Penyelidikan untuk Mr. X.

486 Kata
Ternyata Kenzo melihatku tengah bercengkerama dengan pak Kendra guru BP yang terkenal garang itu. Lagi-lagi, Kenzo merajuk padaku. Ia menghindariku. Setiap aku menyapanya, ia menjauhiku. Dan itu membuatku sedikit kesal. Bukannya ia menyemangatiku malah membuat aku kesal dengan tingkahnya yang absurd itu. Tiga hari kemudian, Aku melewati koridor saat aku menuju kelas dua bahasa. Dan kebetulan lorong di koridor itu cukup hening. Mungkin karena jarak menuju kelas dua bahasa itu berada di ujung gedung sekolah ini. Jadi, mau tak mau jalanan ini terkesan sepi. Ketika aku melewati koridor, aku mendengar suara percakapan dua orang siswa dan siswi di sela-sela sudut tangga. " Kamu menyuruhku untuk membuat surat teror untuk Mrs. Anastasya. Tapi, mana balasannya untukku, Kris?" suara itu nyaris terdengar nyaring. Aku yakin itu suara murid-murid didikku. Aku hapal sekali suara beratnya. Itu suara Romi. " Nanti, sedikit lagi lah, Rom. Aku 'kan belum bisa memisahkan Kenzo dari Mrs Anastasya. Sabar sedikit," Tegas Kristi. Sambil mendorong tubuh Romi yang hampir menempel di tubuh Kristi. " Awas loh ya, kalau bohong! Aku akan menagih itu sama kamu!" Kata-katanya penuh ancaman. " Iya pasti. Tapi, kamu buktikan dulu kalau Kenzo dan Mrs Anastasya harus benar-benar berpisah. Baru aku mau tidur seranjang denganmu," Ujar Kristi. Mendorong tubuh Romi, dan menjauh darinya. Kedua bola mata Kristi terbelalak ketika ia melihat diriku tengah berdiri di hadapannya. Sambil mendekap buku-buku pelajaran. " Mrs Anastasya!" pekik Kristi. Menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut. Begitu juga dengan Romi. Ia juga terkejut sekali, aku mendengar obrolan mereka berdua. " Sedang apa kalian di sudut gelap itu? Apa yang kalian lakukan?" tanyaku menyelidik. Kutajamkan tatapanku pada dua anak didikku itu. Mereka tertunduk, malu. " Kalian tahu tidak, apa yang kalian lakukan itu sangat berbahaya. Gara-gara ulah kalian, saya hampir saja ketakutan." Kini, aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi pada dua anak didikku itu. Mereka benar-benar keterlaluan. " Maafkan kami, Mrs. Kami memang bersalah." ucap Kristi pelan. Tapi masih bisa terdengar olehku. " Akan saya laporkan hal ini pada Pak Alfan. Biar beliau yang akan bertindak selanjutnya," Ujarku tegas. Penuh ancaman. Lalu dengan cepat aku memutar langkah menuju ruang kepala sekolah. Baru saja aku melangkahkan kaki tiga langkah, sebuah benda tumpul menghantam tengkuk leherku. Dan aku terjatuh hingga aku tidak sadarkan diri. Senyuman seringai mengembang di bibir Kristi. Ia puas melihatku jatuh terkapar di lantai tidak sadarkan diri. Lalu dengan perlahan ia mengangkat tubuhku dan meminta Romi untuk membawaku ke sebuah ruangan kosong. Mengikatku dengan sebuah tali yang di ikatkan ke sebuah bangku di mana aku di letakkan di sana. Dengan mulut tertutup lakban hitam yang cukup besar. " Ck, ck, ck, Mrs Anastasya, Anda terlalu sekali jadi guru. Kenapa Anda berbeda dengan bu Afifah? Habis pelajaran selesai, Anda akan aku siksa! Hahaha." Kristi tertawa terbahak-bahak, dan Romi pun ikut menimpali dengan ikut tertawa bahagia karena telah mengikatku di ruangan kosong. Setelah itu, mereka mengunciku dari luar ruangan. Meninggalkanku sendirian di tempat yang gelap, pengap dan juga kotor. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN