kakek tua!
"Iya. Saya nggak mau kalau cucu saya cuma dinikahi siri." Mbah Uti ikut menimpali. Selama ini Mbah Uti begitu memanjakan Mumbi. Semarah-marahnya, sekesal-kesalnya ia dengan sifat Mumbi, tetap saja ia adalah orang yang paling mengkhawatirkan cucunya itu.
Sementara Mumbi malah langsung terbayang akan malam pertama begitu mendengar usulan Kakak. Sungguh, betapa gobloknya ia. Kenapa di otaknya hanya ada itu?
"Hehe ... maaf, maaf. Saya hanya terlalu senang karena akhirnya cucu saya mau menikah," jawab Kakek apa adanya sembari terkekeh senang. "Jadi, rencananya kalian mau menikah kapan?" tanyanya tak sabaran.
"Ya mungkin beberapa hari ke depan." Andre melirik Mumbi. "Kit menikahnya sederhana saja, ya, Sayang?" Sandiwara mulai dilancarkan. Sementara Mumbi langsung salah tingkah dan gemetaran ketika tangannya digenggam oleh sang idola yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Ya ampun ... Mumbi masih berasa ini mimpi!
"A-aku ... terserah Mas Andre saja." Mumbi dengan aktingnya yang kaku.
"Kalian yakin? Pernikahan itu sekali seumur hidup, lho. Tidak ada salahnya dibuat pesta meski cuma pesta kecil-kecilan."
"Kita maunya privasi aja, ya, Sayang?" Andre menggenggam tangan Mumbi erat. "Lagian daripada uangnya buat pesta mending ditabung buat masa depan. Bener nggak?" Andre meminta dukungan dari Mumbi dengan matanya. Tentunya dengan sedikit tatapan mengancam supaya Mumbi mau bekerja sama dalam suksesnya pernikahan nyata tapi sandiwara ini.
"I-iya. Aku juga setuju. Daripada buat pesta mending uangnya ditabung untuk kebutuhan ke depan nanti." Mumbi menampilkan senyum manisnya, nampak meyakinkan, dan memang bukan bahagia palsu yang Mumbi tampilkan. Tapi memang benar-benar bahagia yang sesungguhnya.
Kakek langsung menyukai Mumbi pada pandangan pertama. Gadis itu cantik, sikapnya manis dan ceria. Tak ada sedikitpun rasa curiga kalau dua sejoli itu bukanlah dua orang yang saling mencinta.
Mata tuanya nampak berkaca-kaca. Rasa haru menyeruak dalam d**a. Akhirnya ada gadis yang membuat cucunya mau melangkah ke jenjang pernikahan. Selama ini, sebanyak apapun itu ia mengoceh, memberikan ceramah panjang lebar bahkan sampai mengancam. Andre tetap pada pilihannya untuk tidak menikah.
"Kakek kenapa nangis?" Mumbi terheran melihat wajah tua itu berkaca-kaca.
"Hahaha ...." Wajah tua itu menangis dan tertawa di waktu bersamaan. "Kakek cuma terharu. Akhirnya anak bandel ini akan menikah juga," ucapnya sembari mengusap tetes air mata di sudut matanya. "Oh, iya. Ngomong-ngomong orang tua Mumbi di mana? Kenapa ke sini cuma sama neneknya?" tanyanya penasaran.
Mbah Uti dan Mumbi saling melirik. Bingung mau menjelaskan situasi mereka.
"Nasib Mumbi sama kaya Andre, Kek." Andre akhirnya yang membantu memberikan jawaban.
Kakek nampak terperangah. Ada simpati di mata tua itu. Namun kemudian matanya kembali berbinar. Ia pikir, mungkin kesamaan itulah yang membuat mereka cocok satu sama lain dan memutuskan untuk menikah. "Kakek harap. Kalian belajar dari masa lalu orang tua kalian. Yang namanya berumah tangga itu memang tidak mudah. Cekcok, debat, segala macam itu adalah hal yang lumrah. Itu bumbu-bumbu rumah tangga. Kakek berdoa, semoga hanya maut yang bisa memisahkan kalian. Jangan sampai ada kata berpisah. Kalian anak korban perceraian. Kalian pasti tahu rasanya seperti apa hidup dalam keluarga broken home. Jangan sampai anak-anak kalian ada di posisi kalian saat ini. Jika ada masalah, bicarakan baik-baik, selesaikan baik-baik. Tekan ego kalian, harus saling mengalah. Kalau sama-sama keras. Rumah tangga tidak akan berhasil. Percaya sama Kakek." Nasehat panjang itu membuat Mumbi terdiam. Ada rasa bersalah karena telah mempermainkan sebuah pernikahan. Pria tua ini begitu tulus dan bahagia dengan pernikahan ini. Padahal sejatinya pernikahan ini dirancang cucunya untuk kurun waktu yang tak bisa ditentukan. Tapi satu yang pasti, mereka akan berpisah suatu hari nanti.
Tiba-tiba ada tekad kuat dalam diri Mumbi untuk berjuang mempertahankan rumah tangga ini, dan menjadikannya rumah tangga yang sesungguhnya.
Tapi apa dia bisa?
Lamunan itu pupus ketika Mumbi sadar bahwa Andre tengah memperhatikannya. Terang saja ia langsung gugup dan salah tingkah. Karena pria itu seolah sedang menebak jalan pikirannya.
"Andre antar Mumbi ke kamar dulu, Kek." Tiba-tiba Andre menarik tangannya. "Kita mau diberesin dulu. Sudah lama juga, kan kamar itu nggak dipakai," ucapnya beralasan.
"Oh, ya, sudah. Tapi jangan macam-macam dulu, Ndre. Sabar dulu sampai waktunya sah!" Seru kakek sengaja menggoda.
"Iya!" Andre balas menyahut santai. Sementara Mumbi nampak merah padam. Otaknya kembali konslet membayangkan bagaimana nanti ciuman pertamanya dengan Andre Himawan. Matanya reflek saja melirik pria jangkung itu dan terpaku di bibirnya yang penuh juga menggoda. Apa rasanya manis dan enak?
Astaga bisa gila! Mumbi cekikikan dalam hati.
"Kenapa kamu?" Andre menatap Mumbi heran. Semakin ilfeel saja ia dengan kelakuan perempuan aneh ini.
Atau lebih tepatnya semakin takut kalau perempuan ini nantinya baper padanya. Bikin repot aja nanti!
"N-nggak, kok."
"Ingat, ya. No baper-baper. Kita cuma ni-kah kon-trak. Tanamkan itu di otak kamu." Andre mengetuk kepala Mumbi dengan kalimat penuh penekanan. "Dan jangan mimpi kisah kita ini bakalan kaya drama-drama romantis. Itu nggak akan pernah ada. Saya jamin itu," tekannya sekali lagi. Mumbi hanya mengangguk saja. Tapi dalam hati ia sudah bertekad untuk menakhlukkan keras hati pria ini. Lihat saja nanti!
"Jangan lupa beli pil pencegah kehamilan. Karena kita cuma menikah sementara. Jangan sampai ada anak yang menjadi korban dari perceraian kita. Oke?" tegasnya.