Loh, Ibu kenapa pulang-pulang nangis?" Rindi menyusul sang ibu yang kini mendudukan tubuhnya di kursi kayu ruang tamu milik mereka.
Ratih menyusut air matanya menggunakan ujung kerudung yang dia punya, lalu menatap sang anak dengan mata sembabnya. "Ibu-ibu di ladang pada ngatain kamu penguras harta keluarga nak Faisal. Mereka bilang, kamu juga sudah sengaja mencelakai mertuamu dulu sampai di rawat di rumah sakit. Bukan hanya sampai di situ, mereka juga mengatakan kalau kamu itu janda gatal yang suka menggoda pria kaya. Ibu sakit hati Rin, Ibu gak kuat. Makanya Ibu pulang walau hari masih siang."
Rindi mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya. Ini pasati fitnah Faisal, Rindi menggeram marah.
"Ibu tenang saja, biar Rindi yang bungkam mulut orang-orang tidak bertanggung jawab itu." Rindi berkata penuh keyakinan.
"Gak usah Rin, gak usah. Sudah cukup kamu bermasalah dengan keluarga mantan suamimu. Ibu tidak ingin kamu makin tertimpa masalah lagi." Eatih memelas memohon agar sang putri tidak lagi mencari gara-gara dengan siapapun.
Putrinya yang penurut dan bertutur kata lembut tidak lagi Ratih temui dalam diri Rindi yang sekarang. Sebenarnya Ratih sedih dengan keadaan dang putri yang berubah drastis setelah ditinggal cucunya.
"Kenapa Ibu bicara begitu," Rindi menatap Ratih protes, "orang-orang itu duluan yang menghina Rindi. Apa kita harus diam saja saat kita difitnah? Kita harus meluruskannya Bu, biar berita itu tidak semakin meluas."
"Tapi, Ibu takut kamu kenapa-napa."
"Rindi tidak akan kenapa-napa, percaya saja." Rindi tersenyum meyakinkan pada Ratih yang langsung dibalas anggukan dari sang ibu.
"Rindi masuk kamar dulu. Sebaiknya ibu bersihkan badan, lalu makan. Makannya sudah Rindi siapkan di atas meja."
"Iya, Rin."
Rindi masuk ke dalam kamar dan menemukam Mutia tengah cengengesan karena ketahuan menguping pembicaraannya dengan sang ibu. Rindi menatap datar Mutia, "kamu nguping."
Mutia nyengir kuda, "abisnya penasaran. Keluarga kamu itu drama banget. Greget jadinya aku."
"Halah alesan, bilang saja buat jadi bahan laporan pada mas Dio." Rindi memutar bola matanya malas.
"Nah, itu juga salah satu alsannya." Mutia menjentikan jari. Teringat akan baru saja kakaknya menelpon, Mutia berubah cemas saat menatap Rindi.
"Ada apa?" Rindi bertanya saat menangkap raut cemas dari sahabatnya ini.
"Itu, tadi mas Dio telpon. Katanya dia di tuduh ngehamilin si Vira."
"APA?" Rindi berseru kaget. Rindi kenal Vira yang Mutia maksud. Dia adalah temannya Nur lela, anak kampung sebelah. Vira memang sudah naksir mas Dio dari dulu. Rindi curiga, jangan-jangan ini hanya akal-akal Vira saja agar bisa dinikahkan dengan Dio.
Rindi mengambil pakiannya dari dalam lemari, kemudin membawanya ke kamar mandi. Selang beberapa menit, Rindi sudah tampil fresh dengan baju rapi.
Mutia mengikuti Rindi yang kini tengah memoles bedak dan make up lainnya pada wajah, dia mengernyit heran. "Mau ke mana? Kok dandan."
"Mempermalukan seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau." Rindi menjawab tanpa menoleh ke arah Mutia.
"Ikuuuuut," Mutia memeluk Rindi dari belakang. Dia menoel dagu Rindi genit, "ya ya ya?"
"Ok. Cepat bersiap!"
***
Di ruang tengah yang terdapat dalam rumah megah nan mewah, seorang wanita menangis tersedu-sedu, di samping kanan kirinya terdapat sepasang suami istri hang merupakan ibu serta ayahnya. Suara tangisannya terdengar menyayat siapapun yang mendengarnya. Sang nyonya rumah hanya diam terpaku, sedangkan sang tuan rumah tengah memandang sang anak lelakinya murka.
