"Siapa namanya? Mu-Mumi?" Andre kurang jelas mendengar nama aneh yang keluar dari mulut Akbar.
"Sembarangan lo kalau ngomong. Biar gimanapun dia saudara gue." Akbar tak terima. "Namanya Mumbi."
"Oke. Mumbi. Tapi kalau saudara lo kenapa disodorin ke gue? Dia cuma gue jadiin istri bayaran, lho." Andre jelas saja terheran.
"Dia yang mau ini, kok."
"Serius lo?"
"Iya. Dia suka sama lo, Bambang."
"Duh." Andre bimbang. "Gue nggak bisa, nih kalau pakai main perasaan begini. Kalau dia baper terus bikin drama gimana? Gue cari istri bayaran biar gak repot, bukannya mau nambah masalah. Dia di sini cuma jadi istri yang gue bayar. Yang artinya dia cuma jadi istri sementara. Ntar dia kira kita lagi main drama. Di mana cewek cowok nikah kontrak, terus berharap nanti jatuh cinta dan cowoknya bucin. Aduh, enggak banget cewek model begini. Gue nggak bisa." Belum-belum Andre sudah memprediksi apa yang gadis itu pikirkan. Karena kebanyakan cewek jaman sekarang pada jadi korban drama Korea yang menonjolkan sisi romantis yang membuat para wanita tergila-gila.
"Enggak. Gue jamin. Dia bukan tipe yang begitu." Boro-boro nonton drama Korea. Hobinya setiap hari cuma tidur kaya Kebo. Akbar membatin. Dia tahu, karena neneknya Mumbi sering menghubunginya dan berkeluh kesah tentang cucunya yang sering membuatnya darah tinggi dengan kelakuannya itu.
"Terus kenapa lo tahu dia suka sama gue?" Andre penasaran.
"Ya dia sering lihat lo di youtobe. Bahkan dia pernah beberapa kali ke Jakarta cuma buat ketemu lo. Tapi karena jadwal lo padat. Makanya nggak pernah ketemu. Udahlah. Pokoknya percaya sama gue. Dia nggak bakalan baper-baper. Udah gue kasih tahu s&k yang berlaku. Pokoknya manteplah pilihan gue. Nih fotonya." Akbar mengirimkan foto Mumbi ke Wa Andre. "Cakep, kan?"
"Cakep, sih." Andre mengakui itu. Meski wajahnya terlihat masih bocah ingusan.
"Follow tuh IG-nya. Himawanmumbi." Akbar saja sampai shock waktu pertama kali tahu nama IG Mumbi.
Norak banget tuh bocah!
Bisa-bisanya!
"Kenapa pakai nama gue dia?" Andre makin tak yakin. "Kaya gini, lo yakin nanti dia nggak bakalan baper?"
"Dahlah. Dikasih kesempatan buat jadi istri lo aja dia udah seneng." Akbar terus berusaha meyakinkan. Di satu sisi ia ingin Andre menikah. Di sisi lain, ia juga ingin membantu Mumbi berubah. Mereka dua orang yang punya masalah hidup masing-masing. Menurut Akbar, mereka bisa menjadi pasangan yang bisa saling melengkapi satu sama lain.
"Anaknya fashionable banget pokoknya. Meskipun dari desa, tapi gak bakalan bikin malu kalau lo bawa nongkrong." Akbar terus mempromosikan Mumbi. Meski jauh di hatinya Akbar sedikit khawatir. Masalahnya Mumbi itu fashionable-nya pas di luaran doang. Kalau di rumah.
Beuhhh!
Naudzubillah!
Udah kaya emak-emak mau nggosip di tukang sayur!
"Pintar masak, 'kan dia?"
Muka Akbar langsung horor mendengar pertanyaan itu. Tapi ia buru-buru mengolah ekspresinya hingga nampak meyakinkan. "Masalah masak jago dia mah. Sudah teruji klinis." Akbar tertawa aneh. Untungnya Andre tak curiga dengan tawanya yang absurd itu. Padahal Akbar sejatinya mules karena apa yang omong adalah kebohongan besar.
Mumbi ... pintar masak!
Semoga nggak kiamat dunia!
"Dahlah. Pokoknya Mumbi itu rajin beberes, cinta kebersihan, cinta damai, jago masak dan pinter goyang juga dia." Akbar mengerlingkan matanya. Padahal ia mules muji-muji Mumbi begini. Semua yang keluar dari mulutnya adalah OMONG KOSONG!
"Dan dia agak-agak buo-doh. Tipe lo banget, deh pokoknya." Kalau ini baru Akbar jujur. Senyum cerah pun terukir di bibirnya. "Jadi kapan kita ke kampungnya Mumbi buat lamar dia?"
***
"Masih jauh perjalanannya?" Andre menatap pemandangan sawah yang menguning dari ujung ke ujung sembari menyetir mobilnya santai. Pemandangan memanjakan mata yang tak akan mungkin ia temui di kota.
"Bentar lagi." Akbar sibuk menghubungi Mumbi. Sudah dari kemarin bocah geblek itu tak bisa ia hubungi. Padahal ia ingin mengabarkan kalau ia akan datang bersama Andre. "Kemana, sih itu, Bocah?"
Akbar akhirnya memilih menghubungi simbahnya Mumbi. "Halo, Assalamuallaikum."
"Wallaikumsalam." Mbah Uti membalas salam. Itu panggilan untuk wanita tua usia enam puluhan itu.
"Mumbi ada, Mbah?" tanya Akbar to the point. Bagaimanapun ia khawatir. Takut nanti mereka datang, penampilan Mumbi masih kaya wewe gombel kelelep sumur. Bisa ilfeel kalau Andre melihatnya.
"Halah. Biasa. Mumbi mah jam segini masih kebo dia di kamar. Semalam habis main futsal sama teman-temannya, Bar. Mbah udah pusing mikirin si Mumbi. Entah kapan dia mau berubah." Mbah Uti mulai curhat.
Astaga! Geblek bener si Mumbi!
Sudah Akbar duga. Jangan-jangan Mumbi itu sodaranya Kebo? Kelakuannya sebelas dua belas. Delosar-delosor gak jelas. Ampun, nih anak!
"Bangunin, Mbah. Pokoknya sampai bangun. Kalau perlu siram air. Terus jangan lupa bilang Akbar udah mau nyampe." Akbar yang kelimpungan sekarang.
"Aduh. Memang kenapa, Bar? Masa disiram air. Sayang kasurnya nanti basah."
"Hahaha ...." Akbar kesenengan. Asyem bener si simbah.
Kirain takut Mumbi basah. Tahunya takut kasurnya yang basah. Tapi memang iya, sayang juga kalau kasurnya basah. Nambah kerjaan aja nantinya buat beberes.
Setelah bicara panjang lebar dengan Mbah Uti. Akbar mematikan sambungan telefon. Sementara Andre yang duduk di kursi kemudi nampak melirik curiga.
"Si Mumi belum bangun?" tanyanya penasaran. Anak perawan tengah hari begini belum bangun?
"Sembarangan lo. Mumbi bukan Mumi. Lo pikir jaman Firaun." Akbar tak terima. "Iya. Dia kecapekan habis ada acara semalem." Terpaksa Akbar membuat alasan supaya Andre tak curiga.
"Acara apaan?"
"Kawinan. Kalau di kampung gitu acaranya dua hari dua malam. Capek banget, deh pokoknya." Akbar bicara menyakinkan.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di sebuah rumah berkeramik merah bata. Ada satu mobil Avanza yang terparkir di garasinya. Andre memarkirkan mobilnya di belakang mobil itu. Karena rumah Mumbi halamannya tak begitu luas. Juga sengaja tak diberi taman atau tanaman bunga pot. Karena memang benar-benar hanya untuk lewat jalan mobil.
"Assalamuallaikum." Salam Akbar dengan suaranya yang lantang. Andre mengikuti di belakangnya sembari melihat-lihat kampung Mumbi yang cukup padat penduduk. Jarak antara rumah satu dengan yang lain juga nyaris tanpa sekat.
"Wallaikumsalam." Mbah Uti nampak berlari kecil dari dalam rumah dan menyambut Akbar dengan ramah. "Ya Allah. Akbar. Sehat, Le?" Wanita tua yang masih sehat dan bugar itu menepuk-nepuk punggung Akbar dengan tepukan kerinduan.
"Hehe ... sehat, Mbah. Lama nggak ke sini. Biasa, sibuk cari duit. Jaman sekarang apa-apa serba mahal, Mbah. Pusying pala Barby!" Seperti biasa Akbar dengan gayanya yang lebay.
"Halah. Kamu sudah sukses ini, Le. Mbah sering lihat kamu di hape-nya Mumbi. Cuma makan-makan enak dapat duit. Enak, Le." Pikiran sederhana Mbah Uti.
"Ya Alhamdulilah, Mbah. Disyukuri aja. Oh, iya. Kenalin ini Andre, temennya Akbar." Akbar mengenalkan Andre ke Mbah Uti.
Andre menyalami wanita itu dengan sopan. "Andre, Mbah."
"Panggil aja Mbah Uti. Ayo masuk-masuk." Mbah Uti membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Mumbinya mana, Mbah?" Akbar ketar-ketir karena belum melihat penampakan Mumbi sedari tadi.
"Lagi di WC tadi. Eh, itu dia anaknya."
Pandangan Akbar dan Andre langsung tertuju ke sosok yang berjalan dari arah dapur.
Muka bantal Mumbi dipadukan dengan daster buluk milik Mbak Uti yang melekat di tubuh mungil itu seketika membuat dua pria itu menganga sempurna.
MUMBI!
Akbar rasanya mau pingsan saat itu juga. Kebiasaan Mumbi dari jaman jebot. Gadis itu suka sekali memakai daster punya Mbahnya. Mana dasternya sudah rombeng begitu. Kalau daster baru, sih masih bisa diterima akal sehat.
Ya salam ...
Di waktu bersamaan Mumbi juga berhenti melangkah ketika menyadari ada tamu di ruang tamu rumahnya. Matanya yang masih ada beleknya melebar sempurna, menatap tamunya dengan horor.
"A-Andre Himawan?!"