Aku menatap gedung sekolah, sebelum aku langkahkan kakiku untuk masuk ke dalamnya melewati gerbang sekolah yang berdiri kokoh di hadapanku. Menghirup udara pagi yang cerah, sambil menikmati hangatnya pancaran sinar matahari yang kian meninggi.
Ada perasaan ingin kembali pulang lalu tidur di rumah dengan berselimutkan selimut bulu yang tebal. Sambil mendengarkan lagu-lagu klasik yang tentunya berirama romantis sebagai pengantar tidur.
Namun, dari dalam lubuk hati, ada sebuah panggilan khusus untukku agar aku terus melangkah memasuki sekolah itu. Agar aku mengajar dan mendidik siswa siswi di kelas dua bahasa.
Hingga akhirnya, aku luluh juga dengan hatiku. Yang memaksa aku untuk terus masuk ke dalam sekolah. Dan ini keputusanku yang memang sudah kutekadkan dalam hatiku, " Aku pasti bisa!" seruku menggebu-gebu.
.
.
" Asiiik, Mrs Anastasya kembali mengajar!" seru siswa siswi di kelas dua bahasa, sebagai penyambutan diriku datang ke sekolah ini. Mengajar di kelas mereka lagi.
" Dan ini harus di rayakan bukan, kawan-kawan?" sahut siswi yang lain. Yang bernama Kristi.
" Kalau begitu, saat istirahat tiba, gimana kalau kita makan-makan di kantin sekolah. Di kedai bakso mang Agus," celetuk siswa tertampan di kelas dua bahasa. Tapi, bukan Kenzo. Dia adalah Romi.
" Yang bayar siapa?" seruku tiba-tiba saat muridku itu memberi ide cemerlang, yang langsung diiyakan oleh murid yang lain.
" Ya Mrs Anastasya laaah," seru mereka serempak.
Aku terkejut bukan main. Ternyata pak Alfan meneleponku semalam hanya untuk ini? Duuuuh, b*****h sekali pak Alfan ini. Hahaha.
" Dih, kok jadi saya yang traktir kalian? Bukannya kalian yang pengen traktir saya, hem?" tanyaku, sambil berjalan pelan ke meja di mana aku mengajar. Menyimpan beberapa buku dan tas yang kubawa ke atas meja.
" Ya sudah kalau begitu, biar Kenzo yang bayar deh, Mrs." Suara itu, suara yang amat sangat kukenal. Suara yang ingin pertama kali kudengar di telingaku. Upst, Anastasya jangan begitu!
Aku menoleh ke arah suaranya, tepat di ujung bangku belajarnya. Dia sedang duduk bersandar di bangkunya sendiri. Dengan wajah yang berseri-seri, tersenyum ke arahku.
Ya ampuuuun, senyumnya itu loh manis sekali. Seperti gula.
Aku menepuk keningku. Serta menggelengkan kepalaku beberapa kali, hingga desiran itu lenyap dari otakku, fikiranku dan juga hatiku.
" Terserah," aku menjawab simple keinginan Kenzo. Mengalihkan perasaan yang saat ini sedang ingin mengetuk pintu hatiku, memaksa masuk cinta asing dari pria asing.
Kenzo hanya tersenyum. Hari ini, ia nampak berbeda. Sangat rapih dan juga tampan. Ketika aku melirik ke arahnya, aku sampai harus menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, sesuai desiran di hatiku saat ini.
Jangan sampai! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Ini hanya cinta sesaat, Anastasya!
" Baiklah, kalau begitu ... Coba buka buku bahasa Inggris, halaman dua puluh ya? Kita akan membahas tentang present tense, okay?"
Mendengar perintahku, seluruh murid kelas dua bahasa mulai membuka buku bahasa inggris milik mereka. Lalu memperhatikan apa yang kujelaskan pada mereka kali ini.
***
" Nah dari penjelasan yang ibu jelaskan tadi, adakah yang kurang paham? Ada yang ingin kalian tanyakan?" Kataku lugas, menyudahi penjelasan mengenai materi tentang present tense.
" Aku Mrs." sahut Kenzo, dengan suara lantang dan tangan yang terangkat ke atas.
Lagi-lagi, ni anak pasti nyari ribut. Pasti pertanyaannya itu gak berbobot sama sekali.
" Iya, apa yang mau kamu tanyakan, Kenzo?" tanyaku dengan ramah, kulemparkan senyuman manisku pada Kenzo.
Di balas olehnya dengan senyuman manisnya pula. Duuh tambah gereget banget aku sama tuh anak.
" Gini, Mrs. Dari dulu ya, aku tuh enggak nemu arti dari i love you itu apa ya?" tanyanya, dengan nada selengean.
Tuuuh, bener juga kan? Pasti gak berbobot!
Aku menggelengkan kepala. Masih dengan sikap ramahku, kutatap wajah Kenzo yang tengah bahagia dan bangga saat teman-temannya menyuraki dirinya karena begitu lantang berkata i love you padaku.
" Gila kamu, Ken. Nanti si Kristi marah loh," timpal Romi. Sambil melirik Kristi yang tengah cemberut, dengan bibir yang di monyongkan ke depan, lima senti mungkin.
Aku menoleh ke arah Kristi. Mungkinkah Kenzo dan Kristi punya hubungan spesial? Duh kenapa hatiku jadi kacau begini.
" Apaan sih? Inikan aku nanya sama, Mrs Anastasya loh, Rom. Aku tidak tahu artinya i love you itu apa," sahut Kenzo. Nadanya masih sama, begitu percaya diri banget dia. Berharap diriku menjawab pertanyaannya.
Aku bukan guru yang polos ya, Kenzo. Aku tahu kamu lagi mengetes diriku agar aku mau menjawab dan menerima cinta monyetmu. No no no!
" Kamu enggak lihat tuh, si Kristi kesal sama kamu," cibir Romi. Mengompori Kristi. Tambah kesellah si Kristi menanggapi ucapan Romi.
Dan siswa siswi yang lain, mereka saling bersahutan riang ketika Kenzo dan Romi saling berseru.
" Huuuuuuuuuu," seru para murid di kelas dua bahasa dengan riuhnya.
Untuk meredamnya, aku terpaksa menggebrak meja. Dan semua pun diam.
Hening.
Damai.
Tentram.
Itu yang aku inginkan. Meskipun terlihat tegang, karena mereka baru kali ini melihat diriku marah sambil menggebrak meja.
" Sudah bercandanya? Mau ibu hukum kalian berjemur di lapangan basket?" Kataku, mulai tegas.
" Aaah, Mrs Anastasya gak bakalan tega menghukum murid kesayangan," celetuk Kenzo. Dengan percaya dirinya.
" Yakin kamu, hem?" tanyaku tegas.
Kenzo mengangguk.
" Baiklah, berdiri kalian semua dan ikut ibu ke lapangan basket sekarang!"
" Mampus, Mrs Anastasya marah," seru yang lain, mulai panik. Namun, tetap mengikutiku dari belakang.
***
Tiga puluh Delapan murid kelas dua bahasa akhirnya mendapat hukuman dariku. Yaitu berdiri di lapangan basket di tambah dengan teriknya matahari siang ini.
Di kejauhan, aku hanya bisa tersenyum senang karena bisa memberi efek jera pada mereka semua. Tanpa harus beradu otot dengan mereka, terutama Kenzo.
Dan, pak Alfan yang nampak kebingungan, langsung menghampiriku, bertanya sedang ada acara apa?
" Mrs Anastasya, kenapa dengan murid-murid Anda? Kenapa semua di hukum menghormati tiang bendera?" tanya pak Alfan, penasaran.
" Memberi efek jera pak," jawabku menjelaskan.
" Memang anak-anak melakukan hal konyol apalagi, Mrs?" Pak Alfan masih belum mengerti kenapa aku menghukum mereka.
" Biasa pak, Kenzo berbuat ulah. Sehingga membuat ricuh seisi kelas. Daripada kelas rame tidak jelas, ya sudah saya hukum semuanya, jadi adil bukan, Pak?" Kataku dengan rasa percaya diri tingkat tinggi. Antara kesal dan juga, ah tidak usah di bahas.
Pak Alfan mengangguk pelan, " Baiklah jika menurut Mrs Anastasya baik, maka yang saya lakukan ya, hanya melihat saja tanpa berkomentar apapun untuk mereka,"
" Terima kasih, Pak. Semoga ini memberi efek jera pada mereka ya, Pak?"
" Mudah-mudahan saja ya, Bu."
Aku dan pak Alfan tersenyum penuh kemenangan siang ini, di lapangan basket.
Memangnya enak? Makanya Kenzo, jangan main-main sama Mrs Anastasya.
***