Aku menangis sesenggukan di d**a bidang bocah yang kusebut gendeng bernama Kenzo. Ingin rasanya aku menyudahi tangisanku, namun, kenangan yang terus menerus hadir di benakku malam ini, menambah derasnya air mata yang terus mengalir deras dari bola mataku. Sakit bila aku mengingat pengkhianatan Kenichi bersama Amanda saat itu. Ingin sekali aku berteriak, akan tetapi aku takut. Takut di kira tidak waras oleh Kenzo.
" Sudah selesai belum nangisnya?" Bocah gendeng itu mencoba menghiburku. Meski aku sudah merasa terhibur oleh sikapnya yang mendadak dewasa parah.
Aku mengangguk, dan menghapus air mataku. Tetapi, masih sesenggukan.
" Laki macam itu tidak usah di tangisi, Mrs. Yang ada nanti dia jadi sombong karena Mrs Anastasya masih berharap padanya."
Terkadang ucapan bocah gendeng ini ada benarnya. Terkadang juga ucapannya seperti lelaki dewasa yang sudah mapan dan berkeluarga.
" Gara-gara kamu sih, saya jadi keingetan sama mantan." kataku menyalahkan Kenzo. Padahal akunya saja yang cengeng.
" Loh kok, Kenzo? Jelas-jelas Anda yang cengeng," sahutnya sambil menunjuk mukanya sendiri dengan jari telunjuknya.
Aku tertawa lebar saat melihatnya 'cengo' seperti tanpa dosa.
" Nah, gitu. Ceria lagi, jangan kebanyakan nangis, nanti gak cantik lagi," ujarnya menghibur.
" Terima kasih ya?" ucapku.
" Untuk apa?" Tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Nervous mungkin.
" Untuk d**a bidang kamu." sahutku, kutundukkan pandanganku padanya. Aku malu mengatakan itu pada bocah gendeng, Kenzo.
" Oooh," katanya sambil mesem-mesem gak jelas. Tapi, sumpah senyumnya itu manis banget.
" Em, Mrs, mampir dulu yuk ke rumah Kenzo," ajak Kenzo. Lalu turun untuk membuka kunci gerbang rumahnya.
Sesaat aku sadar, ternyata Kenzo membawaku ke rumah besarnya. Dimana ayah dan ibunya tinggal.
" Eeh, kenapa kamu bawa ibu ke sini? Sengaja kan?"
Aku kebingungan harus bagaimana. Baru kali ini aku menginap di rumah muridku sendiri. Mana laki-laki lagi.
" Sudah, yuk masuk saja. Kebetulan ayah sama ibu lagi di luar kota. Temani Kenzo di rumah ya?" ujarnya lalu mengajakku untuk ikut masuk ke rumah besar milik ayah Kenzo.
Ya ampuuun, benar-benar besar banget. Halamannya luas dan juga terlihat indah. Meskipun tengah malam, tapi aku masih bisa lihat keadaan di halaman rumah Kenzo tinggal.
" Eeh, sakit loh, Kenzo. Jangan kencang-kencang narik tangan ibu," ringisku kesakitan.
" Ya maafin Kenzo, Mrs." Di sambut dengan anggukan kepalaku.
.
.
Aku masuk ke dalam ruangan yang luasnya tak terkira. Dua kali lipat dari ruangan di rumah ibuku tinggal. Benar-benar beruntung isteri Kenzo nanti.
" Mrs, Anda tidur di sini ya? Kalau kamarku yang di ujung sana." Kenzo memberikan sebuah kunci padaku. Dan inilah kamar tidurku untuk malam ini, berhubung hujan tak kunjung reda.
" Kenzo," Aku memanggilnya.
" Iya, Mrs. Ada lagi?"
" Terima kasih," ujarku malu-malu. Kemudian aku masuk ke dalam kamar tamu yang di sediakan untukku.
" Semoga betah ya, Mrs." Sahut Kenzo lembut.
Aku mengangguk lalu tersenyum simpul.
***
Keesokan paginya.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Di mana aku dan seluruh makhluk di bumi ini cuti bersama. Iya lah kan libur nasional.
Seperti biasa aku yang selalu bangun pagi, segera melangkahkan kaki ke ruangan di mana terdapat segala macam makanan dan minuman tersedia. Dimana lagi kalau bukan di dapur.
Dengan keahlian yang kumiliki, aku mengolah makanan yang tersedia di dalam lemari pendingin, di olah sedemikian rupa menjadi makanan yang siap di makan olehku dan juga Kenzo.
" Aduh, Nona, kenapa nona memasak? Kalau 'Den Kenzo tahu, bibi bisa kena omel," Suara ciutan dari seorang wanita paruh baya mengagetkanku. Dia adalah Bi Sari. Pembantu yang sudah lama bekerja di rumah ini.
Aku tersenyum sambil melanjutkan apa yang kubuat tadi, " Tak apa, Bi. Biar aku yang masak buat Kenzo. Sekali-sekali kan gak apa," elakku membuat Bi Sari menyerah.
" Tapi, kalau bibi kena omel 'Den Kenzo, bantuin loh ya?" ancamnya dengan semangat.
" Siaaaap, laksanakan komandan," kataku dengan sigap seperti hormat. Bi Sari tertawa geli melihat tingkah laku yang kubuat demi membuat Bi Sari tertawa.
Hari ini aku sukses membuat Bi Sari berhenti mengomel. Dan aku bisa melanjutkan masak lagi.
Tiga puluh menit berlalu, Bi Sari memilih untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, biar lebih cepat selesai.
Ketika sedang asiknya aku memasak. Dari arah belakang, ada sepasang mata yang terus saja menatap pergerakanku. Sepasang mata yang kukenal dan sebetulnya aku rindukan.
" Asha," Suara bariton itu memanggilku dengan lembut. Aku tertegun mendengarnya. Sebutan nama itu, hanya Kenichi yang berhak memanggil aku dengan sebutan itu.
Pria itu langsung memeluk tubuh rampingku dari arah belakang. Lalu mencium tengkuk leherku yang tanpa sengaja aku ikat rambutku dengan ikat rambut. Dan terlihatlah leher jenjangku.
"Apa-apaan ini!" pekikku tak tererihkan.
Dan saat aku menoleh, ternyata pria itu benar bernama Kenichi. Mantan pacarku dan mantan suamiku. Aku benar-benar terkulai lemas. Menatap sosok yang kurindukan malam tadi.
Bersambung.
***