Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Dering ponsel bergetar terdengar dari nakas di kamarku, tepat saat itu jam menunjukkan pukul Dua belas dini hari. Aku yang tengah mengantuk, berusaha menggapai ponselku. Hingga tidak kusadari, aku terjatuh dari tempat tidurku.
Bug!
" Aduh!" pekikku menahan sakit di sekitar bokongku dan juga kepalaku.
Dalam keadaan sakit, tangan kananku berusaha meraih benda pipih itu, lalu menerima panggilan darurat dari si penelepon gaib. Kenapa kusebut penelepon gaib? Ya karena dia menghubungi diriku saat tengah malam. Dan yang masih berkeliaran saat tengah malam itu adalah makhluk gaib, hiiiiii.
" Halo, selamat malam. Maaf ini dengan siapa? Ada apa nelepon malam-malam buta begini?" Aku menyapa seseorang yang berada di seberang telepon.
" Assalamu'alaikum, Mrs Anastasya. Sudah tidur ya?" sahut si penelepon dari tempat asalnya berbicara.
Sesaat aku diam, sepertinya aku mengenal suara berat dari si penelepon gaib ini. Jangan-jangan dia adalah ....
" Wa'alaikumsalam, pak Alfan," seruku sambil berusaha memperbaiki rambutku, kacamataku yang tergeletak di nakas, padahal pak Alfan juga kan tidak bisa melihat diriku yang memang berantakan. Dan yang terakhir suara serakku, biasalah kalau bangun tidur, suara terdengar seksi. Hihihi.
" Iya, Mrs. Saya pak Alfan. Kepala sekolah menengah atas di mana Mrs Anastasya mengajar," ujar Pak Alfan berbisik.
" I-iya pak, ada apa ya bapak menelepon malam-malam?" tanyaku terdengar bingung.
" Besok Anda mengajar lagi di sekolah ya, Bu?" Pak Alfan memintaku untuk mengajar kembali di sekolah.
" Bukankah saya sudah di pecat ya pak, oleh orang tuanya Kenzo?"
" Anda tidak usah memikirkan hal itu, Mrs Anastasya. Yang penting Anda mengajar dulu besok."
" Tapi kan Pak, jika pak Adi datang ke sekolah dan dia marah pada saya, bagaimana?"
" Hem," Pak Alfan berdehem, beliau nampak berfikir sesaat, namun kemudian, ia berkata lagi, " Itu akan menjadi urusan bapak dengan pak Adi. Karena tidak ada yang mau mengajar di kelas itu, jika bukan bu Afifah dan Anda sendiri."
Aku menghela nafasku, sungguh ini sesuatu yang paling berat untukku. Aku sebenarnya menolak namun, dalam hatiku saat ini, entah mengapa selalu berbunga-bunga jika aku mengajar di kelas itu. Ada perasaan sayang kepada para muridku di kelas dua bahasa. Apalagi jika berhadapan dengan muridku Kenzo. Eeeh Anastasya.
" Baiklah pak, saya menyanggupinya. Besok saya bersedia mengajar lagi di kelas dua bahasa, tapi dengan satu catatan, jika pak Adi menggugat saya, bapak bersedia melindungi saya dari pak Adi. Bapak bersedia?" Kataku, sambil mengajukan sesuatu pada pak Alfan.
" Iya, Mrs saya janji jika pak Adi marah, saya yang akan menghadap duluan padanya," sahut pak Alfan.
" Baiklah pak, besok saya datang lagi ke sekolah. Terima kasih pak sudah sudi menelepon saya malam-malam begini."
" Maafkan saya Mrs, karena mengganggu waktu istirahat Anda. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada Anda. Besok saya tunggu kehadiran Anda ya Mrs."
" Siap, tunggu saya besok ya pak? Terima kasih," Aku berseru dengan semangat.
Tak lama kemudian, telepon pun terputus lalu aku dengan cekatan melanjutkan tidur panjangku lagi. Menyambung mimpi indahku yang sempat terjeda oleh pak Alfan.
***
Keesokan harinya.
Matahari pagi hari ini nampak begitu cerah. Burung-burung pun mulai berkicau bersahut-sahutan satu sama lain. Di tambah tetesan embun pagi yang menyegarkan udara pagi.
Namun, berbeda dengan diriku. Tiba-tiba saja aku bersin-bersin.
Tak henti-hentinya aku bersin. Hingga terdengar suaraku seperti mendem, istilah kerennya bindeng.
Segera kulangkahkan kedua kakiku keluar dari kamar. Dengan cepat dan cekatan aku mengambil air hangat dan segera meminumnya. Mungkin ini akibat kemarin malam, aku terkena air hujan.
" Kamu kenapa, Ana?" Ibuku bertanya, sekaligus menganggetkan aku yang sedang meniup air hangat di meja makan.
" Aah, ibu. Aku jadi kaget nih," Aku menggerutu.
" Kamu flu ya?" Ia bertanya lagi.
" Iya," jawabku simple.
" Terus, kamu mau ke mana?"
" Mau mengajar lah, Bu. Masa mau ke mall," Sungutku pada Ibu.
" Kamu mengajarkan pada muridmu sopan santun pada orang yang lebih tua, tapi,"
" Tapi, aku enggak sopan gitu sama ibu?"
" Iya,"
Aku terkekeh melihat ekspresi ibu yang seperti anak kecil usia tujuh tahun jika sedang marah.
" Aaah, ibu, begitu saja marah,"Sahutku lalu memeluk ibu.
" Sudah sana mandi! Nanti ibu buatkan seduhan air jahe merah ya, biar flunya berkurang. Dan tubuhmu fit lagi," titahnya padaku. Lalu menarik tanganku menuju kamar mandi.
" Ibu, aku mau di mandiin sama ibuuuu," teriakku dari dalam kamar mandi.
" Hust! Kamu ini. Kelakuanmu seperti anak paud saja, Ana." pekik ibuku dengan nada cemprengnya. Sehingga terdengar nyaring sampai di kamar kakakku, Kak Afifah.
***