"Mumbi. Andre lagi cari calon istri, nih. Kamu mau nggak?" Akbar akhirnya menghubungi saudara jauhnya di desa yang kebetulan sangat mengidolakan Andre Himawan, sang food vlogger kuliner yang terkenal karena parasnya yang tampan juga kebaikannya membantu mempromosikan UMKM kecil hingga namanya naik dan viral.
"Maksudnya?" Mumbi yang nyawanya belum terkumpul sempurna jelas tercengang mendengar saudara jauhnya itu menawarkan Andre Himawan seperti menawarkan keripik kentang padanya.
Ini mimpi bukan, sih?
Mumbi menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Bukan karena hari masih subuh. Tapi memang semua pintu dan ventilasi masih tertutup untuk bisa menghantarkan cahaya mentari masuk ke kamar.
"Heh, Mumbi. Jangan bilang kalau kamu baru bangun?" Akbar menepuk jidatnya sendiri membayangkan kelakuan si perawan desa itu. "Gila! Jam berapa ini, Mumbi? Nggak malu sama ayam tetangga!" Suara Akbar menggelegar. Benar-benar kelakuan anak itu. Kebiasaan dimanja dari kecil, makanya gedenya kelakuannya bikin darah tinggi.
Bukannya menjawab Mumbi malah menguap lebar sembari melihat waktu di ponselnya. Jam dua belas siang. Gadis itu sama sekali tidak terkejut meskipun bangun di tengah hari. Malah biasanya ia bisa bangun jam lima sore. Hanya untuk makan dan selanjutnya melanjutkan tidurnya sampai pagi lagi kalau sedang kebo-kebonya.
"Tadi gimana, Mas?" tanyanya lagi dengan suara seraknya khas bangun tidur. Badannya menggeliat, merenggangkam otot-ototnya yang kaku setelah tidur panjang.
"Andre lagi cari bini. Kamu mau nggak?" tawar Akbar sekali lagi dengan entengnya.
"Ini beneran nggak, sih?" Terang saja Mumbi bingung. Tapi tawaran itu memang menggiurkan. Siapa yang tidak mau dengan Andre Himawan. Beberapa kali ia ke Jakarta hanya untuk bisa bertemu dengan sang idola yang kebetulan bersahabat dekat dengan Akbar Asofyan. Tapi jadwal pria itu selalu saja padat. Hingga sampai saat ini Mumbi belum kesampaian untuk bertemu dengan sang idola.
Mungkin sudah setahun lebih Mumbi terpesona pada sang youtober. Andre Himawan itu berbeda dengan food vlogger yang lain. Gaya bicaranya ceplas-ceplos tapi memang realita. Beberapa kali ia mendengar pria itu diundang di podcast dan mengatakan bahwa ia tidak percaya pada pernikahan dan memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya.
Makanya, ketika Akbar mengatakan ini, terang saja ingatan Mumbi berkelana dari satu podcat ke ke podcast yang pernah ia tonton. Apapun tentang Andre Himawan, akan dengan mudah diingat kepalanya dengan sangat baik.
"Ya, beneranlah, Mumbi. Ngapain gue sampai telfon orang nggak penting kaya lo kalau cuma buat nge-prank." Akbar yang memang sedang dipusingkan dengan masalah rumah tangganya. Makin dibuat pusing dengan permintaan Andre dan kelemotan Mumbi.
"Ish. Kurang asem." Mumbi bersungut-sungut.
"Tapi nih, ya. Ada syaratnya."
"Syarat? Syarat apa?" Mumbi penasaran.
"Ya, kamu mau apa nggak? Kalau enggak mah, males jelasin panjang lebarnya." Akbar malas ribet.
"Ya ... mau, sih." Belum-belum Mumbi sudah berkhayal bersanding dengan pria tampan itu. Siapa yang bisa nolak coba? Setiap hari kerjaannya nontonin youtube channel yang ada Andre Himawannya sampai gumoh.
"Tapi cuma sebagai istri bayaran."
"Maksudnya?" Kepala Mumbi mendadak puyeng mendengar penjelasan Akbar yang sepotong-sepotong itu.
"Ya, nikahnya beneran. Tapi kamu dibayar, untuk masa pernikahan yang tidak bisa ditentukan. Kamu pasti tahulah, Andre itu nggak tertarik sama pernikahan. Bahkan dia udah punya niat nggak bakalan nikah seumur hidup. Tapi karena dia didesak terus buat nikah sama engkongnya. Dia akhirnya memutuskan cari istri bayaran. Begitu. Paham, Nak?" Akbar yang memang sedikit lekong menjelaskan secara terperinci. Tapi biar sedikit lekong. Akbar ini normal seratus persen. Makanya dia menikah dan punya anak seperti pria normal lainnya. Meski banyak juga yang menghujat perangainya.
"Yah ... terus nikahnya cuma bentaran, dong?"
"Yah mungkin sampai engkongnya is dead."
"Ih, jahat deh mulutnya."
"Apa, sih? Ini serius, Mumbi. Jadi gimana, kamu mau apa enggak?" desak Akbar. "Gini, deh. Menurut aku, nih, ya. Ini kesempatan buat kamu, Bi. Yang namanya orang tinggal satu rumah, tiap hari ketemu, nanti juga lama-lama benih-benih cinta itu akan bertumbuh. Yang penting kamu juga ada usaha. Jangan bikin Andre ilfeel sama kelakuan kamu yang kelewat slebor itu."
"Ehmm ...." Mumbi nampak berpikir keras. Namanya pernikahan harusnya sesuatu yang sakral. Bukan sesuatu yang main-main. Tapi kapan lagi kesempatan semacam ini akan datang? Bisa menikah dengan Andre Himawan yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpinya. Ini seperti mimpi yang akan jadi nyata.
"Aku ... mau ...." Mumbi akhirnya mengiyakan. Namanya cinta harus diperjuangkan bukan? Dan ia akan berjuang untuk itu.
"Yakin, nih?" Akbar memastikan sekali lagi.
"Iya, Bawel." Kali ini Mumbi menjawab lebih bersemangat.
"Oke. Tapi ada syarat dan ketentuan berlaku." Akbar mulai menerangkan s&k yang Andre buat. "Andre itu cari istri, yang, pertama dia harus goodlooking, pinter di kasur, pinter di dapur, pintar beres-beres rumah. Dia juga sukanya sama cewek yang agak-agak bo-doh kaya lo gitu dan penurut. Pokoknya kamu jangan ngeyelan. Nanti dia berang dan murka. Paham, Bi?"
"Eh?" Kepala Mumbi seketika kembali pening mendengar syarat menjadi istri seorang Andre Himawan. "Tapi, Bar."
"Masalah goodlooking. Okelah. Meskipun badan lo kaya anak SMP. Gak masalah." Lagian cuma buat istri sementara ini. Begitu pikir Akbar. Dipikirnya, Mumbi emang imut dan cantik. Cuma badannya aja yang kelewat mungil. Menurutnya itu tak masalah.
"Nah, masalah pintar di kasur. Dahlah nanti itu naluriah," putus Akbar seenaknya. Sementara Mumbi juga tak bisa menilai dirinya akankah bisa pintar melayani suaminya di kasur. Secara diri masih perawan ting-ting yang masih terjaga kelestariannya.
"Yang masalah ini, nih. Yang aku tahu kamu itu kalau masak suka gosong-gosong. Bikin mie rebus aja mie-nya melar kaya bubur. Mending kamu kursus masak dulu aja, Bi. Tahu sendiri si Andre foodvloger. Jangan sampai makanan kamu berakhir di tong sam-pah," lanjut Akbar tega. Mumbi memberengut. Tapi memang kenyataan kalau hasil masakannya selalu berakhir dengan mengerikan, entah gosong, entah melar, entah keasinan dan entah rasanya nano-nano bikin perut mual.
"Sama ini, nih. Aku tahu banget kamu tuh orangnya juorok banget. Males beres-beres. Jangankan beresin rumah. Kamar kamu aja udah kaya kandang kebo. Mulai sekarang belajarlah beberes, Bi." Nasehat Akbar dengan wajah iyuh. Sekilas kalau orang tak kenal dekat Mumbi. Pasti tak akan mengira Mumbi yang cantiknya mirip artis korea itu adalah gadis yang selebor dan super berantakan. Karena ketika Mumbi keluar rumah. Penampilannya selalu cetar, rapi dan super kekinian.
Kali ini mata Mumbi menatap kamarnya, yang seperti kata Akbar. Super duper berantakan. Matanya langsung membeliak lebar ketika melihat keranjang kotornya dan menemukan celana dalamnya yang sobek itu terpampang nyata di hadapannya.
Astaga!
Bisa gila kalau Andre Himawan tahu kalau ia punya banyak dalaman yang sudah tak layak pakai. Bahkan legingnya saja yang bolong besar di tengah-tengah saja. Masih ia pakai. Ya , pikirnya, kan tidak akan kelihatan ini sama orang. Secara di dalam ini.
"Heh, Mumbi. Sudah paham semua, kan? Pokoknya kapan hari kita datang melamar. Kamu sudah harus siap! Paham?"