Teror untukku.

1187 Kata
Seperti biasanya, aku berangkat ke sekolah untuk mengajar. Kali ini, murid-murid di kelas dua bahasa sudah mulai patuh pada semua perintahku. Terkecuali Kenzo. Dia sepertinya selalu menghindariku. Baik ketika di kelas ataupun berpapasan dengannya. Dia selalu melengos pergi, atau membuang muka saat bertemu denganku. Begitulah Kenzo, murid teraneh dan aku pun sulit untuk memahami karakter kepribadiannya. Namun, beberapa hari ini aku merasakan ada sesuatu yang membuatku seperti sedang di awasi. Gerak gerik yang kulakukan setiap hari di sekolah, di awasi tanpa sepengetahuanku. Membuatku gusar dan gelisah. Beberapa pesan yang di tuliskan dalam selembar kertas pun begitu menggangguku. Pengagum rahasia, Mr. X itu aku juga di buatnya bingung. Entah permainan apalagi yang di lakukan oleh Kenzo. Ya, hanya Kenzo yang selalu membuat masalah padaku. Demi membuat diriku menerima cintanya. . . " Surat lagi," gumamku saat aku menemukan secarik pesan di atas mejaku. Setelah aku acuhkan pesannya kemarin, sekarang pesan kedua datang lagi. Dan dari pengirim yang sama, Mr. X. Kubuka pesan itu, lalu k****a. Pesan yang sama seperti pesan sebelumnya. Tapi, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pesan ini di tulis dengan tinta merah dan yang membuatku siap siaga adalah isi dari tulisan itu berisi ancaman agar aku menjauhi siswa tertampan di sekolah ini. " What? Maksudnya apa ini?" Aku bertanya-tanya dalam hati. Tiga menit berlalu, dengan perasaan hati yang gelisah. Kedua mataku menangkap sosok di balik tembok, di depan ruangan guru. Sosok itu mengenakan jaket berwarna cokelat, dan bertudung. " Hei! Siapa disitu? Ada perlu apa?" Seruku pada sosok itu. Tak ada jawaban apapun darinya. Sehingga membuatku penasaran dan langsung menemuinya. Akan tetapi, saat aku melangkah keluar dari ruangan guru, mencari keberadaan sosok itu, ternyata sosok yang aku cari sudah menghilang. Kini yang tersisa hanyalah rasa penasaran dalam diriku. Secara bersamaan, seseorang menepuk pundakku. Tentu saja aku terkejut bukan main. Dan yang lebih parah, raut wajahku berubah pucat di sertai dengan cucuran air dari keningku. Fix aku ketakutan. " Bu Anastasya, apa yang sedang Anda lakukan disini?" tanya Pak Abdul, guru olahraga di sekolah ini. " Eh pak Abdul. Bapak sudah datang?" Aku balik bertanya padanya, dengan suara sedikit gugup. " Ibu kenapa? Kok seperti orang ketakutan begitu?" ujar Pak Abdul, sambil memeriksa keningku. Ia melihat wajahku yang pucat. Mungkin pak Abdul mengira, aku sedang sakit. " Ibu sakit ya? Kenapa berangkat ke sekolah?" Aku menggeleng pelan. Lalu kuserahkan sepucuk pesan dari pengagum rahasiaku. " Ini aneh, selama aku mengajar disini, tidak ada tuh guru yang di teror macam ibu Anastasya," katanya, menambah kesan horor padaku saja. " Mungkin karena bu Anastasya itu kan cantik pak, dan masih muda lagi, jadi ya wajar sih dapat teror sana sini," timpal Bu Lina. Ia juga sudah tiba di sekolah ini, dan mendengar percakapan antara aku dengan pak Abdul. " Awas hati-hati bu, biasanya teror macam itu akan terus mengganggu ibu, sampai bu Anastasya berhenti sesuai dengan keinginannya. Memangnya dia nulis apa di pesan itu, Bu?" sambung bu Lina. Memberi peringatan atau menakut-nakuti aku ya. " Tidak apa-apa kok bu Lin, cuma pesan singkat biasa. Mungkin ini ulah dari anak-anak yang kadang memang suka iseng sama saya," kataku, sedikit berbohong. Kutahu pasti bu Lina akan menjadikan diriku objek dari gosip yang keluar dari bibirnya. " Oh, ya sudah kalau begitu ngapain harus tegang? Jangan bikin orang panik dong, Bu." " He he he, maaf bu." Aku berusaha bersikap tenang. Lalu dengan cekatan aku buang pesan itu, yang sebelumnya sudah aku robek-robek. *** Bel sekolah berbunyi tiga kali. Pertanda pelajaran akan di mulai. Seluruh murid di sekolah ini dengan sigap masuk ke kelas masing-masing. Pun dengan diriku, dengan segera melangkahkan kaki ke kelas dua bahasa. Dalam perjalananku saat menuju ke kelas dua bahasa, aku melihat Kenzo sedang berlari kecil menuju kelasnya. Seketika aku berhenti, saat melihat jaket yang ia kenakan hari ini. Jaket yang sama, yang di kenakan oleh sosok tadi pagi, di ruang guru. Tak terelakkan lagi, ternyata memang Kenzo pelakunya. Dan dengan terpaksa, aku memberhentikan Kenzo. Menarik tangannya saat hendak memasuki kelas dua bahasa. " Habis dari mana kamu, Kenzo?" tanyaku tegas. Pandanganku tertuju pada jaket yang ia kenakan. " Maaf Bu, saya terlambat," jawabnya terengah-engah. Tumben dia memanggilku dengan sebutan Ibu? Biasanya Mrs. Aah, tak peduli lagi dengan sebutan itu. Yang penting aku tahu drama baru yang di buat olehnya. " Yakin kamu terlambat? Bukankah kamu datang pagi-pagi sekali, hari ini?" Aku mulai menginterogasinya. " Apaan sih ibu ini? Jelas-jelas aku baru datang jam tujuh lewat sepuluh menit. Masa aku bohong sih, Bu?" Ia mencoba membalas pertanyaanku. Dengan nada yang tidak aku mengerti. Dia kembali ke sikap awal, saat aku pertama kali mengajar di sekolah ini. " Saya tadi melihatmu sedang mengintip di ruang guru, Kenzo. Saat itu saya kebetulan sedang sendiri di ruangan. Jujur saja pada ibu," Kataku tajam. Aku masih memegang lengannya. " Percuma juga saya menjelaskan sama ibu, wong aku memang baru berangkat kok," ujar Kenzo tak kalah tajamnya dariku. Ia berusaha melepaskan tanganku yang terus memegang lengannya. " Tunggu Kenzo, kamu pakai jaket siapa?" " Ini jaket punyaku, Bu. Ayah yang membelikannya untuk Kenzo, kenapa? Ada yang salah dengan jaket ini?" kini gantian Kenzo yang bertanya penasaran. " Ah, tidak ada. Hanya saja tadi pagi ... Aah sudahlah mungkin itu hanya imajinasi ibu. Maafkan ibu ya sudah salah paham sama kamu," ujarku, lalu segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam kelas dua bahasa. Meninggalkan Kenzo yang mematung di luar karena melihat perubahan dari raut wajahku yang nampak pucat pasi. . . Aku mulai pelajaran pertama di kelas ini. Pelajaran bahasa Jerman. Kebetulan aku merangkap menjadi guru bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Dan tampaknya anak-anak didikku mereka paham dengan penjelasanku yang panjang lebar mengenai materi ini. Suasana hari ini aku rasakan agak berbeda dengan suasana sebelumnya. Aku masih terngiang dengan isi dari pesan singkat itu. Sesekali aku melirik ke arah Kenzo. Memperhatikannya dengan seksama. Dan membayangkan sosok yang tadi pagi kulihat. Tiba-tiba saja, kepalaku pusing. Tekanan darahku sepertinya naik, sehingga tengkuk leherku tegang. Ini efek dari ketegangan yang terjadi hari ini. Aku menyerah dan aku butuh perlindungan seseorang. Kenzo yang menyadari akan gerak gerikku, mencoba memahami apa yang terjadi pada diriku. Akhirnya ia luluh juga, setelah beberapa minggu ini ia mengacuhkan aku. " Oke anak-anak, coba kalian kerjakan soal di halaman dua tiga ya? Jika sudah selesai, kumpulkan masing-masing di meja ibu." Kataku mengawali percakapan. " Baik, Mrs." jawab mereka serempak. Mereka langsung membuka buku lembaran kerja siswa ( LKS ), dan membuka halaman dua puluh tiga. Sementara itu aku ijin pamit untuk keluar, menuju ruang guru. Untuk menghindari rasa sesak karena terus menerus melihat jaket yang Kenzo kenakan. Kenzo yang melihat keanehan padaku, segera keluar mencari diriku. Dan akhirnya ia menemukanku tergeletak di koridor sekolah. Dengan cekatan ia membawa tubuhku menuju ruang kesehatan. " Cepat beri tindakan pertolongan pertama pada Mrs Anastasya! Dia pingsan di koridor, aku tak sengaja menemukannya tergeletak di sana," sahut Kenzo setengah berteriak pada suster penjaga di ruang kesehatan. Menidurkan tubuhku di ranjang yang berada di ruangan kesehatan. Lalu menutupi sebagian tubuhku menggunakan selimut putih. Kenzo mengambil sebotol minyak kayu putih, lalu di balurkannya ke keningku, hidungku dan juga telapak tanganku yang dingin. Sambil berusaha menggosok-gosokan telapak tangannya dengan telapak tangan milikku. " Mrs, bangun." gumamnya pelan dan masih mengusap telapak tanganku, hingga tanganku menjadi hangat kembali. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN