Bab 5. kesalahan Faisal

1143 Kata
"Lepasin," Faisal menjerit sakit. Bagaimana tidak, Rindi saja yang hanya melihat serasa dapat merasakan linunya pergelangan tanganya sendiri saat melihat tangan Faisal yang berputar arah. "Ha ha ha, makanya kalau jadi laki itu yang gagah. Cemem lo, baru di lawan cewek saja sudak KO." Mutia terbahak kencang. Kesan anggun dari penampipannya sangat bertolak belakang dengan kelakuannya. "Kurang ajar, saya patahkan tulang kamu." Faisal masih saja berteriak tidak tahu diri di saat dirinya sendiri yang ada di ambang kekalahan. Mutia menggeleng tak percaya, dia menoleh ke arah Rindi. "Rindi, apa benar laki-laki seperti ini yang pernah menjadi suamimu dulu? Bikin gemes pengen nabok pakai sekop saja." Rindi mengedikan bahu. Dia melengesoskan wajah saat Faisal menatapnya berang. "Wajah jelekmu itu malah tambah pengen saya tabok. Cepat minta maaf sama next kakak ipar saya!" Mautia menendang tulang kering Faisal samapi menjerit kesakitan. "Harga diri saya lebih tinggi dari wanita, kenapa harus saya yang meminta maaf? Yang salah itu dia," Faisal menunjuk Rindi dengan satu tangannya yang bebas, "harusnya kamu bantuin saya, bukan malah ikut mojokin saya." "Cuih," Mutia benar-benar meludahi kaki Faisal. Dia kesal, marah, jijik, pokonya semua kata kasar dia kumpulin jadi satu dalam hinaan dan makian untuk laki-laki ternyebelin yang saat ini ada di genggamannya. "Dalam mimpi saja saya tidak akan mau bantuin kamu, apalagi dalam dunia nyata? Baru kali ini saya nemuin laki-laki tidak tahu diri dan belagu kayak kamu." "Wanita kurang ajar," Faisal melotot ke arah Mutia. Sudah tidak tahan dengan segala makian Faisal yang terlontar dari mulut kotornya. Sebagai penutup akhir yang manis, Mutia menendang alat vital milik Faisal. Faisal berguling ke sana-sini sambil memegangi k*********a. Mutia benar-benar jelmaan preman berwajah cantik. Sampai saat ini dia masih sendiri karena tidak ada laki-laki yang berani mendekatinya karena kegalkannya yang melebihi ibu tirinya sinderela. "Allhurobby, Nak Faisal kenapa?" Ikhsan, ayah Rindi datang-datang melotot shok saat melihat mantan menantunya yang kini tengah berguling di tanah sambil memegangi k*********a. Ikhsan berjongkok di depan Faisal, "Nak Faisal, kamu kenapa?" Faisal menatap Mutia dan Rindi bengis, "mereka yang membuat saya begini." Ikhsan mengikuti arah pandang Faisal. Dia menggeleng pelan begitu tatapannya bertemu dengan Mutia dan Rindi. "Kalian keterlaluan. Kenapa sampai membuat nak Faisal kesakitan begini?" "Ya ampun Pak Ikhsan, dia ini tadi mau nampar anak Bapak. Makanya saya bantu balas, itung-itung juga ngelarih otot sih." Mutia nyengir kuda di akhir ucapannya. "APA?" Ikhas menatap kaget Faisal. "Kamu berani mau nampar putri saya?" "Terserah! Kalian sekeluarga memang hanya membuat saya susah saja. Anaknya pencuri, bapaknya miskin pula. Menyesal saya dulu mau nikahin anak Bapak. Kalau tahu akhirnya akan begini, lebih baik saya menikahi si Nur lela janda kampung sebelah." "AWW!" Faisal kembali menjerit saat tulang keringnya di tendang kembali oleh Mutia. "Laki-laki edan. Kamu pikir Rindi kenapa dulu mau nikah sama kamu? Itu karena bapakmu yang penyakitan itu mohon-mohon sama pak Ikhsan buat nikahan anaknya yaitu kamu sama Rindi. Asal kamu tahu, Rindi bahkan sampai mutusin kakak saya demi memenuhi keinginan bapakmu itu. Walah, dasar laki-laki besar mulut!" Mutia menggerutu kesal. Lihat saja, akan dia adukan laki-laki kurang waras ini pada kakaknya yang sadis. "Kalau buakan karena kamu yang mengancam ingin bunuh diri, mungkin juga bapakmu tidak akan sampai mohon-mohon begitu. Iya, kan pak Ikhsan?" Mutia menoleh ke arah Ikhsan meminta persetujuannya. "Benar," Ikhsan membenarkan. Kejadiannya memang begitu. Dulu saat Rindi baru lulus SMA, ayah Faisal datang menemuinya meminta agar Rindi bersedia menikah dengan anaknya karena Faisal mengancam akan bunuh diri bila tidak secepatnya dinikahkan dengan Rindi. Namun, Rindi