Tubuhku kaku seketika saat melihat sosok Kenichi berada di rumah milik orang tua Kenzo. Sedang apa dia di rumah Kenzo? Apakah dia kakak laki-laki Kenzo? Setahu aku, Kenzo tidak mempunyai kakak laki-laki. Kakaknya itu perempuan, dan usianya hampir sama denganku, hanya beda tipis lah, aku lebih tua setahun dari kakaknya Kenzo.
Tak terelakkan lagi, air mataku seakan ingin mengalir deras di pipiku. Sungguh antara rindu dan benci, itu bedanya sangat tipis sekali. Dan aku merasakan itu.
" Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Sha." Suara itu, suara yang amat sangat kurindukan terdengar kembali. Tapi, aku sadar dia bukan milikku lagi.
Dengan cekatan aku pergi membawa hasil masakanku untuk kuhidangkan di meja makan, dan aku pergi dari hadapan Kenichi. Aku berlari kecil menuju kamar tamu di mana semalam aku tidur.
' Sedang apa Anastasya di rumah Amanda? Apa Amanda sudah berbaikan dengan Anastasya?' Batin Kenichi sambil memandangi tubuhku yang sudah menghilang jauh darinya.
.
.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamar. Aku tertegun dan sedikit mendengarkan nada dari ketukannya. Aku sangat hafal sekali ketukan yang berasal dari tangan Kenichi. Tetapi, ketukan itu sangat berbeda sekali. Pasti ini bi Sari atau si bocah gendeng. Baiklah aku mengalah, aku buka pintu kamarku.
Ceklek!
Aku terkejut, sangat terkejut bukan main. Ternyata ketukan itu berasal dari tangan kekar milik Kenichi, mantan suamiku dulu. Dengan mata yang terkejut, dan tubuh berjalan mundur ke belakang, aku terus menatap Kenichi yang berada di hadapanku.
" Apa yang kau lakukan di rumah ini, Sha?" tanya Kenichi, ia melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamar tamu.
Pintu kamar tertutup perlahan, kini Kenichi berada di dalam kamar tamu.
" Mau apa kamu kemari," Aku balik bertanya padanya. Sungguh jika Kenichi yang mengetuk tadi, aku tidak akan membukakan pintu untuknya.
" Aku rindu padamu," ucapnya lirih.
Tak lama kemudian, Kenichi menarik lenganku, lalu tanpa di sadari ia meraih pinggang rampingku. Membelai pucuk rambutku yang ikal bergelombang. Menatap dalam wajahku. Sehingga kurasakan lagi deru nafasnya yang begitu harum dan juga lembut.
" Kamu begitu cantik, Sha." Dengan tangan yang tak juga lepas membelai rambutku, Kenichi terus berbicara tak jelas yang membuatku muak.
" Lepaskan aku, Ken! Kita berada di rumah orang. Dan aku tidak mau di sebut wanita lacur." elakku, sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Kenichi.
" Sssst! Jangan berisik! Aku ingin menikmati kehangatan tubuhmu, sudah lama sejak perpisahan tiga tahun lalu. Aku rindu padamu, Sha." Seperti orang tak waras, Kenichi terus mendekap tubuhku dengan erat. Kini aku hanya bisa pasrah, sambil berharap Kenzo datang dan masuk ke dalam kamar tamu dan menghajar tamunya yang tidak sopan ini.
" Aku sudah bukan isterimu lagi, Ken. Kau harus sadar itu!" Kataku, berusaha melepaskan pelukan Kenichi.
" Tapi, kamu mau kan jadi teman tapi mesra ( TTM )," bisiknya di telingaku.
Serrr.
Desiran halus berusaha kuredam. Jujur saja, aku juga masih merindukan sentuhan lembut dan suara bisikan dari Kenichi, akan tetapi, aku sadar bahwa dia dan diriku sudah bukan sepasang suami isteri.
Kenichi hampir saja melumat bibir tipisku, tetapi, aku dengan cekatan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Dan aku mempunyai kesempatan untuk bisa kabur dari cengkeraman tangannya.
Bug!
Tubuhku bertabrakan dengan Kenzo. Dan kami jatuh bersamaan.
" Aduh, sakit," rintih kami bersamaan. Memegang kepala masing-masing karena tidak sengaja terbentur.
" Mrs, kenapa sih? Aku lihat seperti sedang ketakutan? Mrs lihat apa?" tanya Kenzo bertubi-tubi.
Kenzo membantuku berdiri. Ia ulurkan tangannya yang kekar menarik tubuh rampingku.
Saat kutatap tubuhnya, aku tertegun. Tubuhnya begitu kekar dan saat ia mengenakan pakaian biasa, tampak seperti lelaki dewasa pada umumnya. Begitu sempurna sekali.
Tubuhnya yang kekar, dengan warna kulit kuning langsat, di padukan dengan baju kaos yang sedikit ketat dan celana jeans selutut, membuat penampilannya perfect.
" Mrs, Anda kenapa?" Kenzo menepuk pundakku. Aku tersadar. Lalu tersenyum kecil. Antara malu dan aku tak tahu harus berkata apa.
" Eh, kita makan yuk? Ibu sudah membuatkan makanan untukmu." Aku menarik tangan Kenzo. Tapi, Kenzo malah tak mau mengikuti langkahku.
" Kenapa?" Giliran aku yang bertanya padanya.
" Tidak apa-apa, Mrs. Kenzo hanya bahagia karena Mrs Anastasya memegang tangan Kenzo," ujarnya dengan wajah merah merona. Malu.
" Dih, Ge er banget sih kamu. Ini loh ibu mengajak kamu makan. Nanti keburu dingin masakan buatan ibu," celotehku pada Kenzo.
Kenzo tertawa geli, lalu ia segera melangkahkan kakinya menuju meja makan, tak lupa tanganku masih di genggamnya.
Aaaa! Kenzo, kamu manis sekali.
***