"Assalamualaikum," Rindi dan Mutia bicara barengan. Mereka masuk dengan lenggang karena memang pintu rumahnya terbuka. Keduanya saling pandang begitu melihat kekacauan yang terjadi dalam rumah ini.
"Waalaikum sallam," semua orang menjawab salam Rindi dan Mutia.
Rindi dan Mutia bergambung ke ruang tengah. Setelah menyuruh Rindi yang sudah duluan menyalimi mamahnya, dia menyuruh Rindi duduk di sofa, lalu Mutia menghampiri Papa dan Mamahnya untuk menyalim tangannya, terakhir ikut duduk di sebelah Dio.
"Selamat siang, Om, Tante, dan yang lainnya." Rindi tesenyum manis pada semua orang, tapi yang membalas senyum manisnya hanya sebagian orang sebab saat pandangannya bertemu Vira perempuan itu malah melengos malas.
Rindi yang merasakan tatapan menusuk dari arah depannyalangsung menarik salah satu sudut bibirnya sekilas, kemudain merubah kembali mimik wajahnya menjadi biasa lagi saat menatap ibu dan ayah Mutia. Ia menatap wajah Fernando dan Lidia secara bergantian. "Apa Rindi mengganggu acara Om dan Tante?"
"Sama sekali tidak, malah Om dan Tante senang dengan kedatangan kamu." Fernando menjawab cepat.
Fernando memang sudah menyukai Rindi dari dulu, Anaknya baik, ceria, penurut, pintar, dan cantik tentu saja. Lihatlah, anak sulungnya bahkan tidak berkedip dari pas awal Rindi datang sampai duduk di sofa. Sekarang Fernando yakin, kalau Vira lah yang berbohong di sini. Mana mungkin anaknya yang begitu tergila-gila pada wanita secantik Rindi bisa tergoda oleh...mmm, Vira yang wajahnya biasa-biasa saja di matanya.
Rindi kembali melemparkan seringaian licik pada Vira yang dari tadi melotot padanya. Apa lagi Dio tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari dia. Buka nya sombong, tapi Rindi tahu kualitas dirinya jauh di atas Vira. Dia pintar, tidak punya reputasi buruk, cantik tentu saja. Janda bukan kekurangan, bukankah ada pepatah yang bilang janda itu lebih menggoda?
"Kamu ngapain datang ke sini?" Vira berucap tak suka pada Rindi.
"Mm, hanya mampir mungkin." Rindi tersenyum guyon.
Alatas yang dari tadi memperhatikan sang pebisnis muda bertalenta anak dari sahabatnya ini diam-diam mulai meragukan pengakuan putrinya yang mengatakan hamil anak dari Dio. Alatas tahu bagaimana cara Dio memandang Rindi, itu tatapan cinta yang teramat dalam hingga mencapai level tidak bisa memandang wanita lain lagi.
Bahkan Alatas bisa menjamin, apa bila Rindi tidak bercerai dengan suaminya Dio tidak akan pernah menikah dengan label kutunggu jandamu. Dia hanya bisa berharap, semoga Fernando tidak memutus kerja sama perusahan mereka setelah penipuan putrinya terbongkar.
Rindi menoleh ke arah Dio.
Dio berkedip sekali sambil berucap, "kamu..., membuatku terpesona."
Mutia memutar bola matanya malas saat matanya disuguhkan pemandangan alay dua sejoli di depannya. Dia mencibir, lihatlah wajah malu-malu kucing Rindi! Sangat menyebalkan.
Akhirnya sekarang Mutia mengerti kenapa Rindi memakai baju bagus dengan dandan teramat cantik, rupanya untuk menarik perhatian kakanya agar memperlihatkan pada semua orang kalau perhatia Dio hanya untuk Rindi seorang dan tidak akan ada wanita yang mampuh menarik lagi perhatiannya selain Rindi.
Dengan kata lain, memperlihatkan pada semua orang kalau Vira lah yang berbohong.
"Aku merindukanmu." Lagi Dio berucap, kali ini dengan nada manis.
Glitter tatapan Dio memancar dan memuja Rindi. Hari ini bahkan Dio tidak bisa membandingkan kecantikan Rindi dengan apapun. Mau Dio bandingan dengan bidadari, tapi sayang dia belum pernah bertemu dengan bidadarinya.
Rindi pura-pura tidak mendengar ucapan Dio barusan, padahal dalam hati dia sudah senyum-senyum sendiri. Sudah cukup dengan ucapan Dio yang pertama membuat dia malu, kini ditambah lagi dengan ucapan maut yang kedua.
Lidia, sang nyonya rumah menghampiri Rindi. "Cantik banget kamu. Saat nanti masa idahmu selesai, Tante langsung lamar kamu jadi mantu. Takut banget tante kalau dilama-lamakan lagi keduluan yang lain."
"TIDAK BOLEH!" Vira berteriak marah.
Semua orang menatap ke arah Vira saat mendengar teriakannya, kecuali Dio yang seolah tidak terganggu sama sekali dengan apapun di sekelilinginya dan malah anteng menatap Rindi.
"Aku hamil anaknya kak Dio, bagaimana bisa Tante malah akan melamar wanita lain untuknya. Apa Tante bukan seorang ibu? Jelas Tante tahu, bagaimana sedihnya anak aku nantinya bila lahir tanpa seorang ayah." Vira merubah suaranya menjadi teramat menyedihkan, berharap bisa menarik simpati semua orang terutama Dio.
Dio melirik kecil, salah satu sudut bibirnya tertarik sehingga menciptakan seringaian mengerikan. Namun, walaupun begitu itu tetap membuat Vira menahan napas karena terpesona dengan wajah rupawan Dio yang tidak main-main tampannya. "Bukankah kamu ingin bunuh diri? Lakukan saja! Jadi anakmu tidak perlu lahir dan merasa sedih karena lahir tidak mempunyai ayah."
"KURANG AJAR!" Ibu Vira meraung. Tatapan setajam pisau dia layangkan pada Dio, lalu dia menggulirkan tatapannya pada Fernando dan Lidia. "Apa begini cara kalian mendidik anak? Tidak bertanggung jawab. Saya akan tuntut anak sulung kalian."
Fernando dan Lidia langsung menoleh dengan wajah masam, menatap ibunya Vira yang baru saja menghinanya.
"Mamah," Alatas mendesis rendah sambil mengusap keringat dingin di dahinya. Matanya menyorot tajam sang istri untuk memperingati agar tidak bicara sembarangan. Saat ini harapannya agar Fernando tidak memutuskan kerja samanya makin tipis. Kalau sampai perusahaan Fernando menarik saham di perusahaannya, sudah dipastikan dia akan gulung tikar.
Alatas sudah sangat yakin kalau yang berbohong di sini adalah putrinya. Dia tahu secinta apa putrinya itu pada Dio, bahakan Vira sering meminta dirinya untuk menjodohkan dia dengan Dio, tapi usul itu langsung ditolaknya saat dia mengingat Dio tidak pernah menyukai Vira sedikitpun.
Dio selalu menghindar, menatap Vira saja seperti enggan. Kalau begitu, lalu nagaimana bisa Alatas menjodohkannya dengan Vira. Ditambah saat ini Dio begitu jelas memuja gadis cantik yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan anaknya, jelas sudah kalau Vira tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Dio.
"Mamah, Vira, ayo kita pulang." Alatas berbisik pada istri dan anaknya.
"Enggak, Pa. Aku gak mau sebelum kak Dio mau nikahin aku." Vira menolak mentah-mentah usulan sang papa.
"Iya, Mamah setuju." Sang ibu juga ikut mendukung keputusan putrinya.
Alatas semakin gusar. Kenapa mereka sangat keras kepala? Ingin sekali Alatas berteriak, 'DASAR BODOH!', pada akhirnya Alatas hanya dapat mengacak rambutnya kasar.
Sebenarnya Lidia juga mulai meragukan pengakuan Vira. Terlihat sekali anaknya tidak bisa menatap wanita lain kecuali Rindi, tapi masa iya Vira mau mencoreng muka pada wajahnya sendiri dengan mengaku hamil di luar nikah?
"Berapa bulan kehamilanmu?" Rindi bertanya ingin memastikan sesuatu.
"Em-empat bulan." Vira menjawab ragu.
"O," Rindi membulatkan mulut. Dia melirik perut Vira yang memang agak buncit, dia tahu Vira tidak bohong soal kehamilnnya. "Tes DNA saja!"
Vira menyeringai senang, "boleh, kita tes DNA anak ini setelah lahir nanti, tapi dengan syarat sekarang aku mau kak Dio untuk tanggung jawab dengan nikahin aku. Aku tidak berbohong saat bilang kalau anak ini adalah anaknya kak Dio, jadi tidak ada salahnya kita menikah sekarang. Toh sekarang atau nanti pun sama saja, karena hasil tes DNA pasti membuktikan positif."
Vira sangat bahagia. Bila dia menikah sekarang dengan Dio, dia akan membuat Dio jatuh cinta padanya selama kehamilannya. Masalah nanti setelah anaknya lahir, dia akan memikirkannya rencana lagi. Dia yakin kalau Dio sudah mencintainya, kesalahan apapun pasti akan termaafkan.
Rindi menopang dagu dengan memasang senyum guyon, mengalihkan perhatiannya dari Vira pada Dio."Mas Dio."
Dio tersenyum, "ya?"
"Uang Mas Dio banyak?" Rindi bertanya masih dengan suara sebelumnya.
Dio mengangguk. "Ya."
"Koneksi Mas Dio luas?" Lagi Rindi bertanya.
"Ya." Dio mengangguk.
Rindi menatap Vira, "kamu tahu tidak kalau jaman sudah canggih?"
"Kenapa?" Vira menjawab santai. Letupan bahagia masih membayanginya. Dia akan sangat berterima kasih pada Rindi walau rivalnya saat sekolah dulu, karena sudah mengusulkan mengenai tes DNA ini.
Alatas semakin pucat.
Rindi menyeringai, "tes DNA pada masa hamil sudah dapat dilakuakan mulai usia kandungan 10-12 bulan. Bahkan, dapat keluar hasilnya dalam satu hari."
"A-apa?" Vira tergagap terkejut.
Brak
Alats jatuh terduduk saking tremornya punya kaki begitu mendengar ucapan Rindi yang terakhir kali.
***