menolak, akhirnya ayah Faisal mengganti alasan dengan mengatakan hidupnya tidak akan lama lagi karena lemah jantung yang dia derita. Mau tidak mau, akhirnya Ikhsan membujuk Rindi hingga pernikahan itu akhrinya terlaksana. "Mas Faisal, kalau kamu masih punya harga diri, pulanglah! Lama-lama lihat kamu, berasa pengen cincang tubuhmu hingga menjadi 50 bagian." Rindi tersenyum manis. Berbeda dengan matanya yang menyorot tajam Faisal. "Rindi," Ikhsan menegur putrinya agar tidak mengatakan kata kotor seperti itu. Dia adalah orang yang kolot akan tata krama, mendapati putrinya berbicara seperti itu, membuat dia sangat tidak setuju dengan apa yang putrinya ucapkan. "Awas kamu Rindi! Penghinaanmu kali ini akan saya ingat sampai kapanpun. Rasa sakit ini yang akan membawa saya untuk kembali datang membals dendam padamu." Dengan langkah tertatih dan sesekali meringis sakit, Faisal melangkah pergi. Dia berbalik hanya untuk menatap bergiliran antara Rindi, Mutia, dan Ikhsan, lalu kembali meluruskan pandangannya dan melangkah menjauh. "Saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan uang itu," tekadnya penuh yakin. Ibunya mengatakan pihak rumah sakit akan menghentikan pengobatan ayahnya bila administrasi tidak segera dilunasi, sedangkan uang yang 15 juta itu sudah dia pakai untuk bayar depe-nya saja. Kalau bukan karena Rindi yang bicara sembarangan di depan ayahnya, ayahnya saat ini tidak mungkin masuk rumah sakit. Jadi apapun yang terjadi Faisal meyakinankan kalau uang hasil penjualan rumah itu adalah hak nya karena untuk membiyayai pengobatan ayahnya sebagai bentuk tanggung jawab dari Rindi. Faisal tertawa jahat saat sebuah rencana terlintas dalam otaknya. Ya, dia akan melakukan itu. Kalau hari ini dia gagal, masih banyak hari esok. Kenapa Faisal kekeh ingin uang itu menjadi miliknya? Karena Faisal malas bekerja dan tidak bisa meninggalkan permainan gamenya yang sudah mencapai lepel tinggi. Dia takut didahului temannya kalau sampai sehari saja tidak main. Sekepergiannya Faisal, Ikhsan menatap putrinya dengan pandangan menelisik. "Rin, kenapa sikap Faisal begitu? Apa selama menjadi suamimu dia suka main tangan?" "Tidak, pa. Mas Faisal tidak pernah main fisik, hanya saja tingkat kemalsan dan keegoisannya sudah mencapai puncak. Putri meninggal gara-gara mas Faisal tidak datang waktu aku suruh pulang karena ingin minta diantar bawa putri ke rumah sakit. Dia malah main game bersama temannya. Aku sudah tidak tahan. Mas Faisal baik di awal pernikahan saja, selanjutnya mulai terlihat tabiat buruknya. Dan, apa bapak tahu apa yang kedua orang tuanya lakukan saat melihat anaknya abai pada istri dan anaknya dan lebih mentingin game online?" Ikhsan menggeleng seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Rindi katakan. "Mereka tak acuh, seolah kelakuan mas Faisal itu biasa. Aku yang selama ini kerja jadi buruh masak di warung nasi bu sari walau dalam keadaan hamil besar demi mencukupi segala kebutuhan." Ikhsan tercengang dengan penuturan putrinya barusan. Dia tidak pernah tahu kalau putrinya hidup dalam rumah tangga yang tidak sehat. "Tapi, kenapa kamu tidak pernah cerita?" "Rindi mana mampuh cerita sama ibu dan Bapak. Rindi takut Bapak dan ibu khwatir, makanya sengaja nutupin ini demi kebaikan bersama." "Tapi, kamu sudah salah dengan merahasiakanya dari Bapak dan ibu, Rin. Seandainya kamu bicara dari awal, mungkin sudah dari awal Bapak ikut meluruskan." Ikhsan menatap Rindi kecewa. "Iya, Rindi minta maaf." Rindi menunduk merasa bersalah. "Sudah! Sekarang juga sudah terlanjur." Ikhsan menoleh ke arah Mutia, dia mengenal baik Mutia. Mutia adalah teman Rindi yang sudah bersama dari jaman putih abu, sekaligus adiknya Dio, laki-laki baik yang mencintai putrinya dengan tulus. Seketika rasa bersalah menyeruak dalam hatinya saat dulu dia meminta Dio melepaskan Rindi karena dia menjodohkan Rindi dengan Faisal, anak sahabatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN