Mataku sudah buta.
Tak dapat melihat wajah yang rupawan lagi.
Selain wajahmu.
" Mrs, lagunya enak ya? Liriknya pas banget gak?" cetusnya, berusaha menggodaku dengan lagu-lagu romantis.
Sial, ternyata perkataannya benar. Lagu-lagu yang ia putar mewakili hatiku saat ini.
" Ah, tidak juga. Saya lebih suka lagu religi loh," elakku, sambil memalingkan muka. Mencoba bersikap netral tak terjadi apa-apa.
" Yakin, Mrs?" Tanya Kenzo, dengan kedua mata yang menyipit.
" Hu'um," jawabku, berdehem.
" Yah, Mrs Anastasya enggak asik ah," rajuk Kenzo. Matanya tetap fokus pada jalan di hadapannya.
Aku mencoba tersenyum, tak ingin berkomentar apapun padanya. Karena jika aku komentar, pasti Kenzo akan membalas terus perkataanku.
Pagi ini, aku di jemput oleh Kenzo, si bocah gendeng yang sedang kasmaran. Entah kasmaran dengan siapa, hanya Kenzo yang tahu, selebihnya aku hanya menutup mata dan telinga. Tak ingin mendengarnya menyatakan cinta padaku.
" Mrs, ada lagu baru lagi loh. Lagunya enak-enak sekali. Mau dengar tidak? Dari Mahadewi, judulnya kosong," tukasnya lagi. Entah apa maunya dia mendengarkan lagu padaku. Apakah ia ingin aku mendengarkan lirik dari lagu-lagu yang ia putar hari ini.
" Tidak usah, Ken. Saya sedang ingin mengheningkan cipta, tidak ingin mendengar lagu-lagu melankolis dan romantis," tolakku cepat. Sengaja aku menolaknya. Aku tak sebodoh itu ya, Kenzo.
" Hem, baiklah. Kenzo akan menuruti apa mau Anda," sungutnya dengan bibir mengerucut.
Tahu apa yang dia lakukan atas perkataanku barusan tentang mengheningkan cipta? Ternyata dia benar-benar menyanyikan lagu mengheningkan cipta gaes, sungguh gendeng ini bocah, hahaha.
" Dengan seluruh, angkasa raya memuji pahlawan negara. Nan gugur remaja, diribaan bendera, bela nusa bangsa. Kau kukenang, wahai pahlawan negara...," Suara melengking namun cukup syahdu keluar juga dari bibir Kenzo yang mungil dan merah merekah itu. Tingkahnya gokil banget. Cukup membuatku melupakan teror yang kini kualami.
Aku mencoba menahan tawaku, akantetapi saat melihat cara bernyanyi bocah gendeng itu, aku tak kuasa tertawa terbahak-bahak. Tak sadar aku menepuk pundaknya berkali-kali. Hal itu membuatnya merasa nyaman saat matanya fokus menyetir kendaraan beroda empat miliknya.
" Suaramu jelek," aku mencibir dan sialnya masih tertawa terkekeh-kekeh.
Dan ia pun cemberut, dengan bibir yang mengerucut ke depan. Aih, lucu sekali muridku yang satu ini. Hahaha.
Geli sekali saat melihatnya merengut seperti itu. Ingin sekali aku menarik bibirnya. Upst, bisa bahaya. Jangan kau lakukan Anastasya. Hahaha.
Keadaan hening sejenak. Ternyata Kenzo benar-benar marah.Ia merajuk dan mulai mengheningkan cipta padaku. Tak apa, ini lebih baik daripada dia mengoceh tak tentu arah. Pusing aku.
****
Jam menunjukkan pukul 07.00, saat aku sampai di ruangan guru. Seperti biasa, aku membereskan semua buku pelajaran yang kebetulan hari ini akan di bagikan ke seluruh murid didikku, di kelas dua bahasa.
Saat aku sedang membereskan buku pelajaran, ada satu guru datang menghampiriku. Ia memberiku sebuah pesan yang tertulis di secarik kertas buku tulis. Aku mengernyitkan kening. Lagi-lagi aku harus menerima pesan teror lagi. Dan aku harus siap mental dan fisik. Aku tidak boleh lemah apalagi lengah. Musuh akan mudah menekuk leherku.
Setelah aku mengucapkan terima kasih padanya, aku langsung membuka pesan itu.
Jauhi Kenzo! Dia milikku dan tidak ada yang bisa menjadi kekasihnya selain diriku!
By.
Mr. X.
' Ya Tuhan! Apa maksudnya? Aku tidak ada hubungan apapun dengan Kenzo si bocah gendeng itu. Terus aku harus gimana? Tidak mungkin aku menjauh dari Kenzo, aku kan gurunya, tiap hari aku mengajar di kelasnya, kelas dua bahasa.'
Satu beban lagi untukku. Dan aku harus mencari siapa si Mr. X ini. Agar aku tidak di teror olehnya. Penyelidikan pun di mulai.
****
" Bu, kenapa diam?" Suara milik pak Kendra, guru BP di sekolah ini, berusaha menegurku yang sedang termenung seorang diri di kantin sekolah. Sambil menikmati jus alpukat di kedai abah Beni.
" Eh pak, ini loh saya sedang menikmati jus alpukat. Enak banget," jawabku asal. Biarlah, dia tidak usah tahu aku sedang di teror oleh makhluk yang bernama Mr. X.
" Sepertinya ibu sedang ada masalah ya? Coba ceritakan padaku, masalah apa. Mungkin saya bisa bantu sedikit masalah yang ibu hadapi," Tukasnya, sambil memesan satu jus semangka.
" Jus semangka satu ya, Bah?"
" Oke, siap pak Kendra." Bah Beni dengan cekatan membuat jus pesanan pak Kendra.
Aku perhatikan, pak Kendra ini orangnya cukup supel. Meski ia terkenal garang, tapi ia sebenarnya baik. Apakah aku bisa berbagi masalahku dengannya? Bolehkah aku membocorkan pesan teror dari Mr. X padanya?
" Gini pak, sebenarnya saya sedang di teror," ucapku berbisik padanya.
" Di teror? Ah jangan bercanda deh, Bu. Tidak lucu loh," sahutnya, diiringi gelak tawa yang nyaring.
" Terserah, kalau bapak tidak percaya!" sungutku.
" Nih!"
Aku menyerahkan secarik kertas berisi pesan singkat untukku. Dan pak Kendra membaca pesan singkat itu. Kini, giliran pak Kendra yang kebingungan. Kebiasaannya itu adalah saat ia bingung ataupun pusing, pasti keningnya ia pijit perlahan.
" Seriusan ini, Bu? Kenapa Anda tidak melapor pada polisi? Ini sudah termasuk pengancaman loh," ujarnya memberi ide padaku.
" Aku ingin menyelidiki dulu, Pak. Setelah itu, aku serahkan sama Pak Kendra. Aku tidak ingin bertindak gegabah dulu," tukasku. Mengambil secarik kertas dari tangan pak Kendra.
" Bolehkah saya ikut menyelidiki? Apa ibu mencurigai seseorang?"
Aku merenung. Berfikir cepat siapa yang harus aku curigai saat ini.
Apakah itu Kenzo? Aku rasa bukan. Ataukah Tiara? Yang memang suka sekali bikin ulah. Kalau Romi, untuk apa ia mengancam aku? Tertarik pun tidak padaku. Pada akhirnya, setelah aku menyusuri satu per satu murid di kelas dua bahasa, aku mendapati satu murid yang memang sedang dekat dengan Kenzo. Yaitu Kristi.
" Ada pak, satu murid di kelas dua bahasa. Dan dia itu perempuan. Bernama Kristi," seruku, sambil menggebrak meja. Saking semangatnya.
" Oke, kita selidiki diam-diam ya. Jangan sampai tercium olehnya kita menyelidiki kesehariannya di sekolah ini."
" Siiiip. Terima kasih ya pak," ucapku, sambil memegang kedua tangannya. Tak kusadari, ada semburat senyuman manis mengembang di kedua pipi pak Kendra. Senyuman manis, untuk guru yang termanis.
****