Tubuhku kaku, sumpah kaku saat aku dan Kenzo mendekati meja makan. Disana sudah ada Kenichi dan siapa perempuan yang berada di meja makan itu? Jangan-jangan dia adalah ....
" Ken, sini deh. Hari ini sarapan paginya enak banget. Bi Sari pasti yang memasaknya pagi ini." Suara perempuan yang sangat kukenal, terngiang di telingaku. Sungguh hari ini adalah hari tersial dalam hidupku. Bertemu dengan Kenichi dan juga perebut cintaku, Amanda Mulya.
Kedua langkah kaki Kenzo melangkah mendekati meja makan. Dengan menggenggam tangan kananku. Berdiri tepat di hadapan Amanda.
Habislah aku di cuit oleh mereka, Amanda dan juga Kenichi.
" Ya dong, kan yang buatnya juga chef yang handal, betul kan Mrs Anastasya?" ujar Kenzo, tersenyum manja padaku. Aku membalas senyumannya sambil membetulkan letak kacamataku.
Tatapan itu, iya tatapan itu membuat nyaliku menciut. Aku merasa seperti seorang tersangka yang akan di adili oleh hakim di pengadilan.
" Sedang apa dia disini, Ken?" Amanda bertanya menyelidik padaku dan juga Kenzo.
" Dia ini guru di sekolahku, Kak. Cantik bukan?" jawab Kenzo bangga.
Amanda terus menatapku, hingga aku enggan menatap balik matanya.
" Ada apa, Kak? Kalian sepertinya saling kenal?" kali ini Kenzo yang bertanya pada Amanda.
" Hati-hati Ken, dia wanita pelakor!" tuduh Amanda.
What? Aku pelakor? Tidak salahkah? Bukankah dia yang pelakor? batinku marah.
Kutahan amarahku hingga bisa kuredam tak ingin mengotori tanganku untuk memukul wajah cantiknya.
Aku hanya tersenyum. Hanya itu yang bisa kulakukan.
" Maksud Kak Manda, apa? Mrs Anastasya guru yang baik loh. Dia wanita yang tahu etika," Kenzo membelaku.
Amanda tersenyum sinis, " Ah iya, Kakak lupa menceritakan tentang Anastasya padamu, Ken. Benarkan Kenichi?" Amanda melirik tajam kearah suaminya, Kenichi.
" Ada apa ini? Seperti ada rahasia antara kalian bertiga?" Kenzo tampak tidak mengerti apapun. Ia meminta penjelasan pada Amanda, Kakak iparnya dan juga padaku.
Aku melepaskan genggaman tangannya, " Kenzo, lebih baik saya pulang dari sini. Suasana rumah ini sudah tidak membuat saya nyaman," Kataku, lalu pergi dari hadapannya.
" Tapi, Mrs, tunggu!" Kenzo mengejarku hingga menarik tanganku. Aku terhenti.
" Ijinkan saya pulang. Dan terima kasih banyak karena kamu sudah mau menampung pelakor macam saya," kataku lirih.
" Tapi, Mrs, masa Anda pulang dengan pakaian seperti ini? Apa tidak malu?" cegah Kenzo.
Aku langsung menepuk keningku. Kulihat tubuhku yang hanya mengenakan kemeja kebesaran milik Kenzo berada di tubuh rampingku. Tanpa celana panjang, dan memperlihatkan kaki jenjangku.
" Bentar Mrs, aku ambilkan jaketku, dan juga kunci motorku. Aku yang membawa Mrs Anastasya ke rumahku, berarti aku yang harus bertanggung jawab mengantarkan Mrs Anastasya pulang dengan selamat. Tunggu ya, Mrs."
Dengan cekatan, Kenzo berlari kecil memasuki kamarnya. Ia langsung mengambil jaket dan kunci motor miliknya. Setelah itu, ia menghampiriku yang berada di luar rumahnya.
" Ini Mrs, pakai jaketku. Lumayan bisa menutupi pahamu yang mulus putih bersih itu, dari mata jahat lelaki hidung belang," Kenzo memerintahku. Ia memakaikan jaketnya padaku.
Aaah, Kenzo kenapa kamu begitu pengertian padaku? Aku bisa-bisa luluh padamu,
" Kalau di pakai, nanti yang menutupi pahaku, saya pakai apa?" Kataku cengengesan.
Giliran Kenzo yang menepuk keningnya, " He he he, bener juga ya. Kok Kenzo mendadak amnesia ya, Mrs?"
Aku tertawa geli, begitu pun dengan Kenzo.
***