Kehidupan

1113 Kata
"Begini, Mbah." Andre menghela nafasnya, melirik Mumbi sekilas. Sebenarnya masih sedikit ragu untuk menjadikan Mumbi sebagai istri bayarannya. Tapi seperti kata Akbar, gadis itu hanya akan menjadi istri sementaranya saja. Jadi, apa yang perlu dia ributkan? "Sebenarnya kedatangan saya ke mari mau melamar Mumbi untuk jadi istri saya, Mbah," ucap Andre kemudian, yang langsung membuat Mbah Uty shock. Sementara Akbar dan Mumbi nampak saling melirik dengan jantung berdebar. "M-melamar Mumbi?" Mbah Uty sampai gagap. Andre mengangguk dengan sikap yang tenang. Berbeda dengan dua curut yang lain yang nampak tegang. "Apa Mbah nggak salah denger?" tanya Mbah Uti sekali lagi. Pandangan wanita tua itu lalu beralih menatap cucunya. Wajah Mumbi tegang. Tapi di detik berikutnya dia tersenyum. "S-sebenarnya selama ini Mumbi pacaran sama Mas Andre, Mbah. Kita LDR-ran. Mumbi pernah, 'kan beberapa kali ke Jakarta? Nah ... i-itu Mumbi sebenarnya mau ketemu sama Mas Andre." Entah sudah seaneh apa wajah Mumbi kini. Mungkin ia sering berdebat dengan Mbahnya. Tapi ia tidak pernah berbohong. Kalau dia mengatakan keluar dengan si A, maka Mumbi akan mengatakan keluar dengan si A. Beberapa kali teman pria yang datang ke rumah pun. Mumbi tidak pernah membohongi simbahnya. Meski Mbah Uti yang pusing setelah itu, karena kampung geger dengan gosip Mumbi yang gonta-ganti pacarlah, inilah, itulah. Sementara yang jadi bahan omongan cuek-cuek saja. "Iya, Mbah. Itu benar." Andre berusaha membantu akting Mumbi yang sangat payah itu. "Tapi ... tapi apa Nak Andre ini yakin? Mumbi ini nggak bisa ...." "Yakin, Mbah. Yakin. Andre sudah yakin banget. Yuklah, Mbah. Restuin aja. Mumpung Mumbi ada yang mau." Akbar buru-buru menyela. Bisa gawat kalau Mbah Uti membongkar kebobrokan Mumbi yang aslinya tidak bisa apa-apa. Seumur hidup gadis itu bahkan sepertinya belum pernah mencuci bajunya sendiri. Mumbi sangat-sangat bergantung pada Mbahnya juga tetangganya yang dibayar ibunya untuk mengurusi segala kebutuhannya. Sementara Mumbi langsung melirik keki ke Akbar. Sembarangan banget si bencong ini kalau ngomong. Begini-begini, banyak yang mau padanya. Hari ini putus, bukan hal sulit bagi Mumbi untuk mencari pengganti lagi. Hanya saja mencari seseorang yang bisa menggetarkan hatinya, itu yang sulit dan susah menemukannya. "Gimana, Mbah?" tanya Andre yang melihat wanita itu malah kebingungan. Seolah tak rela dan mungkin belum percaya cucunya akan dipinang secepat ini. "Gimana, ya?" Simbah benar-benar bingung. Menurutnya ini terlalu tiba-tiba. "Mbah, sih ... terserah Mumbi aja gimana? Tapi memang kamu sudah siap menikah, Nduk?" Bagaimana tidak khawatir. Mumbi itu selama ini sangat manja, seenaknya sendiri dan bahkan mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa. Apalagi harus ditambah mengurus suaminya. Apa tidak runyam nanti rumah tangganya? "Mumbi siap, Mbah," jawab Mumbi dengan meyakinkan. Meski urung hatinya ada sedikit meragu dengan keputusan ini. "Ya ... ya ... gimana, ya?" Simbah masih dilema. "Mbah telfon ibunya Mumbi dulu, ya? Biar ke sini." "Iya, Mbah. Menikah, 'kan bukan perkara main-main. Harus ada omongan antar dua keluarga." Akbar setuju dengan usulan Simbah. Meski kalimatnya jelas menyindir. "Kalau Ayahnya Mumbi gimana, Mbah?" tanya Akbar ingin tahu. Bagaimanapun Mumbi butuh wali nikah. "Bapaknya Mumbi ada di kampung sebelah." Mbah Uty melirik Mumbi yang nampak tak tertarik dengan keberadaan ayahnya. Mumbi sama sekali tak akrab dengan ayah kandungnya. Sedari kecil bisa dihitung dengan jari berapa kali ia berjumpa dengan ayah kandungnya itu. Bertahun-tahun ayahnya merantau di kota, menikah lagi dan punya keluarga baru. Kalau saja bukan karena sakit, mungkin ayahnya itu tidak akan kembali ke kampung halaman. Atau ingat di kampung sebelah ada anaknya yang tak ia nafkahi dan terlupakan sedari bayi. "Ya, sekalian dipanggil untuk rembugan gimana, Mbah?" usul Akbar. "Gimana, Mumbi? Ayah kamu diminta ke sini?" Mbah meminta pendapat Mumbi. Dan hanya anggukan yang diberikan gadis itu. *** "Aduh. Gimana, ya, Mumbi?" Ada dilema di suara Karlina, ibu kandung Mumbi. "Ibu nggak bisa kalau sekarang ke sana. Adik kamu kecelakaan sudah seminggu ini. Ibu nggak tega kalau harus ninggalin lama-lama. Kalau kamu memang sudah yakin mau menikah. Apapun pilihan kamu, Ibu akan kasih kamu restu. Ibu doakan yang terbaik untuk kamu." Ketika suara yang diloudspeaker itu tak lagi terdengar. Suasana di ruang tamu itu hening. Mumbi diam. Dan tiga orang lainnya tahu bahwa Mumbi merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Akbar sangat tahu, meski selama ini Mumbi selalu terlihat ceria. Tapi gadis itu sering merasa kesepian dan haus akan kasih sayang. Dan Andre, yang posisinya nyaris sama seperti Mumbi. Ia tahu pasti apa yang gadis itu rasakan. Sementara simbah, tak bisa berbuat banyak. Ia juga sudah seringkali menasehati Karlina. Tapi mau bagaimana lagi, putrinya itu juga sudah punya keluarga baru. Mumbi punya empat adik tiri dari pernikahan ibunya dengan suami barunya. "Mumbi?" Suara Karlina terdengar lagi karena Mumbi tak menimpali ucapannya. "Iya, Bu. Nggak papa." Mumbi berusaha menjawab setegar mungkin. Ia sadar, bukan orang yang diprioritaskan oleh ibunya. Ia sudah sering dinomor terakhirkan. Jadi, hal seperti ini sudah biasa. Itulah yang membuatnya bersikap membangkang. Karena ia ingin sekali saja diperhatikan. Tapi nyatanya semua sia-sia saja. Tidak ada yang peduli padanya. "Maaf, ya. Nanti Ibu kirim uang untuk pernikahan kamu." Dan lagi-lagi, ibunya akan menyogoknya dengan uang. Padahal bukan itu yang Mumbi inginkan. Ia hanya ingin sekali saja ibunya ada untuknya, mendengarkan ceritanya, memeluknya seperti anak lain yang mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Panggilan itu kemudian berakhir. Suasana kembali hening. Sampai kemudian Akbar kembali bersuara. "Kita hubungi ayahnya Mumbi ... gimana? Biar gimanapun Mumbi butuh wali nikah, 'kan?" ucap Akbar hati-hati. Mumbi tak mengiyakan, hanya tangannya yang terus bergerak lincah untuk menghubungi ayah kandungnya. Andai saja tak butuh wali nikah. Mumbi enggan sekali menghubungi ayahnya itu. Ah, entahlah. Bahkan ia tak yakin masih dianggap anak atau tidak. "Halo. Assalamuallaikum." Suara Galih, ayah kandung Mumbi terdengar dari seberang. "Wallaikumsalam." Salam Mumbi terdengar kaku. Andre nampak menelisik wajah Mumbi. Ia merasa beruntung dilahirkan sebagai laki-laki, sehingga tak perlu direpotkan saat mengurus pernikahan. Lagipula orang tuanya sudah ia anggap mati. "Ya, ada apa, Bi?" Suara Galih juga terdengar kaku. Saking tak pernah berkomunikasi dengan anak sendiri. Mumbi diam. Ia juga kaku jika harus bicara dengan ayah kandungnya itu. "Mumbi mau nikah, Galih." Mbah Uti akhirnya yang bicara. "Kamu bisa, 'kan jadi wali nikahnya?" "Mumbi mau nikah?" "Iya. Mumbi mau nikah. Kamu bisa, 'kan jadi wali nikahnya?" "Aduh. Gimana, ya, Mbah. Bukannya nggak mau, tapi memang benar-benar nggak bisa. Saya di Lampung sekarang. Buat ongkos pulang juga saya nggak punya. Saya baru kerja ...." Tutt ... tutt ... Mumbi langsung mematikan sambungan telefon. Padahal ayahnya belum selesai bicara. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun yang nantinya hanya akan membuat hatinya kecewa. "Mumbi mau menikah secepatnya. Dengan atau tanpa kehadiran orang tua," ucap Mumbi lantang. Ia sudah jenuh dengan kehidupan di kampung ini. Ia ingin memulai hidup baru, di kota yang baru dan memulai semuanya dari awal lagi dengan kehidupan yang berbeda. Meski ia tak tahu bagaimana nasibnya setelah pernikahan nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN