Syarat

1399 Kata
Mumbi maju mundur di tempatnya berdiri. Mundur mau ke mana? Pasti akan terlihat aneh. Tapi kalau maju? Oh my ghost! Kenapa ia harus berjumpa dengan idolanya dengan daster yang merusak pemandangan ini. Rasanya Mumbi ingin berteriak sekencang mungkin akan takdir yang tak elok ini. Harusnya ia memakai pakaian terbaiknya. Kalau begini, jangankan jatuh cinta, Andre Himawan pasti langsung mual melihatnya. "Bar." Andre melirik Akbar yang juga sama tak mampu berkata-kata. "Ini yang lo bilang fashionable?" bisiknya sinisnya. "N-namanya juga lagi di rumah, Ndre." Akbar berusaha membela Mumbi, meski hatinya sejatinya ketar-ketir juga. Tapi astaga ... Bahkan masih mending selera daster ART tetangganya daripada daster buluk yang Mumbi pakai ini. Ya ampun ... ini daster model gembel atau gimana, sih? Akbar benar-benar tak habis pikir dengan hobi ajaib Mumbi. "Ayo, silahkan duduk dulu. Kalian pasti capek habis perjalanan jauh." Suara Mbah Uty mengalihkan perhatian mereka. "Sebentar, ya, Mbah bikinkan minum dulu. Tapi ngomong-ngomong kalian mau minum teh apa kopi?" tawarnya ramah. "Ehm ... aku kopi aja, Mbah. Kamu apa, Ndre?" "Samainlah." Andre sempat melirik sekali lagi ke Mumbi yang menunduk dengan gelagat tak nyaman. "Ya, udah kopi dua. Jangan lupa mendoannya ya, Mbah. Hehe ... canda mendoan. Tapi kalau ada ya, Akbar mau." Akbar nyengir. Tapi ia memang kangen dengan mendoan bikinan Mbah Uti yang rasanya mantul itu. "Siap." Mbah Uti mengangkat jempolnya. "Kalian tunggu sebentar, ya. Atau mau istirahat dulu di kamar juga silahkan. Nggak usah malu-malu, Bar." "Haduh. Kaya nggak tahu Akbar aja. Kapan Akbar pernah malu, Mbah. Kalau malu-maluin, sih, iya." Akbar ngakak. Tapi sedetik kemudian ia melirik keki ke Mumbi yang sudah seperti terdakwa di ruang tamu itu. Suasana mendadak hening. Andre duduk santai sembari memainkan ponselnya. Mumbi duduk kikuk karena tak nyaman dengan dasternya. Jangan lupakan mukanya yang masih bau bantal. Akbar sendiri sedang memikirkan apa yang akan dikatakan pada dua manusia ini. "Kenalan, sih kalian. Kok malah pada diem-dieman," ujar Akbar akhirnya. Mumbi dan Andre saling melirik. Mumbi yang sok cuek padahal aslinya malu dan Andre yang mendadak ilfeel. Pertemuan calon suami dan calon istri macam apa ini? Akbar memutar bola matanya malas. "M-Mumbi." Akhirnya Mumbi yang memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya ke pria tampan yang menjadi idolanya itu. "Andre." Andre adalah orang yang blak-blakan. Ketika dia ilfeel, maka ia akan menunjukkannya terang-terangan. Itu terlihat dari bagaimana ia menyambut uluran tangan mumbi dengan setengah hati. Bahkan dengan terang-terangan langsung mengelap tangannya ke kemejanya, seolah di tangan Mumbi ada kuman-kuman jahat yang akan membuatnya terkena virus jahat yang mematikan. Mumbi jelas tak buta. Ia melihat itu semua. Hatinya sedih, tapi ia tahu diri segembel apa dia sekarang. Ia bahkan belum mandi di tengah hari begini. Akhirnya dia melirik Akbar. Kenapa si bencong ini datang tak mengabarinya dulu coba? Harusnya, kan dia bisa persiapan dulu! "Apa lo?" Akbar bicara tanpa suara. Dua orang itu malah saling perang dingin dengan kode mata dan mimik wajah. "Kalian kenapa, sih?" Andre akhirnya menyadari juga kelakuan aneh dua orang itu. "Enggak," jawab Mumbi dan Andre berbarengan. Ketiganya saling melirik dan suasana kembali hening. Karena tak tahu harus bicara apa juga. "Mumbi. Mending kamu mandi dulu, deh. Biar ngga merusak pemandangan. Terus ganti baju yang bener." Akhirnya Akbar yang bicara. Ia mendekat ke Mumbi dan mendorong gadis itu ke kamarnya untuk segera membersihkan diri sebelum Andre makin ilfeel dan mual. Akbar juga ikut masuk ke kamar Mumbi dan menutup pintu rapat-rapat karena ada yang ingin dia bicarakan. "Gila lo, ye ... kapan, sih hobi lo pakai dasternya Mbah Uti ilang. Astaga ... lihat nggak muka Andre langsung ilang feeling sama lo, Jubaedah." Andre berbisik geram. "Lah, sih? Kenapa mau ke sini gak kasih kabar-kabar dulu?" Mumbi Langsung membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Akbar hanya bisa melongo melihat Mumbi dengan gerakan kilat melempar seragam futsalnya berikut kaus kaki bau terasinya yang teronggok di lantai ke keranjang kotor. Pun gadis itu langsung merapikan meja riasnya yang super berantakan dengan alat make up yang berceceran. Jangan lupakan gantungan baju di cantelan yang menumpuk. Entah itu baju kotor atau baju bersih. Belum tas-tas yang berserakan dan segala pernak-pernik seperti gelang, kalung, anting, segala jenis jepitan rambut yang amburadul di atas nakas. "Kerjaan kamu tiap hari ngapain, sih, Mumbi? Kamar bisa kaya kandang tikus begini." Akbar hanya bisa mengelus d**a. Ia harap setelah menikah dengan Andre, Mumbi bisa berubah. Selama ini Mumbi memang bisa dibilang kurang kasih sayang. Kasusnya hampir sama seperti Andre. Kedua orang tua Mumbi bercerai. Ayahnya lupa tanggung jawabnya pada sang anak. Jangankan menjenguk, nafkah saja dilupakan. Sedangkan ibu Mumbi juga sudah menikah lagi dengan pria kaya dari kota lain. Hanya saja suami baru ibunya tidak mengijinkan Mumbi tinggal bersama mereka. Waktu itu Mumbi masih berusia setahun ketika ibunya menikah lagi dan ia di rawat oleh simbahnya. Secara materi Mumbi memang tak kekurangan. Ibunya setiap bulan rutin memberikan uang yang cukup besar kepadanya sebagai pengganti rasa bersalahnya karena tak bisa memberi Mumbi waktu dan kasih sayang selayaknya ibu-ibu yang lain. Bahkan saking sibuk dengan keluarga barunya. Dalam setahun mungkin ia hanya disambangi dua tiga kali. Padahal jarak antar kota hanya satu jam perjalanan. Sementara itu, Andre yang duduk di ruang tamu nampak keheranan mendengar suara ribut dari dalam kamar Mumbi. Suara gedebak-gedebuk begitu jelas terdengar telinganya. "Itu mereka lagi ngapain di kamar?" gumamnya aneh. *** "Gue lihat Mumbi kaya nggak meyakinkan banget anaknya." Andre akhirnya mengeluarkan kegelisahannya. "Kurang meyakinkan gimana? Dia anak baik." Akbar membela Mumbi. "Dahlah. Lagian lo, kan cuma cari istri bayaran bukan istri yang benar-benar akan menemani lo seumur hidup. Nggak usah ribet, deh. Percaya sama gue." Andre menyesap lemon tea panas yang ia pesan. Saat ini mereka sedang berada di rumah makan lesehan yang letaknya di pinggir persawahan. Udara sejuk yang menyapa sedikit memberikan ketenangan juga suasana yang berbeda. "Gue cari istri bayaran bukan buat nambahin beban hidup. Lihat tuh anak masih bocah begitu." "Mukanya aja yang bocah. Dia udah 24 tahun." Akbar masih tetap ngotot. "Tapi kayanya dia tipikal manja. Gue nggak bisa sama cewek modelan begitu, banyak drama. Ntar hidup gue tambah rungsang lagi." Andre sudah was-was saja. "Udah, tenang aja. Gue tinggal. Lo berdua ngomong. Tuh, Mumbi sudah balik dari toilet." Akbar berdiri dan mendekat ke Mumbi yang sudah cantik dengan penampilannya yang kekinian. Daster gembel itu sudah Akbar musnahkan tadi. "Mumbi. Andre. Mau ngomong sama kamu." *** Andre dan Mumbi masih saling diam. Sesekali saja Mumbi melirik wajah tampan yang dulu hanya bisa ia intip di layar youtobe. Tapi kini wajah itu ada di depan matanya. Meski tatapannya nampak tak menyenangkan. "Oke. To the point aja, ya," ucap Andre setelah beberapa saat saling diam. Mumbi mengangguk dengan senyum tipis. Jantungnya langsung berdegup kencang. "Kamu yakin mau jadi istri bayaran saya?" Sekali lagi Mumbi mengangguk mantap. Mana bisa ia menolak pria setampan ini. Hatinya belum-belum sudah berbunga-bunga membayangkam setiap hari akan tidur dengan pria ini. Ya ampun .... "Artinya kita menikah hanya untuk sementara dan kamu akan menjadi janda. Kamu siap menanggung semua itu?" "Siap," jawabnya tanpa pikir dua kali. Wajah itu telah mengalihkan seluruh logikanya. Jika kemarin-kemarin ia sempat ragu. Tapi setelah manusia tampan ini berdiri di hadapannya. Ia seolah kehilangan akal untuk menolak rencana gila ini. "Akbar bilang kamu mengidolakan saya?" tanya Andre penuh selidik. "Iya." Mumbi mengangguk penuh semangat. Senyumnya melebar malu-malu layaknya seseorang yang bertemu dengan idolanya. Bahagia! "Kamu dengar baik-baik, ya. Kita hanya menikah kon-trak untuk waktu yang nggak bisa saya tentukan. Tapi ... saya nggak mau ada drama-drama murahan, baper-baperan nggak jelas. Ketika saya bilang kita akan bercerai. Maka saat itu juga kita selesai. Saya nggak mau ada drama-drama nantinya. Karena saya bayar kamu di sini. Ada hitam di atas putih." Ketika mendengar kata cerai. Hati Mumbi sedikit mencelos. Ada terbersit perasaan sakit. Padahal mereka menikah saja juga belum. Lagi. Mumbi mengangguk, meski terlihat ada keraguan dalam anggukannya kali ini. "Kamu yakin?" Andre memastikan sekali lagi. Karena ia melihat keraguan itu. "Yakin." Mumbi menjawab mantap setelah meyakinkan diri. Ia ingat kata Akbar. Mereka tinggal satu atap, bertemu setiap hari, dan berhubungan layaknya suami istri. Bukankah akan ada kemungkinan di antara mereka akan muncul benih-benih cinta? "Oke." Andre mengeluarkan surat perjanjian dari dalam tasnya. Lalu menyodorkannya ke depan Mumbi. "Kita menikah hanya untuk status. Jangan ikut campur urusan saya. Kamu dibayar, jadi kamu harus patuh dan jangan banyak membantah. Dan satu lagi, saya nggak mau punya anak. Jadi, jangan lupa minum pil kontrasepsinya. Kalau sampai kebobolan. Saya pastikan saya akan minta kamu gugurin anak itu saat itu juga. Paham?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN