Ara terus menatap punggung Adrian yang semakin menjauhinya, hingga akhirnya punggung itu tidak lagi ditangkap oleh indra penglihatannya, saat Adrian masuk ke dalam mobil. Senyum manis ia pancarkan untuk mengantar kekasih hatinya itu berangkat bekerja. Andai saja ia tidak memiliki janji hari ini, tentunya ia sudah berada dalam mobil itu dan berangkat bekerja bersama dengan orang yang dicintainya. Ara bergeming, tatkala satu notifikasi pesan masuk pada ponsel yang di genggamnya, tampak nama Revano sebagai pengirim pesan. Laki-laki yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu, mengirim pesan singkat berupa lokasi dan waktu untuk bertemu. Tentu saja Ara merasa bersalah telah berbohong pada Adrian untuk bertemu dengan Revano, sang mantan. Tidak ada maksud Ara untuk menyembunyikan sesuatu dari kek

