Aku pulang.

895 Kata
Kenzo memberhentikan motornya ketika sampai di depan rumah ibuku. Suara motornya yang nyaring itu, membuat kak Afifah dan ibu penasaran lalu keluar dari dalam rumah. Mereka berdua tersenyum geli saat melihat diriku pulang di antar oleh muridku sendiri. Penyebab aku di keluarkan dari sekolah. " Terima kasih ya, Kenzo. Karena kamu sudah mencari ibu guru Anastasya di luar." Kak Afifah berbicara pada Kenzo. Kenzo yang seperti pahlawan kesiangan, dia mencoba bersikap cool tapi malah nunjukin sikap malu-malu di depan bu guru Afifah, kakakku. " Iya bu, Kenzo kan orangnya amanah. Kalau ibu butuh bantuan Kenzo lagi, hubungi Kenzo saja ya, Bu? Kenzo siap dua puluh empat jam loh, asal Kenzo di minta tolongnya mengenai Mrs Anastasya, hehehe," ujar Kenzo, tersenyum malu sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. " Nah loh, kok adik ibu di panggil Mrs, tapi kalau sama ibu cuma panggil ibu guru? Kenzo pilih kasih nih," cibir kak Afifah. Aku tahu Kakakku yang satu ini doyan bercanda, tapi gak lucu juga kali. " Soalnya kan bu Afifah usianya sudah berumur lebih tua dari Kenzo, tapi kalau Mrs Anastasya usianya sepertinya sama deh sama Kenzo," jawab Kenzo, beragumentasi. " Dih, kamu gak tahu ya? Anastasya itu usianya sudah empat puluh tahun kali, kamu ketipu sama raut wajahnya yang memang awet muda, hahaha." Kak Afifah sengaja menggodaku, terlihat sekali kedua bola matanya mengerling ke arahku. Terserah Anda Afifah. " Bener itu, Mrs?" tanya Kenzo, dengan tatapan tidak percaya. " Terserah kamu deh, lagian itu enggak ada pengaruhnya buat saya pribadi," jawabku dengan nada jutek. " Jiah! Adik mba udah mulai panas nih." celetuk kak Afifah. " Sudah, sudah, jangan bercanda lagi. Lagian kamu, Afifah, gak capek ya bercanda terus? Nanti yang ada Anastasya merajuk lagi, susah lagi di bujuk," timpal ibuku yang sedari tadi diam, sekarang menambah gemes dengan perkataannya. " Dih, ibu nih. Malah nambah bully Anastasya." kataku sambil cemberut. Baik kak Afifah, ibu dan juga murid tengilku, Kenzo, mereka bertiga tertawa kompak. Puas sekali rasanya tertawa di atas penderitaan orang. " Sudah puas ketawanya? Kenzo, kamu kapan pulang?" kataku lalu melirik ke arah Kenzo. " Iya Mrs, Kenzo pamit dulu ya? Oh iya, besok Mrs masih mengajar ya di sekolah?" " Hem, saya fikir-fikir dulu ya? Saya enggak mau ambil resiko lagi," ujarku ketus, lalu masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Melihat tingkahku yang seperti itu, Ibu dan kak Afifah hanya geleng-geleng kepala. Mereka sudah tahu adatku seperti apa. " Nak Kenzo, maafkan anak ibu ya? Nanti ibu akan bujuk bu Anastasya untuk mengajar lagi di sekolah. Tapi, nak Kenzo harus ingat, jangan bikin bu Anastasya merajuk lagi," ujar ibuku, sembari meminta maaf pada Kenzo. " Seharusnya Kenzo yang minta maaf karena Kenzo lah Mrs Anastasya keluar dari sekolah dan tidak mengajar lagi. Kenzo juga kadang keras kepala, Bu." Kenzo memberi penjelasan pada Ibuku. Memang terkadang Kenzo ini keras kepala jika berkaitan tentang ayahnya ataupun ibunya. Karena menurutnya, patuh pada perintah orang tua itu lebih penting. " Ya sudah, Bu, Kenzo pamit dulu ya?" ujar Kenzo sambil mencium telapak tangan ibuku dan kak Afifah. " Hati-hati Ken, jangan ngebut," timpal kak Afifah, " Lain kali mampir ke mari ya?" " Siap, bu Afifah. Kenzo akan sering-sering mampir ke sini, lagi pula Kenzo kan sudah dapat restu dari calon mama mertua," ujar Kenzo dengan sedikit nada candaan. " Kenzooo, kamu mulai nakal deh. Nanti Mrs Anastasya dengar, habislah kamu di smackdown." Kenzo akhirnya pulang, setelah berpamitan pada ibuku dan juga Kak Afifah. " Ternyata muridmu itu anak yang baik ya, Fah?" " Bener kan bu, yang Afifah katakan kemarin?" " Iya, iya, kamu benar," ujar ibuku, lalu tersenyum. *** Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang tidur. Memikirkan kejadian tadi pagi saat aku berada di rumah Kenzo. Aku tidak tahu jika Amanda adalah kakak perempuan dari muridku yang bernama Kenzo. " Hati-hati Kenzo, dia itu pelakor." Kata-kata itu terngiang lagi di fikiranku. Aku pelakor? Bukannya dia yang pelakor? Tiba-tiba saja datang di dalam hubungan yang kubina bersama Kenichi. Saat itu aku dan Kenichi baru saja memulai biduk rumah tangga. " Aaaaaaaaaaargh...," Aku berteriak kencang, lalu kulempar bantal besar ke arah yang tak tahu tujuannya. " Aduh, Ana. Kamu kenapa?" Aku tak menduga, kak Afifah bakalan datang ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. " Salahmu sendiri, kenapa tidak ketuk pintu dulu? Malah maen masuk aja, gak sopan!" Aku menggerutu kesal. " Kamu masih marah ya sama Kak Afifah?" tanya Kak Afifah, sembari duduk di sebelahku. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Kupalingkan wajahku dari Kak Afifah, tak ingin jika ia melihatku bersedih. " Besok kamu akan mengajar lagi di sekolah itu kan?" tanya Kak Afifah. " Lihat besok saja Kak, aku sedang tidak mood untuk mengajar. Lagi pula, aku kan sudah di keluarkan dari sekolah, jadi buat apa aku mengajar lagi, betul kan?" ujarku, lalu tertawa kecil. " Kamu ini, keras kepala banget ya? Bukankah itu impian kamu mengajar di kelas yang muridnya susah di atur, hem?" Mendadak aku tertawa mendengar kak Afifah mengingatkanku pada keinginanku dulu saat kak Afifah masih mengajar di sekolah itu. Dulu memang aku bercita-cita mengajar di sekolah kak Afifah, akan tetapi kenapa terasa berat sekali. Kukira akan semudah itu mengajarkan tata krama pada murid bandel di kelas dua bahasa. Huft! Beraaaaat sekali, aku saja tidak kuat, apalagi kamu. " Kita lihat saja besok. Jika aku bangun pagi, itu tandanya aku siap mengajar, jika aku bangun kesiangan, ya sudah jangan paksa aku mengajar ya?" Kak Afifah terlihat geram mendengar perkataanku. Ia langsung menoyor kepalaku, lalu mencubit kecil pipiku. " Gemeeees banget sama kamu," Katanya, sambil berlalu pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN