Tuhan ...
Tolong lindungi dia.
Lindungi wanita yang aku cintai.
Aku tak akan berharap lebih pada-Mu.
Cukup sadarkan dia, serta lindungi dia dari mata jahat orang-orang yang ingin mencelakakannya.
Sebab aku mulai menyukainya.
.
.
Dalam diam, hati Kenzo terus berdoa. Berdoa untukku agar aku cepat sadar dari pingsanku. Ia terus saja menggenggam tanganku. Berkali-kali di ciumnya telapak tanganku. Aku merasakan itu, akan tetapi, kedua mataku tak bisa aku buka. Aku cukup lelah karena ketakutanku yang membuatku hilang kesadaran.
" Ken, Bu Anastasya tidak apa-apa kok. Dia hanya kelelahan saja dan banyak fikiran. Tapi, sepertinya ibu gurumu ini sedang mengalami ketakutan yang berlebihan. Jika dia sadar nanti, cobalah agar jangan bertanya apapun ya? Biarkan bu guru tenang dulu. Kalau bisa, buat dia bahagia. Tersenyum gitu, gimana? Kamu bisa kan?" Suster jaga yang bertugas di ruang kesehatan itu, memberi penjelasan pada Kenzo, apa-apa saja yang harus dilakukan Kenzo saat aku sadar nanti.
" Ini ada air hangat di meja. Berikan padanya jika bu Anastasya sudah sadar ya? Saya pamit dulu. Mau ke kantin, kebetulan lapar belum makan," lanjutnya, lalu permisi untuk keluar.
Kenzo mengangguk, " Jangan lama-lama ya, suster? Kenzo takut terjadi apa-apa sama Mrs. Anastasya," ucapnya dengan lembut. Kata-katanya mengandung banyak arti. Dan suster jaga itu paham betul apa yang di rasakan oleh Kenzo. Ia tersenyum simpul, kemudian pergi dari ruangan menuju kantin sekolah.
Tiga puluh menit kemudian.
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Dan yang pertama kulihat adalah Kenzo. Dia tersenyum padaku.
" Mrs, Anda sudah sadar?" tanya Kenzo, ia membantuku untuk bangun dan bersandar dengan meninggikan bantal.
" Saya ada di mana, Ken?" tanyaku balik.
Kepalaku masih terasa pusing berkunang-kunang. Saat aku mengingat kejadian sebelum aku pingsan, kepalaku malah makin pusing dan terasa sakit.
" Mrs, minum ini dulu ya? Kebetulan tadi suster jaga sudah buatkan air hangat untuk Mrs Anastasya. Ini Mrs airnya," pinta Kenzo, dan langsung memberikan segelas air hangat padaku.
Akupun meminumnya sedikit demi sedikit. Lumayan, pusingnya berangsur hilang dari kepalaku. Mungkin aku butuh minum.
" Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu masih ada pelajaran lain?"
" Kenzo sudah minta ijin kok, Mrs. Mrs tenang aja ya, Kenzo akan menemani Mrs sampai keadaan Mrs membaik." Anak itu, meskipun ia bocah gendeng, tingkahnya kadang aneh, tapi, ia perhatian sekali padaku. Bahkan saat aku menghukumnya, meski aku keras padanya, tapi sikapnya terkadang membuatku tersenyum bangga. Sebenarnya Kenzo ini anak yang baik. Itulah yang selalu di ucapkan kak Afifah padaku, dan itu benar.
" Ya sudah, kalau begitu, ibu mau istirahat saja di rumah. Tolong kamu telepon bu Afifah, eh jangan! Tolong kamu pesankan saja taksi online, ibu akan naik itu untuk pulang ke rumah." Perintahku. Sambil memijit keningku.
" Anda yakin, Mrs? Apa tidak mau istirahat dulu di sini. Kenzo yang temankan deh," Katanya.
" Iya," jawabku singkat. Sambil menyeruput air hangat.
" Ya sudah Kenzo pesankan taksinya dulu ya? Baru nanti Mrs pulang." Dengan wajah riangnya, Kenzo memesan sebuah taksi online di aplikasi yang sedang tren saat ini.
Akan tetapi, kenapa aku lebih merasa aman saat berada di dekatnya? Sumpah, ini bukan mauku, tapi mau hatiku.
Aku menyentuh tangannya, lalu menggelengkan kepalaku padanya. Ia pun mengernyitkan keningnya, bingung.
" Jangan pesan taksi online. Batalkan saja, ibu masih mau di sini." pintaku yang mendadak.
Kenzo menangkap cepat permintaanku. Langsung ia batalkan pemesanan taksi online di aplikasi itu.
" Beres, Mrs. Sudah aku cancel loh Mrs," ujarnya dengan riang.
" Terima kasih, Ken," ucapku, lalu tersenyum padanya. Dan ia pun membalas senyumanku, kali ini jantungku berdegup dengan kencang.
" Mrs," Kenzo memanggilku dengan lembut.
" Apa?" jawabku singkat.
" Jantung Kenzo Mrs," katanya panik.
" Kenapa dengan jantungmu, Ken?" tanyaku lebih panik.
" Coba Mrs pegang jantung Kenzo!" pinta Kenzo sembari meraih tanganku lalu meletakkannya di sekitar d**a bidangnya.
" Mrs merasakannya bukan?" lanjutnya lagi.
" Merasakan apa, Kenzo?"
" Merasakan detak jantung Kenzo bergerak cepat, karena ...," Kenzo sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
Ia ingin aku bertambah penasaran.
" Karena apa, Kenzo?" tanyaku panik.
" Karena mendapatkan senyuman manis dari Mrs Anastasya," Rayunya, kulihat ia tengah menggodaku dengan tatapan matanya.
Jangan Ken, jangan kamu menggodaku! Bisa-bisa aku terkena toxic dari cintamu!
Aku mengerlingkan kedua mataku, lalu menoyor kepala Kenzo, serta mencubit pipinya, " Dasar bocah gendeng kamu,"
" Biarin aku gendeng, tapi Mrs suka ' kan?"
Mulai deh, mulai jahilnya. Dia fikir aku suka? Memang aku suka tapi, aku tak bisa menjadikan dia sebagai pengganti Kenichi. Perbedaannya antara bumi dan langit, jauuuuuh.
****