Bel sekolah berbunyi empat kali. Tanda pelajaran telah selesai, dan seluruh siswa di sekolah menengah atas bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka membereskan semua buku pelajaran dan alat tulis untuk di masukkan ke dalam tas masing-masing.
Pun dengan diriku, yang tengah membereskan buku materi pembelajaran.
" Anak-anak, kali ini sampai di sini dulu ya pertemuan kita. Besok jangan lupa tugas yang ibu berikan, kalian kerjakan. Nanti ibu nilai tugasnya," Kataku mengakhiri pelajaran.
" Siap, Mrs." tiga puluh delapan murid menyahut perkataanku tanpa ada komentar lain. Dan ini yang aku suka, teratur.
Setelah mengucapkan doa, aku pun segera pergi dari kelas dua bahasa. Kedua kakiku melangkah dengan gontai. Sambil tersenyum membayangkan kejadian tadi saat menghukum semua murid di lapangan basket.
Tak terasa aku telah sampai di ruangan khusus guru. Dimana semua guru dengan mata pelajaran masing-masing berkumpul di ruangan ini. Mereka tengah sibuk membereskan barang bawaannya masing-masing.
" Hei Bu Anastasya, sudah selesaikah?" tanya Bu guru Dina. Bertanya tapi, kedua matanya menatap ke cermin. Rupanya ia sedang berdandan, dengan memakai lipstik pula. Ampun deh.
" Iya, Bu." jawabku singkat. Kulangkahkan kakiku menuju mejaku. Membereskan barang-barangku yang tergeletak di meja.
Ketika aku sedang membereskan buku-buku pelajaran, secara tidak sengaja, aku menemukan secarik kertas bertuliskan sebuah pesan cinta. What, pesan cinta? Dari siapa ini?
Dear Mrs Anastasya yang cantik.
Kutunggu di kafe rok star jam tiga sore.
Dari pengagum rahasiamu.
Mr. X.
" Eh buset, siapa yang kirim pesan ini? Kenapa pengirimnya di rahasiakan?" batinku. Seketika kepalaku berdenyut. Pusing tak terperi. Pasti ini ulah Kenzo. Si bocah gendeng yang tidak pernah pantang menyerah untuk menyatakan cintanya padaku.
Huft!
Sesak benar dadaku ini. Aku tidak bisa menahan gejolak emosiku untuk bocah gendeng bernama Kenzo. Lain kali akan kuberikan hukuman yang pantas untuknya.
" Cie, surat dari siapa itu, Bu?" celetuk bu Mia dengan lantang. Membuat semua guru yang ada di ruangan itu menatap diriku. Tiga menit kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak.
" Waah, baru beberapa hari mengajar disini, sudah mendapatkan pengagum rahasia. Kalah deh kita-kita mah, dengan bu Anastasya," celoteh bu Lina. Ini guru paling rempong di sekolah. Biang gosip nomor satu. Dan aku harus berhati-hati dengannya. Jangan sampai ada keburukanku terkuak dan sampai pada bu Lina.
" Maklum lah, Bu. Ibu Anastasya kan masih muda. Dan masih cantik juga seksi, ya jelaslah dia banyak penggemarnya. Nah kita, apalah bu, kita mah hanya remahan rangginang," timpal Bu Dedeh. Di iringi gelak tawa semua guru di ruangan.
" Ish, kenapa pada rempong sih, Ibu-ibu? Mau ada pengagum atau tidak, kita tidak baik mengolok-olok bu Anastasya. Tidak baik dan tidak berfaedah juga, nambah dosa," ujar Bu Anisa. Guru mata pelajaran agama islam. Nah kalau yang ini, aku sih iyes. Ha ha ha kayak mas Anang di Indonesia idol.
" Tak apalah, Bu Anastasya juga tidak keberatan di gosipin loh, Bu Anisa. Ya kan, Bu?" sahut bu Lina, si biang gosip.
Aku menghela nafasku. Tak guna juga aku berada lama-lama di ruangan ini. Lebih baik aku cepat-cepat membereskan semua buku-buku pelajaranku. Tanpa kusadari ada sepasang mata yang menatapku tanpa sepengetahuanku.
***
Aku berjalan cepat saat kakiku melangkah keluar gerbang sekolah. Mempercepat langkah karena sengaja, tak ingin berpapasan dengan Kenzo. Aku tidak mau jika Kristi salah tanggap denganku.
Baru saja aku melangkahkan kakiku beberapa langkah. Aku di cegat oleh sosok laki-laki yang telah lama menjadi mantanku. Kenichi, sedang apa dia di sekolah?
" Hai, sayang? Sudah pulang ya? Mari aku antar," Sapa Kenichi dengan senyuman manisnya. Tak lupa juga ia meraih lenganku agar aku mengikuti langkahnya.
" Kamu sedang apa di sini?" tanyaku tajam. Sembari melepaskan tangan Kenichi.
" Aku ke sini karena aku rindu sama Kamu, Sha," jawabnya tengil.
" Rindu kamu bilang? Helow, Kenichi. Kamu amnesia ya?"
" Amnesia kenapa? Apa salah jika aku masih merindukanmu, Sha?"
" Salah, kamu salah karena sudah merindukan perempuan lain. Ingat Ken, kita ini sudah lama bercerai. Tak usahlah kamu mengejar diriku lagi. Aku sudah tidak ada perasaan lagi sama kamu!" Kataku ketus. Aku memutuskan untuk pergi dari hadapannya. Akan tetapi, Kenichi malah menarik tanganku. Hingga aku tidak bisa melanjutkan langkah kakiku.
" Lepasin Ken! Tak baik jika di lihat murid dan guru-guru di sekolah ini." Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.
" Biar saja. Biar semua orang tahu kamu sudah bersuami!"
" Gila kamu, Ken! Kita sudah lama bercerai. Kamu sendiri yang memutuskan pergi bersama Amanda. Sekarang, dengan mudahnya kamu datang padaku, setelah apa yang kau buat pada ayahku!"
" Kenapa dengan Ayah? Dia baik-baik saja kan?"
" Ayahku meninggal karena serangan jantung, saat dia tahu kamu mentalak tiga diriku."
Sesaat Kenichi terdiam. Ia terkejut dengan ucapanku. Seharusnya aku tidak usah mengatakan hal ini padanya.
" Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku, Sha?"
" Aku tak perlu membagi cerita pada mantanku. Tolong Ken, tak usahlah kamu mengejar diriku lagi. Aku tak mau ada salah paham sama Amanda. Aku sudah ikhlas melepasmu untuk Amanda," Isakku. Kenichi berusaha untuk memelukku, namun aku berkali-kali menolaknya.
Di kejauhan, rupanya Kenzo memperhatikan gerak gerikku bersama Kenichi. Berkali-kali ia mengepalkan telapak tangannya dan menghantamkannya ke motor besar miliknya.
" Ada hubungan apa Kakak ipar Kenichi dengan Mrs Anastasya? Kenapa mereka seperti saling mengenal dan seperti pernah menjalin hubungan?" Hati Kenzo bertanya-tanya. Ia geram melihatku bersama Kenichi.
***