"Dio, katakan sejujurnya! Apa kamu memang menghamili anaknya pak Alatas ini?"
Tidak seperti yang lainnya, Dio malah bersikap santai. Dia tidak terpengaruh dengan tangisan memilukan Vira. Dengan ekspredi malas, Dio menguap karena bosan dengan drama yang tidak terselesaikan juga dari 2 jam yang lalu. Dia mendengus pelan, waktunya yang berharga harus terbuang sia-sia.
"Tidak," ucapnya malas.
"Kak Dio, kamu tega tidak mengakuinya. Padahal sebelum kejadian itu terjadi, kamu sudah berjanji akan menikahiku. Sekarang kamu malah mengelak saat tahu dalam perutku ada anakmu. Di mana janji manismu saat itu, Kak Dio." Vira meraung marah. Lelehan air matanya begitu deras seolah Vira benar-benar tersakiti.
Nyonya rumah bahkan sudah terduduk saking lemasnya lutut menopang bobot tubuhnya. Dia terisak pelan, menolak tuduhan Vira terhadap anak sulungnya.
Tuan rumah memijit dahinya karena bingung. Dia tidak tahu harus mempercayai siapa. Satu sisi anak laki-lakinya dia sendiri tahu sangat mencintai satu wanita yang saat ini lagi masa perceraian. Namun, satu sisi lagi, Vira ini anak sahabat sekaligus mitra bisnisnya. Dia kenal betul dengan ayah Vira, beliou adalah partner bisnis yang jujur dan baik hati. Apa mungkin putrinya berani menipu dia?
"Pak Fernando. Menurut Anda jalan mana yang harus dipilih? Saya bingung menyikapinya bagaimana?" Tuan Alatas, ayah Vira berbicara sama bingungnya. Dia tidak bisa berpikir jernih saat anak gadisnya mengaku hamil anak dari Pak Fernando, yaitu Faradio Kalandra. Bukannya apa atau tidak mempetcayai ucapan putrinya sendiri, hanya saja tuan Alatas tahu betul sifat Dio ini tidak pernah mau didekati sedikitpun oleh yang namanya wanita.
"Saya akan tanya anak saya sekali lagi," Fernando menoleh lagi ke arah anaknya yang kini sudah bermain ponsel, sama sekali tidak terganggu dengan kegentingan dalam ruangan. "Dio, sekali lagi Papa tanya. Apa benar kamu menghamili Vira?"
"Tidak," lagi-lagi Dio menjawab. Berapa kalipun ayahnya bertanya, dia tetap akan pada satu jawaban yaitu 'tidak'. Kalau disuruh mengaku menghamili Rindi, baru dia akan dengan cepat berkata 'iya' walaupun pada kenyataan tidak. Secinta itu memang dia pada Rindi.
Vira sangat kesal akan jawabam Dio yang tidak mau mengalah. Mungkin dia harus mengeluarkan jurus yang terakhir miliknya. "Kalau Kak Dio tidak mau bertanggung jawab, lebih baik aku mati saja. Aku mau bunuh diri dengan membawa janin ini ikut serta. Biarlah Kak Dio merasakan rasa bersalah atas kematian kami berdua."
"Vira," ibunya yang dari tadi hanya diam memeluk sang putri. Dia menoleh ke arah Dio. "Apa kamu hanya akan diam saja saat anak saya mengatakan akan bunuh diri akibat kegoisan kamu?"
Dio melirik sekilas, "maybe."
Semua orang menahan napas atas jawaban tidak peduli dari Dio. Apa lagi Vira yang sudah menggigit bibirnya karena frustasi telah kehabisan cara agar Dio mau menikahinya. Dia sudah mencintai Dio dari saat masih sekolah, tapi tidak pernah sekalipun Dio meliriknya walau sudah mencoba menarik perhatiannya dengan berbagai cara.
Saat semua orang terdiam, dua suara tidak asing terdengar dari arah pintu yang terbuka. Mereka serempak menoleh kecuali Dio.
Dio menarik salah satu sudut bibirnya karena harapannya untuk bertemu dengan sang pujaan akhirnya terwujud tanpa harus dia melanggar titah ibu sang pujaan yang melarangnya menemui kekasih hatinya dalam jarak 3 bulan.
Kalau pujaannya sendiri yang datang, bukankah dia tidak akan disebut melanggar? Dan apa sekarang dia juga harus berterima kasih pada Vira?
Kayayaknya..., iya.
***